Jumat, 17 Maret 2017

BERIMAN KEPADA QADLA DAN QADAR






A.      PENGERTIAN IMAN KEPADA QADLA DAN QADAR
1.      Pengertian
Qadha dan Qadar Menurut bahasa  Qadha memiliki beberapa pengertian yaitu: hukum, ketetapan,pemerintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan. Menurut istilah Islam, yang dimaksud dengan qadha adalah ketetapan Allah sejak zaman Azali sesuai dengan iradah-Nya tentang segala sesuatu yang berkenan dengan makhluk. Sedangkan Qadar arti qadar menurut bahasa adalah: kepastian, peraturan, ukuran. Adapun menurut Islam qadar perwujudan atau kenyataan ketetapan Allah terhadap semua makhluk dalam kadar dan berbentuk tertentu sesuai dengan iradah-Nya. Firman Allah:
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً

Artinya: yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS .Al-Furqan ayat 2).
Untuk memperjelas pengertian qadha dan qadar, berikut ini dikemkakan contoh. Saat ini Abdurofi melanjutkan pelajarannya di SMK. Sebelum Abdurofi lahir, bahkan sejak zaman azali Allah telah menetapkan, bahwa seorang anak bernama Abdurofi akan melanjutkan pelajarannya di SMK. Ketetapan Allah di Zaman Azali disebut Qadha. Kenyataan bahwa saat terjadinya disebut qadar atau takdir. Dengan kata lain bahwa qadar adalah perwujudan dari qadha.

2.      Hubungan antara Qadha dan Qadar
Pada uraian tentang pengertian qadha dan qadar dijelaskan bahwa antara qadha dan qadar selalu berhubungan erat . Qadha adalah ketentuan, hukum atau rencana Allah sejak zaman azali. Qadar adalah kenyataan dari ketentuan atau hukum Allah. Jadi hubungan antara qadha qadar ibarat rencana dan perbuatan.
Perbuatan Allah berupa qadar-Nya selalu sesuai dengan ketentuan-Nya. Di dalam surat Al-Hijr ayat 21 Allah berfirman, yang artinya sebagai berikut:  Dan tidak sesuatupun melainkan disisi kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.”
Orang kadang-kadang menggunakan istilah qadha dan qadar dengan satu istilah, yaitu
Qadar atau takdir. Jika ada orang terkena musibah, lalu orang tersebut mengatakan, ”sudah takdir”, maksudnya qadha dan qadar.



3.      Kewajiban beriman kepada dan qadar
Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih , rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya tentang Islam, Iman dan Ihsan. Tentang keimanan Rasulullah menjawab yang artinya: Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,rasul-rasulnya, hari akhir dan beriman pula kepada qadar(takdir) yang baik ataupun yang buruk. Lelaki tersebut berkata” Tuan benar”. (H.R. Muslim)
Lelaki itu adalah Malaikat Jibril yang sengaja datang untuk memberikan pelajaran agama kepada umat Nabi Muhammad SAW. Jawaban Rasulullah yang dibenarkan oleh Malaekat Jibril itu berisi rukun iman. Salah satunya dari rukun iman itu adalah iman kepada qadha dan qadar. Dengan demikian , bahwa mempercayai qadha dan qadar itu merupakan hati kita. Kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan adalah atas kehendak Allah.
Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan Allah atas diri kita. Di dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman yang artinya: ” Siapa yang tidak ridha dengan qadha-Ku dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana-Ku yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari Tuhan selain Aku. (H.R.Tabrani)
Takdir Allah merupakan iradah (kehendak) Allah. Oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan keinginan kita, hendaklah kita beresyukur karena hal itu merupakan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Ketika takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka hendaklah kita terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin, bahwa di balik musibah itu ada hikmah yang terkadang kita belum mengetahuinya. Allah Maha Mengetahui atas apa yang diperbuatnya.

