Rabu, 01 November 2017

SIFAT-SIFAT ALLAH DAN PEMBAGIANNYA



Secara umum,sifat-sifat Allah ada tiga yaitu sifat wajib,sifat mustahil,dan sifat jaiz. Ketiga sifat ini wajib diketahui dan di yakini oleh seorang mukmin.
A.      Sifat Wajib dan Mustahil  Allah S.w.t.
Kita akan pelajari sifat wajib Allah dan mustahil-Nya secara bersamaan. Karena pada dasarnya,sifat mustahil adalah kebalikan dari sifat wajib.
a). Pengertian dan Sifat-Sifat Wajib serta Mustahil Allah
      Yang dimaksud sifat wajib Allah s.w.t.ialah sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah s.w.t. yang sesuai dengan keagungan-Nya sebagai Pencipta alam seisinya.Sedangkan sifat mustahil Allah adalah kebalikan dari sifat wajib Allah,yaitu sifat yang tidak mungkin ada dan tidak layak disandarkan pada Dzat-Nya sebagai Pencipta alam semesta. Sifat-sifat wajib dan mustahil Allah adalah sebagai berikut:
1.      Wajib              : Wujud artinya ada
Mustahil         : Adam artinya tidak ada
Adanya Allah S.w.t..dapat dibuktikan dengan adanya alam ini. Semua barang yang ada di lingkungan kita pasti ada yang membuat. Adanya meja ada yang membuat yaitu Tukang. Adanya baju atau pakaian karena dibuat oleh penjahit. Alam ini pasti ada yang membuat dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Allah S.w.t.berfirman dalam Q.S Ali Imron:2
ª!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd yÛø9$# ãPqs)ø9$# ÇËÈ  
 Artinya :    ”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.
2.      Wajib              : (Qidam)  artinya Terdahulu
Mustahil         : Fana’ artinya Rusak
Akal sehat mengatakan bahwa tukang kayu lebih dahulu ada daripada meja yang  dibuatnya. Allah S.w.t..adalah pencipta alam semesta, Dia  lebih dahulu ada sebelum alam ini ada. Firman Allah Q.S. Al-Hadid ayat 3 .
uqèd ãA¨rF{$# ãÅzFy$#ur ãÎg»©à9$#ur ß`ÏÛ$t7ø9$#ur ( uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« îLìÎ=tæ ÇÌÈ  
 Artinya :”Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin;  dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S.Al Hadiid 3)”
3.      Wajib              : Baqa’ artinya Berbeda dengan Makhluk
Mustahil         : artinya serupa dengan Makhluk
Semua makhluk ciptaan Allah S.w.t..akan rusak, sedangkan Dia sebagai pencipta  tidak akan rusak. Allah S.w.t..akan kekal selamanya dan Dia tidak akan pernah mati.  Firman Allah S.w.t. dalam Q.S Ar-Rahman :27 .
4s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ  
Artinya : “dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
4.      Wajib             : Mukhalafatu lil Hawaditsi artinya Berbeda dengan Makhluk
Mustahil         : Mumatsalatu lil Hawaditsi artinya serupa dengan Makhluk
Allah S.w.t..memiliki sifat yang sempurna dan istimewa. Sifat Allah S.w.t.. berbeda  dengan sifat makhluk-Nya. Allah S.w.t..berfirman
}§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäïx« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ  
Artinya : ”tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”.
5.      Wajib              : Qiyamuhu Binafsihi artinya Berdiri Sendiri
Mustahil         : Ihtiyaju Lighhoirihi artinya Butuh Kepada yang Lain
Allah S.w.t..sebagai pencipta alam adalah Maha kuasa. Dia tidak memerlukan  bantuan dari kekuatan lain karena mempunyai kekuatan yang ada pada diri-Nya. Firman Allah S.w.t. . Q.S Al-Ankabuut: 6
`tBur yyg»y_ $yJ¯RÎ*sù ßÎg»pgä ÿ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 4 ¨bÎ) ©!$# ;ÓÍ_tós9 Ç`tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÏÈ  
“… dan Barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.