4.      Hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar
Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluknya. Berkaitan dengan qadha dan qadar, Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut yang artinya
Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaekat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupny) sengsara atau bahagia.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).
Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa nasib manusia telah ditentukan Allah sejak sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya.
Janganlah sekali-kali menjadikan takdir itu sebagai alasan untuk malas berusaha dan berbuat kejahatan. Pernah terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, seorang pencuri tertangkap dan dibawa kehadapan Khalifah Umar. ” Mengapa engkau mencuri?” tanya Khalifah. Pencuri itu menjawab, ”Memang Allah sudah mentakdirkan saya menjadi pencuri.”
Mendengar jawaban demikian, Khalifah Umar marah, lalu berkata, ” Pukul saja orang ini dengan cemeti, setelah itu potonglah tangannya!.” Orang-orang yang ada disitu bertanya, ” Mengapa hukumnya diberatkan seperti itu?”Khalifah Umar menjawab, ”Ya, itulah yang setimpal. Ia wajib dipotong tangannya sebab mencuri dan wajib dipukul karena berdusta atas nama Allah”.
Mengenai adanya kewajiban berikhtiar , ditegaskan dalam sebuah kisah. Pada zaman nabi Muhammad SAW pernah terjadi bahwa seorang Arab Badui datang menghadap nabi. Orang itu datang dengan menunggang kuda. Setelah sampai, ia turun dari kudanya dan langsung menghadap nabi, tanpa terlebih dahulu mengikat kudanya. Nabi menegur orang itu, ”Kenapa kuda itu tidak engkau ikat?.” Orang Arab Badui itu menjawab, ”Biarlah, saya bertawakkal kepada Allah”. Nabi pun bersabda, ”Ikatlah kudamu, setelah itu bertawakkalah kepada Allah”.
Dari kisah tersebut jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu, namun manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar. Kita tidak mengetahui apa-apa yang akan terjadi pada diri kita, oleh sebab itu kita harus berikhtiar. Jika ingin pandai, hendaklah belajar dengan tekun. Jika ingin kaya, bekerjalah dengan rajin setelah itu berdo’a. Dengan berdo’a kita kembalikan segala urusan kepada Allah kita kepada Allah SWT. Dengan demikian apapun yang terjadi kita dapat menerimanya dengan ridha dan ikhlas.
Mengenai hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar ini, para ulama berpendapat, bahwa takdir itu ada dua macam :
v  Takdir mua’llaq ((Qadla Mua’llaq)
Yaitu  takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Contoh seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi insinyur pertanian. Dalam hal ini Allah berfirman:
Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. ( Q.S Ar-Ra’d ayat 11)


v  Takdir mubram (qadla Mubram)
Yaitu  takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan atau tidak dapat di tawar-tawar lagi oleh manusia. Contoh. Ada orang yang dilahirkan dengan mata sipit , atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan sebagainya.

Hikmah Beriman kepada Qada dan qadar
Dengan beriman kepada qadha dan qadar, banyak hikmah yang amat berharga bagi kita dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Hikmah tersebut antara lain:
1.        Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apabila mendapat keberuntungan, maka ia akan bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri. Sebaliknya apabila terkena musibah maka ia akan sabar, karena hal tersebut merupakan ujian
Firman Allah:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Artinya:”dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan bila ditimpa oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan.
( QS. An-Nahl ayat 53).
2.        Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, apabila memperoleh keberhasilan, ia menganggap keberhasilan itu adalah semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Ia pun merasa dirinya hebat. Apabila ia mengalami kegagalan, ia mudah berkeluh kesah dan berputus asa , karena ia menyadari bahwa kegagalan itu sebenarnya adalah ketentuan Allah.
Firman Allah SWT:
يَا بَنِيَّ اذْهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ                                                                                                   

Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS.Yusuf ayat 87)

Sabda Rasulullah: yang artinya” Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya ada sebiji sawi dari sifat kesombongan.”( HR. Muslim)

3.        Memupuk sifat optimis dan giat bekerja
Manusia tidak mengetahui takdir apa yang terjadi pada dirinya. Semua orang tentu menginginkan bernasib baik dan beruntung. Keberuntungan itu tidak datang begitu saja, tetapi harus diusahakan. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa optimis dan giat bekerja untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan itu.
Firaman Allah:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ                                                                             
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al- Qashas ayat 77)

4.        Menenangkan jiwa
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senangtiasa mengalami ketenangan jiwa dalam hidupnya, sebab ia selalu merasa senang dengan apa yang ditentukan Allah kepadanya. Jika beruntung atau berhasil, ia bersyukur. Jika terkena musibah atau gagal, ia bersabar dan berusaha lagi.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ -٢٧- ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً -٢٨- فَادْخُلِي فِي عِبَادِي -٢٩- وَادْخُلِي جَنَّتِي -                                                                                                 -

Artinya : Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam sorga-Ku.( QS. Al-Fajr ayat 27-30)


B.       BUKTI/DALIL KEBENARAN AKAN ADANYA QADA DAN QADAR

Ø  Bukti Kebenaran adanya Qada dan Qadar
Sampai saat ini masih ada orang yang tidak percayaakan kebenaran qada dan qadar Allah SWT. merekaberpandangan bahwa hidup dan mati, sukses dan gagal, bahagia dan menderita, miskin dan kaya, bukan ditentukan oleh Allah SWT. melainkan oleh kerja keras manusia itu sendiri. Bagi yang rajin bekerja dan pandai bergaul, niscaya hidupnya akan sukses dan bahagia, tetapi bagi mereka yang malas dan kurang pergaulannya, hidupnya pasti menderita dan sengsara. Menurut mereka Tuhan tidak pernah campur tangan atas hamba-Nya, dalam bentuk apa pun. Manusialah yang dapat menentukan dirinya mau sukses atau gagal. Pendapat yang demikian itu, sungguh keliru dan salah besar.sebab buktinya, kita dapat menyaksikan betapa banyak orang yang bekerja membanting tulang, tidak mengenal siang dan malam, pergi pagi pulang petang, tidak takut angin dan hujan, namun hidupnya tetap kekurangan, hidunya ada dalam kemiskinan dan penderitaan. 
Kenyataan seperti ini banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat dijadikan bukti bahwa ada kekuasaan lain di luar kekuasaan manusia. Meskipun Allah telah menetapkan qada dan qadar bagi manusia pada zaman azali namun kita selaku umat Muslim, dituntut untuk selalu berikhtiar dengan sekuat tenaga untuk menentukan nasib kita, baik atau buruknya disertai dengan berdoa kepada Allah SWT. agar usaha kita berhasil. Setelah berusaha dan berikhtiar dengan sekemampuan kita, hasilnya kita tawakkal kepada Allah.

Ø  Dalil kebenaran akan adanya qada dan qadar 
Banyak ayat Al-Qur’an yang mejelaskan qada dan qadar Allah SWT. di antaranya sebagai berikut :


a. Firman Allah surat Al-Hadid ayat 22:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya : “setiap bencana  yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid : 22)

b. Firman Allah surat Al-Furqan ayat 2 :
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً

Artinya: “Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuranukurannya dengan serapi-rapinya” (QS. Al-Furqan : 2)

c. Firman Allah surat An-Nisa ayat 79 :

مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً وَكَفَى بِاللّهِ شَهِيداً

Artinya: “Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa : 79)
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa apa pun yang terjadi di muka bumi ini, dan atau menimpa diri seseorang telah ditentukan Allah sebelumnya. Artinya, segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini merupakan taqdir allah SWT., yang tidak seorang pun dapat mengetahuinya, dan tidak ada pula yang   dapat menolaknya. Qada dan qadar sepenuhnya merupakan hak prerogative Allah SWT., tidak seorang pun yang dapat mengetahui atau menghindarinya. Oleh sebab itu, manusia wajib berusaha dengan sekuat tenaga, berdoa dengan sepenuh hati, dan diiringi dengan keyakinan bahwa Allah SWT. tidak akan menganiaya hamba-hambanya. 