6.      Wajib              : Wahdaniah artinya Esa
Mustahil         : Ta’addud artinya berbilang
Manusia dituntut untuk meyakini bahwa wujud Allah Maha Esa (satu). Firman Allah S.w.t..
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ  
Artinya : ”Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa  (Q.S. 112 Al Ikhlash 1)
öqs9 tb%x. !$yJÍkŽÏù îpolÎ;#uä žwÎ) ª!$# $s?y|¡xÿs9 4 z`»ysö6Ý¡sù «!$# Éb>u ĸöyèø9$# $£Jtã tbqàÿÅÁtƒ ÇËËÈ  
Artinya : “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa Q.S.Al Anbiyaa' 22


7.      Wajib              : Qudrat artinya Kuasa
Mustahil         : ’Ajzun artinya Lemah
Manusia dapat berkuasa, tetapi kekuasaannya sangat terbatas. Manusia tidak  akan dapat mempertahankan dirinya untuk tetap hidup . Kuasa Allah S.w.t..di atas  segala-galanya. Allah S.w.t..berfirman :
4 žcÎ) ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÉÈ  
    Artinya:” Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
(Q.S. 2 Al Baqarah 20)
8.      Wajib              : Iradah artinya Berkehehdak
Mustahil         : Karahah artinya Terpaksa
Manusia mempunyai kehendak, tetapi banyak yang tidak terlaksana. Kehendak Allah S.w.t..pasti terlaksana karena Dia Maha Kuasa. Jika Allah S.w.t..berkehendak, tidak satu pun yang dapat menolak. Allah S.w.t..mempunyai kemauan dan kehendak  sendiri dalam menciptakan alam semesta. Dia tidak akan pernah diperintah dan  diatur pihak lain. Firman Allah S.w.t..:
!$yJ¯RÎ) ÿ¼çnãøBr& !#sŒÎ) yŠ#ur& $º«øx© br& tAqà)tƒ ¼çms9 `ä. ãbqä3uŠsù ÇÑËÈ 
Artinya :”Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu  hanyalah  berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.(Q.S.Yaa siin 82)
9.      Wajib              : ‘Ilmun artinya Mengetahui
Mustahil         : Jahlun artinya Bodoh
Akal sehat pasti mengakui bahwa orang yang membuat sesuatu pasti mengetahui sesuatu yang akan dibuat. Allah S.w.t..adalah pencipta alam ini dan Dia mengetahui  semua ciptaan-Nya .Firman Allah S.w.t. . :
4 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ÒOÎ=tã ÇÊÏÈ  
Artinya : ” dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S.  Al Hujuraat 16)

10.  Wajib              : Hayat artinya Hidup
Mustahil         : Mautun artinya Mati
Seluruh kehidupan makhluk tunduk kepada Allah S.w.t..Dia yang mengatur semua kehidupan makhluk hidup. Allah S.w.t..tidak akan mati dan Dia kekal selamanya .Allah S.w.t.berfirman :
اللهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوم
Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (Q.S. 3 Ali 'Imran 2)
11.  Wajib              : Sama’ artinya Mendengar
mustahil          : Shummun artinya Tuli
Tidak ada suatu yang tidak didengar oleh Allah S.w.t..Walaupun jumlah suara manusia ratusan juta, semua akan didengar oleh Allah S.w.t.Allah S.w.t..berfirman:
إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al Hujuraat 1)
12.  Wajib              : Bashar artinya Melihat
mustahil          :  ’Umyun artinya Buta
Allah melihat segala sesuatu, baik yang besar maupun yang kecil, bahkan yang tersembunyi, tanpa bantuan alat untuk melihat. Penglihatan Allah tidak ada batasnya. Teknologi manusia yang paling canggih pun tidak mungkin dapat mengimbangi penglihatan Allah. Firman Allah S.w.t.:
      إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Artinya: ” Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. 17 Al Israa' :1)
13.  Wajib              : Kalam artinya Berfirman
mustahil          : Bukmun artinya Bisu
Kalam  berarti Allah S.w.t..berbicara melalui firman-Nya yang berupa wahyu. Allah S.w.t. berfirman :”      وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيماً
Artinya:” Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Q.S. 4 An Nisaa' 164)
Dari sifat yang 13 itu,para ulama’ menambahkan 7 sifat yang merupakan penguat dari 7 sifat yang terakhir (qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam). Sehingga sifat-sifat Allah yang wajib dan mustahil menjadi 20 sifat. Sifat-sifat itu adalah :
14.  Wajib              : Qadiran artinya yang Maha Kuasa          
Mustahil         : ’Ajizan artinya yang lemah
                 Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha kuasa atas segala sesuatu.