C.       TANDA DAN PERISTIWA YANG BERHUBUNGAN DENGAN ADANYA QADA    DAN QADAR

1. Tanda-tanda adanya qada dan qadar Allah
Sesungguhnya, sangat banyak tanda-tanda yang berhubungan dengan adanya qada dan qadar Allah   SWT. akan tetapi manusia seringkali salah menafsirkan qada dan qadar Allah SWT. Oleh sebab itu, hendaknya kita kenali beberapa tanda yang berhubungan dengan qada dan qadar Allah SWT. sebagai berikut :
a.    Qada dan qadar Allah tidak diketahui oleh siapa pun, kecuali Allah SWT. sendiri.
b.    Qada dan qadar Allah terkadang berjalan seiring dengan  harapan manusia, dan kadang-kadang bertentangan dengan cita-cita dan harapan manusia.
c.    Qada dan qadar Allah  mempunyai garis dan arahnya sendiri, tidak mengikuti garis dan keinginan manusia.
d.    Qada dan qadar Allah mampu memaksa dan mematahkan keinginan dan harapan manusia.
e.    Qada dan qadar Allah merupakan hak paten dan prerogative Allah, tak seorang pun mampu diri kita sendiri. Qada dan qadar Allah akan terus berjalan atas hamba-hamba-Nya. Apa pun yang menjadi harapan manusia, belum tentu sama dengan harapan Allah SWT. maka yang terjadi sesuatu yang bertentangan dengan harapan itu sendiri.
mengintervensi atau turut campur atas ketentuannya.

2. Peristiwa yang berhubungan dengan qada dan qadar Allah

Untuk memperjelas pemahaman tentang Qadha dan Qadar, berikut ini  disajikan beberapa contoh peristiwa sebagai berikut:
¨       Allah berkehendak menciptakan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Ketetapan ini sebagai qadha-Nya. Untuk mewujudkan kehendak-Nya, Allah membekali ciptaan-Nya tersebut dengan akal pikiran. Namun demikian manusia tetap memiliki kemampuan yang terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan kepadanya. Misalnya, manusia tidak dapat terbang. Ini merupakan batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya, manusia tak bisa melampauinya, kecuali jika ia menggunakan akalnya untuk menciptakan suatu alat. Namun akalnya pun mempunyai ukuran yang tidak mampu dilampaui. Manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga yang kita lakukan juga tidak terlepas dari hukum-hukum-Nya. Tetapi karena hukum-hukum tersebut cukup banyak dan kita diberi kemampuan memilih, maka kita dapat memilih yang mana di antara takdir yang telah ditetapkan Allah terhadap alam yang kita pilih. Api ditetapkan panas dan membakar; sedangkan angin dapat menimbulkan kesejukan atau dingin. Itu takdir Allah, manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk. Di sinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya petunjuk dari Allah.
¨       Allah SWT menentukan bahwa si Abdullah menjadi seorang presiden di negara Indonesia. Ketentuan tersebut merupakan qadla Allah SWT. Untuk mendukung ketentuan Allah SWT tersebut, maka Allah SWT memberikan kemampuan/potensi kepada Abdullah  sebagai seorang presiden. Proses si Abdullah dari awal sampai terpilihnya ia menjadi seorang presiden disebut ikhtiar. Faktor – faktor yang mendukung ia menjadi seorang presiden bukanlah suatu kebetulan, tetapi termasuk bagian dari ketentuan Allah SWT. Sedangkan  ketika ia telah terpilih menjadi seorang presiden merupakan qadar Allah SWT.



D.       CIRI-CIRI PERILAKU ORANG YANG BERIMAN KEPADA QADA DAN QADAR ALLAH SWT.

Ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada qada dan qadar Allah anatara lain sebagai berikut :
1. Berperilaku mawas diri
Ketidaktahuan manusia terhadap qada dan qadar Allah SWT. hendaknya membuat dirinya selalu mawas diri, waspada dan selalu hati-hati. Sikap perilaku waspada dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan, baik dalam ucapan, perbuatan maupun sikap perilaku dalam tindakan. Orang yang tidak waspada dan berhati-hati akan menuai penyesalan di kemudian hari.