15.  Wajib              : Muridan artinya yang Maha berkehendak
Mustahil         : Mukrahan artinya yang terpaksa
Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.
16.  Wajib              : ‘Aliman artinya yang Maha Mengetahui
Mustahil         : Jahilan artinya yang Bodoh
Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu.
17.  Wajib              : Hayyan artinya Yang Maha Hidup
Mustahil         : Mayyitan artinya yang Mati
Sesungguhnya Allah Zat Yang Mahahidup, hidup selamnya dan tidak akan mati.
18.  Wajib              : Sami’an artinya Maha Mendengar
Mustahil         : . Ashommu artinya yang Tuli 
    Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Mendengar atas segala sesuatu.
19.  Wajib              : Bashiran artinya Yang Maha Melihat
Mustahil         : A’ma artinya yang Buta .
Sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Melihat atas segala sesuatu
20.  Wajib              : Mutakalliman artinya Yang Maha Berfirman
Mustahil         : Abkam artinya yang Bisu
      Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Berkata-kata atau Maha Berfirman.
b). Pembagian Sifat-sifat Wajib Bagi Allah
Dua puluh sifat di atas tersebut dikelompokkan menjadi 4 kelompok sebagai berikut :
1.    Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah S.w.t..semata.Sifat nafsiyah ini ada satu, yaitu wujud. (وُجُوْد )
2.    Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan patut bagi Allah s.w.t, sebab Allah Maha sempurna dan tidak memiliki kekurangan. Atau bisa diartikan sifat salbiyah ini hanya dimilki oleh Allah dan tidak dimiliki oleh makhlukNya
 Sifat salbiyah ini ada lima, yaitu :
         1. Qidam                              ( قِدَامْ  )
         2. Baqa’                                (بَقَاء   )
         3. Mukhalafatu lil hawaditsi ( مُخَالَفَةُ لِلحَوَادِثِ )
         4. Qiyamuhu binafsihi          ( قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ )
         5. Wahdaniyyah                   (وَحْدَانِيَّة )
3.   Sifat Ma’ani, yaitu sifat yang ada pada dzat Allah yang sesuai dengan kesempurnaan Allah. Karena keberadaan sifat inilah nantinya muncul sifat ma’nawiyah. Yang termasuk sifat ma’ani ada tujuh, yaitu :
1. Qudrat ( قُدْرَة   )
2. Iradat   ( اِرَا دَة   )
3. ‘Ilmu     ( عِلْمُ  )
4. Hayat    ( حَيَا ة)
5. Sama’   ( سَمَع  )
6. Bashar   ( بَصَرْ  )
7. Kalam  (كَلاَ م   )
Sifat-sifat ma’ani ini adalah sifat-sifat yang juga dimiliki oleh makhluk. Bedanya,jika yang memiliki sifat ini  Allah maka sifat ini tidak tebatas,sedangkan jika yang memiliki sifat ini makhluk,maka sifat ini terbatas. Contohnya : Allah Maha hidup artinya selamanya dan tidak akan mati. Sedangkan makhluk-Nya juga hidup,tapi suatu saat akan mati
4.   Sifat Ma’nawiyah, yaitu sifat yang selalu tetap ada pada dzat Allah dan tidak mungkin pada suatu ketika Allah tidak bersifat demikian. Jumlah sifat ma’nawiyah sama dengan jumlah sifat ma’ani, yaitu :
         1. Qadiran           ( قَادِرًا   )       
2. Muridan           ( مُرِيْدًا  )           
3. ’Aliman            ( عَا لِمَاً )
4. Hayyan            ( حَيًّا   ) 
5. Sami’an           ( سَمِيْعًا               
6. Basiran            ( بَصِيْرًا  )
7. Mutakalliman   ( مُتَكَلِّمًا  )
Sifat-sifat ini sebagai penguat dari sifat-sifat ma’ani Allah. Dengan demikian, sifat ma’ani Allah dan ma’nawiyah-Nya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya,sebab setiap ada sifat ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah. Dengan kata lain,sifat ma’anawiyah Allah menggambarkan keberadaan dan Dzat Allah yang terus menerus memiliki sifat ma’ani. Jika disebutkan Allah bersifat  Qudrat (Kuasa),artinya secara otomatis Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan akan tetap seperti itu tanpa ada batasnya.
B.            Sifat Jaiz Bagi Allah S.w.t.
Sifat jaiz Allah S.w.t.berarti  sifat kebebasan Allah, yakni kebebasan yang dimiliki-Nya sebagai Tuhan semesta alam. Sifat jaiz Allah S.w.t..ialah kebebasan untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya yang mutlak.
فِعْلُ كُلِّ مُمْكِن اَوْتَرْكُهُ
Artinya: ”Memperbuat segala seseuatu yang mungkin terjadi atau tidak memperbuatnya. Firman Allah S.w.t. :
وَاللهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya:”Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”  (Q.S. 2 Al Baqarah 284)
Berikut ini kebebasan-kebebasan mutlak yang dimiliki Allah S.w.t..
a.      Kebebasan untuk Mencipta atau Tidak Mencipta Sesuatu
Allah S.w.t..berfirman
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
Artinya :”Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.  Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia) (Q.S. 28 Al Qashash 68)
Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang hendak diocipta Allah S.w.t..tergantung pada kehendak-Nya semata. Dia memilih sesuatu sesuai kehendak-Nya dan tidak ada pihak lain yang dapat mempengaruhi-Nya.
Makhluk tidak mempunyai wewenang untuk memilih dan tidak dapat menolak kehendak Allah S.w.t. jika Allah menghendaki laki-laki, jadilah laki-;laki, demikian pula sebaliknya. Manusia hanya diberi hak untuk memohon kepada-Nya. Jika Allah S.w.t..mengabulkan, jadilah apa yang dikehendaki manusia. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki, apa pun yang diinginkan manusia tidak akan terjadi.
Allah S.w.t..berfirman Q.S. 24 An Nuur 45:
ª!$#ur t,n=y{ ¨@ä. 7p­/!#yŠ `ÏiB &ä!$¨B ( Nåk÷]ÏJsù `¨B ÓÅ´ôJtƒ 4n?tã ¾ÏmÏZôÜt/ Nåk÷]ÏBur `¨B ÓÅ´ôJtƒ 4n?tã Èû÷,s#ô_Í Nåk÷]ÏBur `¨B ÓÅ´ôJtƒ #n?tã 8ìt/ör& 4 ß,è=øƒs ª!$# $tB âä!$t±o 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇÍÎÈ  
45. dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
b.      Kebebasan untuk Mengatur Semua Makhluk Sesuai yang Dia Kehendaki
Kebebasan Allah dalam mengatur semua makhluk telah ditegaskan dalam firman-Nya yang sekaligus merupakan tuntunan doa bagi kita. Firman Allah S.w.t.:
È@è% ¢Oßg¯=9$# y7Î=»tB Å7ù=ßJø9$# ÎA÷sè? šù=ßJø9$# `tB âä!$t±n@ äíÍ\s?ur šù=ßJø9$# `£JÏB âä!$t±n@ Ïèè?ur `tB âä!$t±n@ AÉè?ur `tB âä!$t±n@ ( x8ÏuŠÎ/ çŽöyø9$# ( y7¨RÎ) 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÏÈ
Artinya:Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan   kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau  kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang  yang Engkau kehendaki. Di Tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Q.S. 3 Ali 'Imran 26)                      

Perhatikan bagan pembagian sifat-sifat Allah berikut :
























AKIDAH ISLAM



A.    Pengertian Akidah Islam
Akidah secara bahasa berasal dari kata (يَعْقِدُ- عَقِيْدَةٌ عقَدَ-) yang berarti ikatan, atau perjanjian. Secara istilah adalah keyakinan hati atas sesuatu. Kata ‘akidah’ tersebut dapat digunakan untuk ajaran yang terdapat dalam Islam, dan dapat pula digunakan untuk ajaran lain di luar Islam. Sehingga ada istilah akidah Islam, akidah Nasrani, akidah Yahudi,dan akidah-akidah yang lainnya. Dengan begitu kita juga bisa simpulkan ada akidah yang benar atau lurus dan ada akidah yang sesat atau salah. Dengan begitu juga, Akidah Islam (al-akidah al-Islamiyah) bisa diartikan sebagai pokok-pokok kepercayaan yang harus diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang mengaku dirinya beragama Islam (muslim).