2. Berperilaku kerja keras
Orang yang beriman terhadap qada dan qadar, meyakini bahwa tak aka nada kemajuan tanpa kerja keras, dan tak akan ada kesuksesan tanpa ada usaha dan kesuksesan tak akan datang pada orang yang mempunyai sikap pemalas. Sebab, Allah tidak akan mengubah nasib kehidupan seseorang, tanpa ada kemauan dari orang tersebut untuk mengubah menjadi maju dan sukses. Sebagaimana firman Allah SWT.:
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ –
  Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du : 11)


3. Tidak bersikap sombong dan takabur
Keterbatasan manusia dalam mengetahui qada dan qadar Allah, hendaknya membuat kita semakin sadar betapa lemah kemampuan manusia, jika dibanding dengan kemampuan Allah SWT. . Jadi,  tidaklah pantas bagi manusia untuk bersikap sombong dan takabur terhadap sesama, apalagi menyombongkan diri kepada Allah SWT. apa pun yang kita miliki saat ini, harta benda, pangkat, jabatan, kecantikan, ketampanan, kecerdasan dan sebagainya, dapat hilang dengan sekejap jika Allah menghendaki.  Semuanya sangat tergantung kepada kehendak dan ketentuan Allah SWT. serta usaha yang dilakukan hamba-Nya tersebut.
Kesadaran yang demikian itu, niscaya dapat membuat kesadaran seseorang tidak sombong dan takabur. Perhatikan firman Allah SWT. :
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ -

Artinya. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid : 22)

4. Berperilaku berani dan bertangung jawab
 Setiap perbuatan atau usaha apa pun yang dilakukan manusia,  tidak akan luput dari akibat dan  konsekuensinya. Kadang berakibat baik dan kadang berakibat buruk. Namun bagi orang yang beriman terhadap qada dan qadar Allah SWT. apa pun yang didapatkannya sudah merupakan ketentuan Allah yang layak dan pantas untuk diterimanya. Jika perbuatan baik dan mendapat balasan yang sama, itu merupakan anugrah yang pantas diterimanya, jika mendapat balasan yang buruk dan tidak menyenangkan, juga merupakan ketentuan Allah yang harus diterima dengan lapang dada dan penuh kesabaran.

5.    Berperilaku sadar akan kelemahannya
Kesadaran bahwa qada dan qadar Allah yang baik atau yang buruk, itu merupakan ketentuan Allah  yang harus diterima dengan lapang dada oleh setiap muslim. Hal itu dapat membentuk jiwa seorang mukmin akan selalu tegar dan tabah dalam menerima ujian dan musibah, serta tidak lupa diri ketika mendapat anugrah dan nikmat dari Allah SWT. sebab, baik musibah maupun anugrah semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. 
Perhatikan pirman Allah SWT.:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ                                                           
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”  (QS. Al-Baqarah : 156)



E.   PERILAKU YANG MENCERMINKAN KEIMANAN KEPADA QADA DAN QADAR

     Untuk dapat menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada qada dan qadar Allah, hendaknya diperhatikan beberapa hal sebagaiberikut :
o   Tanamkan keimanan dan ketakwaan yang kuat kepada Allah SWT. agar tidak mudah tergoda bujuk rayu setan
o   Biasakan bergaul dengan orang-orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat, sehingga dapat mencontoh dan meneladani semua amal baiknya.
o   Tanamkan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk lemah.
o   Perbanyak bersikap lapang dada, ikhlak dan berjiwa besar dalam menerima segala sesuatu yang berhubungan dan qada dan qadar Allah.
o   Perbanyak sikap berbaik sangka terutama terhadap ketentuan Allah yang kita terima.
o   Berdoa kepada Allah, agar diberi kekuatan menjadi orang yang beriman kuat, berilmu manfaat dan berakhlak mulia.