Berbicara tentang akidah, yang paling pertama dan utama adalah konsep ketuhanan, baru kemudian konsep-konsep akidah yang lainnya yang sesuai dengan keinginan Allah itu sendiri melalui firman-firmanNya dalam al-Qur’an dan hadis-hadis nabiNya. Ketika seseorang berakidah Islam, maka pondasi awal untuk  membangun akidah/ keyakinannya adalah keyakinan terhadap Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah, Maha Esa, Pencipta dan Pengatur alam semesta, dan Dzat Ghaib yang merupakan sumber dari segala hal, termasuk juga kewajiban menjalankan aturan-aturanNya dalam segala aspek kehidupan baik yang berhubungan dengan ibadah ataupun muamalah yang erat hubungannya dengan interaksi dengan sesama makhluk. Oleh karenanya, misi pertama yang diemban oleh tiap rosul untuk disampaikan kepada umat manusia adalah konsep ketuhanan ini. Sebagaimana firman Allah s.w.t.dalam Q.S. an-Nahl:36
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (٣٦)
”dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.(Q.S. an-Nahl:36)
Begitulah, konsep ketuhanan yang harus diyakini oleh seseorang yang mengaku berakidah Islam, mentauhidkanNya tanpa ada keraguan sedikitpun didalamnya.
B.     Dasar-Dasar Akidah Islam
Akidah Islam adalah sesuatu yang bersifat tauqifi, artinya suatu ajaran yang hanya dapat ditetapkan dengan adanya dalil dari Allah dan Rasul-Nya. Maka, sumber ajaran akidah Islam adalah terbatas pada al-Quran dan Sunnah saja. Karena, tidak ada yang lebih tahu tentang Allah kecuali Allah itu sendiri,kemudian Rasulullah s.a.w. selaku pengemban wahyu dari Allah s.w.t.

a.      Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah firman Allah Swt.yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.dengan perantara Malaikat Jibril. Melalui al-Qur’an inilah Allah menuangkan firman-firmanNya berkenaan dengan konsep akidah yang benar yang harus diyakini dan dijalani secara mutlak dan tidak boleh ditawar oleh semua umat Islam. Di dalam al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berisi tentang tauhid, diantaranya adalah Q.S. al-Ikhlas ayat 1-4 di atas,dan masih banyak lagi yang lain diantaranya:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١) اللَّهُ الصَّمَدُ (٢)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤)
Katakanlah:  (1) "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. (2) Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. (3) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. (4) dan tidak ada suatu apapun yang setara dengan Dia." (Q.S. al-Ikhlas:1-4)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا (١٣٦)
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”.(an-Nisa’:136)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menerangkan tentang akidah jika kaita mau mengkajinya lebih dalam.
b.      Al-Hadis
Hadits ialah segala ucapan , perbuatan, dan takrir (sikap diam) Nabi Muhammad s.a.w. Islam telah menegaskan bahwa hadits menjadi hukum Islam kedua (setelah Al-Qur’an), baik sumber hukum dalam akidah maupun dalam semua persoalan hidup. Hal ini dikarenakan semua yang disandarkan kepada nabi adalah wahyu dari Allah, bukan sekedar memperturutkan nafsu saja. Sebagaimana firman Allah s.w.t. :
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)
“ dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).(Q.S. an-Najm:3-4)
مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٧)
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang  dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah “(Q.S. 59 Al Hasyr:7)
Itulah dasar perintah mengikuti Rosulullah s.a.w. melalui hadis-hadisnya.
Adapun hadis-hadis yang menjelaskan tentang akidah adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ
Dari Abu Hurairah r.a. berkata; bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari bersama dengan para sahabat, lalu datang Malaikat Jibril 'Alaihis Salam yang kemudian bertanya: "Apakah iman itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari berbangkit".(H.R. Bukhori)
قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا وَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Ibnu Numair berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka." Dan aku berkata, "Saya dan orang yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun (niscaya) masuk surga” (H.R. Muslim)."
jika kita cermati beberapa hadis di atas, maka kita akan temui bahwa isinya tidak ada yang menyalahi isi dari al-Qur’an dalam hal ini berkaitan dengan akidah yang secara umum disebut dengan keimanan. Hal ini semakin memperkuat keyakinan kita bahwa hadis adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an yang harus dipedomani oleh umat Islam baik dalam hal akidah ataupun yang lainnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.
C.    Tujuan Akidah Islam
Akidah Islam harus menjadi pedoman bagi setiap muslim. Artinya setiap umat Islam harus meyakini dan menjalankan pokok-pokok kandungan akidah Islam tersebut dengan tujuan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat dan mendapatkan ridlo dari Allah s.w.t. tentunya.dengan demikian berarti mempelajari pokok-pokok kandungan akidah Islam adalah kewajiban bagi umat Islam dengan tujuan seabagi berikut:
1)    Mengetahui petunjuk hidup yang benar serta dapat membedakan yang benar dan yang salah.
2)      Memupuk dan mengembangkan dasar ketuhanan yang ada sejak lahir.
Manusia adalah makhluk yang berketuhanan. Sejak dilahirkan manusia cenderung mengakui adanya Tuhan . Dengan naluri berketuhanan, manusia berusaha untuk mencari Tuhannya. Kemampuan akal dan ilmu  yang berbeda-beda memungkinkan manusia akan keliru mengenal Tuhan. Dengan akidah Islam, naluri atau kecenderungan manusia akan keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa dapat berkembang dengan benar.
3)      Memelihara manusia dari kesyirikan.
Untuk mencegah manusia darikesyirikan perlu adanya tuntunan yang jelas tentang kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kemungkinan manusia terperosok ke dalam kesyirikan selalu terbuka, baik syirik jaly (terang-terangan) berupa perbuatan, maupun syirik khafy (tersembunyi) di dalam hati. Dengan mempelajari Akidah Islam, manusia akan terpelihara dari perbuatan syirik.
4)      Menghindari diri dari pengaruh akal pikiran yang menyesatkan.
Manusia diberi kelebihan oleh Allah dari makhluk lainnya berupa akal pikiran. Pendapat-pendapat atau faham-faham yang semata-mata didasarkan atas akal manusia, kadang-kadang menyesatkan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, akal pikiran perlu dibimbing oleh  akidah Islam agar manusia terbebas atau terhindar dari kehidupan yang sesat.
D.    Hubungan Iman, Islam, dan Ihsan
Ada tiga unsur pokok dalam akidah Islam yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Artinya, jika sesorang mengaku berakidah Islam atau lebih mudahnya dia mengaku sebagai muslim,maka harus ada tiga unsur pokok ini didalam dirinya yaitu islam, iman,dan ihsan. ketiganya mempunyai hubungan yang sangat erat. Untuk mengetahui hubungannya, perlu diketahui terlebih dahulu pengertian ketiganya.
a.      Islam
Kata Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu  أَسْلَمَ-يُسْلِمُ-إِسْلاَمًا yang artinya adalah patuh, tunduk, menyerahkan diri, selamat.
Sedang menurut istilah, Islam yaitu agama yang mengajarkan agar manusia berserah diri dan tunduk sepenuhnya kepada Allah. Tunduk atau berserah diri adalah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.Orang yang tunduk dan berserah diri kepada Allah disebut muslim.
b.      Iman
Menurut bahasa iman berarti percaya. Sedangkan menurut istilah iman adalah:
اَلإْيْمَانُ هُوَتَصْدِيْقٌ بِالْقَلْبِ وَاِقْرارٌ بِا للِّسَانِ وَعَمَلٌ بِاْلأَرْلكَانِ.
“Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan dilaksanakan dengan anggota badan (perbuatan).”
Jika seseorang sudah mengimani seluruh ajaran Islam , maka orang tersebut sudah  dapat dikatakan mukmin (orang yang beriman).  
c.       Ihsan
Ihsan berasal dari bahasa Arab : أَحْسَنَ-يُحْسِنُ-إِحْسَانًا yang berarti kebaikan.
Ihsan adalah perbuatan baik sebagai bentuk  penghambaan diri kepada Allah sebagai makhluk individu yaitu hubungannya dengan Allah maupun sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesama. Lebih lanjut disebutkan bahwa cara penghambaan diri ini harus senantiasa merasa melihat atau dilihat oleh Allah s.w.t. sebagaimana di sebutkan dalam hadis nabi s.a.w.: ' JIbril bertanya, 'Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu? ' Nabi menjawab menjawab: "Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Dengan demikian berbuat baik kepada Allah maupun sesama harus dilakukan setiap saat karena ada kontrol langsung dari Allah s.w.t.  Orang yang telah menerapkan hal ini disebut dengan muhsin.
Ketiga unsur pokok akidah Islam di atas tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya, bahkan ketiganya berkumpul dalam satu hadis panjang  yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin khattab r.a. sebagai berikut:
'Umar bin al-Khaththab berkata, 'Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sang at putih, rambutnya sang at hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalam, kemudian ia berkata, 'Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam? ' Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam menjawab: "Kesaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadlan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.' Dia berkata, 'Kamu benar.' Umar berkata, 'Maka kami kaget terhadapnya karena dia menanyakannya dan membenarkannya.' Dia bertanya lagi, 'Kabarkanlah kepadaku tentang iman itu? ' Beliau menjawab: "Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk." Dia berkata, 'Kamu benar.' Dia bertanya, 'Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu? ' Beliau menjawab: "Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." Dia bertanya lagi, 'Kapankah hari akhir itu? ' Beliau menjawab: "Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya." Dia bertanya, 'Lalu kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya? ' Beliau menjawab: "Apabila seorang budak melahirkan (anak) tuan-Nya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan." Kemudian dia bertolak pergi. Maka aku tetap saja heran kemudian beliau berkata; "Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut?" Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Beliau bersabda: "Itulah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian" . (H.R.Muslim)
Dari paparan di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa ketiganya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dalam menunjang akidah Islam. Iman sebagai bentuk keyakinan,Islam sebagai bentuk ibadah,dan Ihsan sebagai bentuk perbuatan baik kepada Allah maupun kepada sesama. Lebih dalam lagi bisa kita simpulkan bahwa seorang mukmin bisa membuktikan keimanannya dengan menunjukkan keislamannya dan dan keihsanannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa mendapat petunjuk dalam menjalankan akidah Islam secara utuh dan tanpa keraguan. Memilki keimanan yang kuat dengan cara menampilkannya dalam bentuk menjalankan rukun Islam dengan benar dan memiliki keihsanan yang sempurna dalam kehidupan. Dan akhirnya,kita akan mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat dalam naungan ridloNya.