SOAL-SOAL LATIHAN
I. PILIHAN GANDA
Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling benar!
1. Ketentuan Allah terhadap makhluk-Nya sejak jaman azali disebut …
a
Qada 
b
Qadar
c
taqdir
d
qadir

2. Implementasi atas ketentuan Allah pada zama azali, disebut …
a
qadar sunat
b
Qada
c
qada wajib
d
Taqdir

3. Qadar yang tidak dapat berubah oleh usaha/ikhtiar manusia disebut …
a
Qadar mukhtar  
b
Qadar selamat  
c
qadar mubram
d
qadar mu’alaq

4. Qadar yang dapat berubah tergantung ikhtiar manusia disebut …
a
Qadar mu’alaq  
b
Qadar mubram  
c
. qadar mukhtar
d
qadar muqadar

5. Iman kepada qada dan qadar termasuk rukum iman ke …
a
tujuh
b
enam
c
lima
d
empat

6. Di antara ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada qada dan qadar Allah ..
a
Pemalas
b
Mawas diri  
c
sombong
d
dengki

7. Di antara tanda-tanda yang berhubungan dengan qada dan qadar Allah ialah …
a
Tidak ada yang mengetahui secara pasti
b
Datangnya selalu mendadak
c
Datangnya silih berganti
d
Lebih banyak teguran

8. Iman kepada qada dan qadar tidak berarti ..
a
Selalu bekerja keras 
b
Menyalahkan Allah 
c
menyerah kepada nasib
d
rajin dan tekun belajar

9. “setiap bencana  yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”  Adalah tarjamah surat ..
a
Al-Hadid : 21
b
Al-Hadid : 22
c
Al-Hadid : 23
d
Al-Hadid : 24

10. ”dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan bila ditimpa oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan. ” adalah tarjamah surat.....
a
An-Nahl : 50
b
An-Nahl : 51
c
An-Nahl : 52
d
An-Nahl : 53
11. Sebagai orang beriman, kita harus ..............  segala ketentuan Allah atas diri kita.
a
Rela menerima
b
Menolak
c
Apatis
d
Dramatis

12. ” Siapa yang tidak ridha dengan qadha-Ku dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana-Ku yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari Tuhan selain Aku.
Kalimat di atas adalah tarjamah dari......
a
Al-qur’an
b
Hadits qudsi
c
Hadis mardud
d
Sya’ir

13. Taqdir Mua’allaq adalah....
a
Takdir yang pasti terjadi
b
Takdir yang tidak bisa ditolak
c
Takdir yang berhubungan dengan ikhtiar
d
Takdir yang tidak terjadi

14. Taqdir Mubram adalah....
 a
Takdir atas kehendak ulama
b
Takdir yang tidak akan terjadi
c
Takdir yang berhubungan dengan ikhtiar
d
Takdir yang tidak bisa ditolak

15. Mana yang bukan merupakan hikmah beriman kepada qodo dan qodar?
a. Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar
b. Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
c. Memupuk sifat optimis dan giat bekerja
d. Melabilkan jiwa

16. Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senangtiasa mengalami ........... dalam hidupnya
a
Kegembiraan
b
Penolakan
c
Ketenangan jiwa
d
Ragu-ragu

17. Allah berkehendak menciptakan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Ketetapan ini sebagai .........
a
Mukjizat  
b
qadha-Nya
c
Rekayasa Allah
d
Su’udzan manusia

18.         الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
Arti dari kalimat yang digaris bawah adalah....
a
Bencana
b
Keraguan
c
Berkah
d
Kebahagiaan

19. Untuk dapat menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada qada dan qadar Allah, dengan ....
     a. memperbanyak sikap berbaik sangka terutama terhadap ketentuan Allah yang kita terima.
     b. selalu berputus asa
     c. tidak puas apa yang menjadi miliknya
     d. selalu meratapi nasib tanpa ikhtiar

20. Berperilaku berani dan bertangung jawab, adalah merupakan ciri-ciri perilaku yang.....
a
Tidak beriman kepada qodo dan qodar
b
Sifat manusia
c
Beriman  kepada qodo dan qodar
d
Menyerah pada nasib


II. URAIAN
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan benar !
1. Sebutkan pengertian qada dan qadar!
2. Jelaskan bukti dalil kebenaran akan adanya qada dan qadar !
3. Berikan contoh peristiwa yang berhubungan dengan qada dan qadar !
4. Apa yang dimaksud dengan qadar mu’alaq dan qadar mubram ?
5. Jelaskan beberapa ciri perilaku yang mencerminkan keimanan kepada qada dan qadar ! 
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar