Senin, 23 Oktober 2023

MATERI PELAJARAN AKIDAH AKHLAK KELAS VII BAB 2 SIFAT-SIFAT WAJIB BAGI ALLAH

 

BAB II
SIFAT-SIFAT ALLAH DAN PEMBAGIANNYA

KOMPETENSI INTI

1.      Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
2.      Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
3.      Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
4.      Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

KOMPETENSI DASAR
1.2.  Menghayati dan mengimani sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan manawiyah.
2.2     Menampilkan perilaku mengimani sifat-sifat Allah
3.2  Mengidentifikasi sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah beserta bukti/dalil naqli dan aqlinya, sifat-sifat mustahil dan jaiz bagi Allah SWT.
4.2  Menyajikan contoh fenomena-fenomena kehidupan yang muncul sebagai bukti dari sifat wajib,mustahil,dan jaiz Allah SWT
INDIKATOR
1.2.1   Membiasakan diri berperilaku yang meneladani sifat -sifat wajib Allah SWT yang nafsiyah, salbiyah, maani, dan manawiyah, sifat-sifat  mustahil, serta sifat jaiz Allah SWT
2.2.1.  Menunjukkan perilaku yang meneladani sifat-sifat wajib Allah SWT yang nafsiyah, salbiyah, maani, dan manawiyah, sifat-sifat  mustahil, serta sifat jaiz Allah SWT
3.2.1.      Menjelaskan pengertian sifat wajib Allah SWT yang nafsiyah,  salbiyah, ma’ani, dan maknawiyah
3.2.2.      Mengidentifikasi dalil tentang sifat wajib Allah SWT yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan maknawiyah
3.2.3.      Menguraikan  pengertian sifat mustahil bagi Allah SWT yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani , dan maknawiyah
3.2.4.      Membandingkan  sifat wajib,sifat jais sifat mustahil Allah SWT yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan maknawiyah
3.2.5.      Menyimpulkan sifat-sifat Allah SWT yang harus dimengerti orang beriman
4.2.1.      Menunjukkan  contoh fenomena-fenomena kehidupan yang muncul sebagai bukti dari sifat wajib,mustahil,dan jaiz Allah SWT .


Kita sudah belajar tentang akidah Isalam pada bab sebelumnya. Di sana kita telah pelajari  bahwa pondasi awal dari akidah Islam adalah keimanan kepada Allah s.w.t.dan cara mengenal-Nya adalah dengan mengenal sifat-sifat-Nya.Nah,sekarang saatnya mengenal Allah lebih dalam dengan menegenali sifat-sifat-Nya.

 Secara umum,sifat-sifat Allah ada tiga yaitu sifat wajib,sifat mustahil,dan sifat jaiz. Ketiga sifat ini wajib diketahui dan di yakini oleh seorang mukmin.

1.      Sifat Wajib dan Mustahil  Allah S.w.t.
Kita akan pelajari sifat wajib Allah dan mustahil-Nya secara bersamaan. Karena pada dasarnya,sifat mustahil adalah kebalikan dari sifat wajib.
a.      Pengertian dan Sifat-Sifat Wajib serta Mustahil Allah
      Yang dimaksud sifat wajib Allah s.w.t.ialah sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah s.w.t. yang sesuai dengan keagungan-Nya sebagai Pencipta alam seisinya.Sedangkan sifat mustahil Allah adalah kebalikan dari sifat wajib Allah,yaitu sifat yang tidak mungkin ada dan tidak layak disandarkan pada Dzat-Nya sebagai Pencipta alam semesta. Sifat-sifat wajib dan mustahil Allah adalah sebagai berikut:
1.      Wajib              : Wujud artinya ada
Mustahil          : Adam artinya tidak ada
Adanya Allah S.w.t..dapat dibuktikan dengan adanya alam ini. Semua barang yang ada di lingkungan kita pasti ada yang membuat. Adanya meja ada yang membuat yaitu Tukang. Adanya baju atau pakaian karena dibuat oleh penjahit. Alam ini pasti ada yang membuat dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Allah S.w.t.berfirman dalam Q.S Ali Imron:2
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ  
Artinya :           ”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.


2.      Wajib              : (Qidam)  artinya Terdahulu
Mustahil          : Fana’ artinya Rusak
Akal sehat mengatakan bahwa tukang kayu lebih dahulu ada daripada meja yang  dibuatnya. Allah S.w.t..adalah pencipta alam semesta, Dia  lebih dahulu ada sebelum alam ini ada. Firman Allah Q.S. Al-Hadid ayat 3 .
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 
 Artinya :”Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin;  dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S.Al Hadiid 3)”


3.      Wajib              : Baqa’ artinya Berbeda dengan Makhluk
Mustahil          : artinya serupa dengan Makhluk
Semua makhluk ciptaan Allah S.w.t..akan rusak, sedangkan Dia sebagai pencipta  tidak akan rusak. Allah S.w.t..akan kekal selamanya dan Dia tidak akan pernah mati.  Firman Allah S.w.t. dalam Q.S Ar-Rahman :27 .
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَام 
Artinya : “dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.


4.      Wajib              : Mukhalafatu lil Hawaditsi artinya Berbeda dengan Makhluk
Mustahil          : Mumatsalatu lil Hawaditsi artinya serupa dengan Makhluk
Allah S.w.t..memiliki sifat yang sempurna dan istimewa. Sifat Allah S.w.t.. berbeda  dengan sifat makhluk-Nya. Allah S.w.t..berfirman
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya : ”tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”.

5.      Wajib              : Qiyamuhu Binafsihi artinya Berdiri Sendiri
Mustahil          : Ihtiyaju Lighhoirihi artinya Butuh Kepada yang Lain
Allah S.w.t..sebagai pencipta alam adalah Maha kuasa. Dia tidak memerlukan  bantuan dari kekuatan lain karena mempunyai kekuatan yang ada pada diri-Nya. Firman Allah S.w.t. . Q.S Al-Ankabuut: 6
وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“… dan Barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

6.      Wajib              : Wahdaniah artinya Esa
Mustahil          : Ta’addud artinya berbilang
Manusia dituntut untuk meyakini bahwa wujud Allah Maha Esa (satu). FirmanAllah S.w.t..
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ 
Artinya : ”Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa  (Q.S. 112 Al Ikhlash 1)

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
  
Artinya : “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa  (Q.S.Al Anbiyaa' 22)

7.      Wajib              : Qudrat artinya Kuasa
Mustahil          : ’Ajzun artinya Lemah
Manusia dapat berkuasa, tetapi kekuasaannya sangat terbatas. Manusia tidak  akan dapat mempertahankan dirinya untuk tetap hidup . Kuasa Allah S.w.t..di atas  segala-galanya. Allah S.w.t..berfirman :
إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
    Artinya:” Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
(Q.S. 2 Al Baqarah 20)

8.      Wajib              : Iradah artinya Berkehehdak
Mustahil          : Karahah artinya Terpaksa
Manusia mempunyai kehendak, tetapi banyak yang tidak terlaksana. Kehendak Allah S.w.t..pasti terlaksana karena Dia Maha Kuasa. Jika Allah S.w.t..berkehendak, tidak satu pun yang dapat menolak. Allah S.w.t..mempunyai kemauan dan kehendak  sendiri dalam menciptakan alam semesta. Dia tidak akan pernah diperintah dan  diatur pihak lain. Firman Allah S.w.t..:
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya :”Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu  hanyalah  berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.(Q.S.Yaa siin 82)
9.      Wajib              : ‘Ilmun artinya Mengetahui
Mustahil          : Jahlun artinya Bodoh
Akal sehat pasti mengakui bahwa orang yang membuat sesuatu pasti mengetahui sesuatu yang akan dibuat. Allah S.w.t..adalah pencipta alam ini dan Dia mengetahui  semua ciptaan-Nya .Firman Allah S.w.t. . :
وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 
Artinya : ” dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S.  Al Hujuraat 16)


10.  Wajib              : Hayat artinya Hidup
Mustahil          : Mautun artinya Mati
Seluruh kehidupan makhluk tunduk kepada Allah S.w.t..Dia yang mengatur semua kehidupan makhluk hidup. Allah S.w.t..tidak akan mati dan Dia kekal selamanya .Allah S.w.t.berfirman :
اللهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوم
Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (Q.S. 3 Ali 'Imran 2)
11.  Wajib              : Sama’ artinya Mendengar
mustahil          : Shummun artinya Tuli
Tidak ada suatu yang tidak didengar oleh Allah S.w.t..Walaupun jumlah suara manusia ratusan juta, semua akan didengar oleh Allah S.w.t.Allah S.w.t..berfirman :
إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al Hujuraat 1)
12.  Wajib              : Bashar artinya Melihat
mustahil           :  ’Umyun artinya Buta
Allah melihat segala sesuatu, baik yang besar maupun yang kecil, bahkan yang tersembunyi, tanpa bantuan alat untuk melihat. Penglihatan Allah tidak ada batasnya. Teknologi manusia yang paling canggih pun tidak mungkin dapat mengimbangi penglihatan Allah. Firman Allah S.w.t.:
      إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Artinya: ” Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. 17 Al Israa' :1)
13.  Wajib              : Kalam artinya Berfirman
mustahil          : Bukmun artinya Bisu
Kalam  berarti Allah S.w.t..berbicara melalui firman-Nya yang berupa wahyu. Allah S.w.t. berfirman :”
      وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيماً
Artinya:” Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Q.S. 4 An Nisaa' 164)
Dari sifat yang 13 itu,para ulama’ menambahkan 7 sifat yang merupakan penguat dari 7 sifat yang terakhir (qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam). Sehingga sifat-sifat Allah yang wajib dan mustahil menjadi 20 sifat. Sifat-sifat itu adalah :
14.  Wajib              : Qadiran artinya yang Maha Kuasa            
Mustahil          : ’Ajizan artinya yang lemah
                 Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha kuasa atas segala sesuatu.
15.  Wajib              : Muridan artinya yang Maha berkehendak
Mustahil          : Mukrahan artinya yang terpaksa
Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.
16.  Wajib              : ‘Aliman artinya yang Maha Mengetahui
Mustahil          : Jahilan artinya yang Bodoh
Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu.
17.  Wajib              : Hayyan artinya Yang Maha Hidup
Mustahil          : Mayyitan artinya yang Mati
Sesungguhnya Allah Zat Yang Mahahidup, hidup selamnya dan tidak akan mati.
18.  Wajib              : Sami’an artinya Maha Mendengar
Mustahil          : Ashommu artinya yang Tuli 
    Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Mendengar atas segala sesuatu.
19.  Wajib              : Bashiran artinya Yang Maha Melihat
Mustahil          : A’ma artinya yang Buta .
Sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Melihat atas segala sesuatu
20.  Wajib              : Mutakalliman artinya Yang Maha Berfirman
Mustahil          : Abkam artinya yang Bisu
      Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Berkata-kata atau Maha Berfirman.
b.      Pembagian Sifat-sifat Wajib Bagi Allah
Dua puluh sifat di atas tersebut dikelompokkan menjadi 4 kelompok sebagai berikut :
1.    Sifat Nafsiyahyaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah S.w.t..semata.Sifat nafsiyah ini ada satu, yaitu wujud. (وُجُوْد )
2.    Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan patut bagi Allah s.w.t, sebab Allah Maha sempurna dan tidak memiliki kekurangan. Atau bisa diartikan sifat salbiyah ini hanya dimilki oleh Allah dan tidak dimiliki oleh makhluk-Nya
 Sifat salbiyah ini ada lima, yaitu :
         1. Qidam                              ( قِدَامْ  )
         2. Baqa’                                (بَقَاء   )
         3. Mukhalafatu lil hawaditsi ( مُخَالَفَةُ لِلحَوَادِثِ )
         4. Qiyamuhu binafsihi          ( قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ )
         5. Wahdaniyyah                   (وَحْدَانِيَّة )
3.   Sifat Ma’ani, yaitu sifat yang ada pada dzat Allah yang sesuai dengan kesempurnaan Allah. Karena keberadaan sifat inilah nantinya muncul sifat ma’nawiyah. Yang termasuk sifat ma’ani ada tujuh, yaitu :
1. Qudrat ( قُدْرَة   )
2. Iradat   ( اِرَا دَة   )
3. ‘Ilmu     ( عِلْمُ  )
4. Hayat    ( حَيَا ة)
5. Sama’   ( سَمَع  )
6. Bashar   ( بَصَرْ  )
7. Kalam  (كَلاَ م   )
Sifat-sifat ma’ani ini adalah sifat-sifat yang juga dimiliki oleh makhluk. Bedanya,jika yang memiliki sifat ini  Allah maka sifat ini tidak tebatas,sedangkan jika yang memiliki sifat ini makhluk,maka sifat ini terbatas. Contohnya : Allah Maha hidup artinya selamanya dan tidak akan mati. Sedangkan makhluk-Nya juga hidup,tapi suatu saat akan mati
4.   Sifat Ma’nawiyah, yaitu sifat yang selalu tetap ada pada dzat Allah dan tidak mungkin pada suatu ketika Allah tidak bersifat demikian. Jumlah sifat ma’nawiyah sama dengan jumlah sifat ma’ani, yaitu :
         1. Qadiran           ( قَادِرًا   )        
2. Muridan           ( مُرِيْدًا  )
3. ’Aliman            ( عَا لِمَاً )
4. Hayyan            ( حَيًّا   )  
5. Sami’an           ( سَمِيْعًا               
6. Basiran            ( بَصِيْرًا  )
7. Mutakalliman   ( مُتَكَلِّمًا  )
Sifat-sifat ini sebagai penguat dari sifat-sifat ma’ani Allah. Dengan demikian, sifat ma’ani Allah dan ma’nawiyah-Nya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya,sebab setiap ada sifat ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah. Dengan kata lain,sifat ma’anawiyah Allah menggambarkan keberadaan dan Dzat Allah yang terus menerus memiliki sifat ma’ani. Jika disebutkan Allah bersifat  Qudrat (Kuasa),artinya secara otomatis Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan akan tetap seperti itu tanpa ada batasnya.

MATERI PELAJARAN AKIDAH AKHLAK KELAS VII BAB 1 MEMAHAMI AKIDAH ISLAM

 Akidah: Pengertian, Dalil, Tujuan, Metode dan Prinsipnya


1. Pengertian Akidah

Akidah berakar dari kata yang berarti tali pengikat sesuatu dengan yang lain, sehingga menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika masih dapat dipisahkan berarti belum ada pengikat dan sekaligus berarti belum ada akidahnya. Dalam pembahasan yang masyhur akidah diartikan sebagai iman, kepercayaan atau keyakinan. Dalam kajian Islam, akidah berarti tali pengikat batin manusia dengan yang diyakininya sebagai Tuhan yang Esa yang patut disembah dan Pencipta serta Pengatur alam semesta ini. Akidah sebagai sebuah keyakinan kepada hakikat yang nyata yang tidak menerima keraguan dan bantahan. Apabila kepercayaan terhadap hakikat sesuatu itu masih ada unsur keraguan dan kebimbangan, maka tidak disebut akidah. Jadi akidah itu harus kuat dan
tidak ada kelemahan yang membuka celah untuk dibantah.

Sedangkan M. Syaltut menyampaikan bahwa akidah adalah pondasi yang di atasnya dibangun hukum syariat. Syariat merupakan perwujudan dari akidah. Oleh karena itu hukum yang kuat adalah hukum yang lahir dari akidah yang kuat. Tidak ada akidah tanpa syariat dan tidak mungkin syariat itu lahir jika tidak ada akidah.
Ilmu yang membahas akidah disebut ilmu akidah. Ilmu akidah menurut para ulama adalah sebagai berikut:

a. Syekh Muhammad Abduh mengatakan ilmu akidah adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, tentang sifat-sifat yang wajib tetap ada pada-Nya, juga membahas tentang rasul-rasul-Nya, meyakinkan mereka, meyakinkan apa yang wajib ada pada mereka, apa yang boleh dihubungkan pada diri mereka dan apa yang terlarang menghubungkan kepada diri mereka.

b. Sedang Ibnu Khaldun mengartikan ilmu akidah adalah ilmu yang membahas kepercayaan-kepercayaan iman dengan dalil-dalil akal dan mengemukakan alasan-alasan untuk menolak kepercayaan yang bertentangan dengan kepercayaan golongan salaf dan ahlus sunnah.

Dari dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu akidah adalah ilmu yang membicarakan segala hal yang berhubungan dengan rukun iman dalam Islam dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang meyakinkan. Semua yang terkait dengan rukun iman tersebut sudah disebutkan dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 285:

Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul Nya. (mereka mengatakan): «Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya», dan mereka mengatakan: «Kami dengar dan Kami taat.» (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”
(Q.S. Al-Baqarah [2] :285)

Dalam suatu hadis Nabi Saw. menjawab pertanyaan Malaikat Jibril mengenai iman dengan mengatakan:

“Bahwa engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat. Dan juga engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.” ( HR. Bukhari )

Berdasarkan hadis tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa rukun iman itu ada enam:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada Malaikat Allah
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
4. Iman kepada Rasul-Rasul Allah
5. Iman kepada hari akhir,
6. Iman kepada qada’ dan qadar.

Sebagaimana telah kita diketahui bahwa agama Islam itu berasal dari empat sumber: al-Qur’an, hadis/sunnah Nabi, ijma’ (kesepakatan) dan qiyas. Akan tetapi untuk akidah Islam sumbernya hanya dua saja, yaitu al-Qur’an dan hadis sahih, Hal itu berarti akidah mempunyai sifat keyakinan dan kepastian sehingga tidak mungkin ada peluang bagi seseorang untuk meragukannya. Untuk sampai pada tingkat keyakinan dan kepastian ini, akidah Islam harus bersumber pada dua warisan tersebut yang tidak ada keraguan sedikitpun bahwa ia diketahui dengan pasti berasal dari Nabi. Tanpa informasi dari dua sumber utama al-Qur’an dan hadis, maka sulit bagi manusia untuk mengetahui sesuatu yang bersifat gaib tersebut.

2. Dalil / Argumentasi dalam Akidah

Argumentasi yang kuat dan benar yang memadai disebut Dalil. Dalil dalam akidah ada dua yaitu:

a. Dalil ‘Aqli ( ).
Dalil yang didasarkan pada penalaran akal yang sehat. Orang yang tidak mampu mempergunakan akalnya karena ada gangguan, maka tidak dibebani untuk memahami Akidah. Segala yang menyangkut dengan Akidah, kita tidak boleh meyakini secara ikut-ikutan, melainkan berdasarkan keyakinan yang dapat dipelajari sesuai dengan akal yang sehat.

b. Dalil Naqli ( )
Dalil naqli adalah dalil yang didasarkan pada al-Qur’an dan sunah.
Walaupun akal manusia dapat menghasilkan kemajuan ilmu dan teknologi, namun harus disadari bahwa betapapun kuatnya daya pikir manusia, ia tidak akan sanggup mengetahui hakikat zat Allah yang sebenarnya. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menyelidiki yang ghaib, untuk mengetahui yang ghaib itu kita harus puas dengan wahyu Allah. Wahyu itulah yang disebut dalil Naqli.
Kebenaran dalil Naqli ini bersifat Qat’iy (pasti), kebenarannya mutlak serta berlaku untuk semua ruang dan waktu. Dalil Naqli ada dua yaitu al-Qur’an dan hadis Rasul. Hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal, cukup diyakini kebenarannya tanpa harus membuktikan dengan akal. Termasuk ke dalam bagian ini adalah hakikat hal-hal yang ghaib, seperti kiamat, alam barzakh, alam makhsyar, surga, neraka, malaikat,dan lain sebagainya.

3. Tujuan Akidah Islam

Akidah Islam mempunyai banyak tujuan yaitu:
a. Untuk mengikhlaskan niat dan ibadah hanya kepada Allah. Karena Allah adalah Pencipta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, maka tujuan dari ibadah haruslah diperuntukkan hanya kepada-Nya .
b. Membebaskan akal dan pikiran dari kegelisahan yang timbul dari lemahnya akidah. Karena orang yang lemah akidahnya, adakalanya kosong hatinya dan adakalanya terjerumus pada berbagai kesesatan dan khurafat.
c. Ketenangan jiwa dan pikiran tidak cemas. Karena akidah ini akan memperkuat hubungan antara orang mukmin dengan Allah, sehingga ia menjadi orang yang tegar menghadapi segala persoalan dan sabar dalam menyikapi berbagai cobaan.
d. Meluruskan tujuan dan perbuatan yang menyimpang dalam beribadah kepada Allah serta berhubungan dengan orang lain berdasarkan ajaran al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah saw.
e. Bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu dengan tidak menghilangkan kesempatan yang baik untuk beramal baik. Sebab setiap amal baik pasti ada balasannya. begitu sebaliknya, setiap amal buruk pasti juga ada balasannya. Di antara dasar akidah ini adalah mengimani kebangkitan serta balasan terhadap seluruh perbuatan.
“Dan masing-masing orang yang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. al-An’am [6]: 132)

Nabi Muhammad Saw. juga mengimbau untuk tujuan ini dalam sabdanya:

“Orang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap sesuatu yang berguna bagimu serta mohonlah pertolongan dari Allah dan jangan lemah. Jika engkau

ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau katakan: Seandainya aku kerjakan begini dan begitu. Akan tetapi katakanlah: Itu takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan. Sesungguhnya mengandai- andai itu membuka perbuatan setan.” (HR Muslim)

f. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki individu- individu maupun kelompok-kelompok serta meraih pahala dan kemuliaan.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal baik, baik lelaki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. An-NaZl [16] : 97)

4. Metode-Metode Peningkatan Kualitas Akidah

Seorang mukmin harus memiliki kualitas akidah yang baik, yaitu akidah yang benar, kokoh dan tangguh. Kualitas akidah tidak hanya diukur dari kemauan seseorang untuk percaya kepada Allah Swt. atau kepada yang lain seperti yang tercantum di dalam rukun iman. Namun lebih jauh dari itu, kepercayaan itu harus bisa dibuktikan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Percaya saja tidak cukup, tapi harus diikuti dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di manapun berada.

Seseorang yang beriman kepada Allah Swt. maka ia harus melakukan semua yang diperintahkan Allah Swt. dan menjauhi semua yang dilarang- Nya. Jika ia beriman kepada kitab Allah, maka ia harus melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya. Jika ia beriman kepada para rasul Allah, maka ia wajib melaksanakan ajaran yang disampaikan para rasul dengan sebaik-baiknya serta meneladani akhlaknya.

Untuk itu mengingat pentingnya kekuatan akidah itu dimiliki oleh setiap mukmin, maka diperlukan upaya-upaya atau cara-cara yang baik agar bisa meningkatkan keyakinan dan memudahkan menerapkan semua keyakinannya itu di dalam kehidupannya di masyarakat. Sebab kepercayaan atau keyakinan itu bisa tumbuh paling tidak karena tiga hal; yaitu karena meniru orang tua atau masyarakat, karena suatu anggapan dan karena suatu pemikiran (dalil aqli).

Di antara cara atau metode yang bisa diterapkan adalah

(1) Melalui pembiasaan dan keteladanan.
Pembiasaan dan keteladanan itu bisa dimulai dari keluarga. Di sini peran orang tua sangat penting agar akidah itu bisa tertanam di dalam hati sanubari anggota keluarganya sedini mungkin. Keberhasilan penanaman akidah tidak hanya menjadi tanggungjawab guru saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak. Karena itu, semuanya harus terlibat. Selain itu pembiasaan hidup dengan kekuatan akidah itu harus dilakukan secara berulang-ulang (istiqamah), agar menjadi semakin kuat keimanannya.

(2) Melalui pendidikan dan pengajaran
Pendidikan dan pengajaran dapat dilaksanakan baik dalam keluarga, masyarakat atau lembaga pendidikan formal. Pendidikan keimanan ini memerlukan keterlibatan orang lain untuk menanamkan akidah di dalam hatinya. Penanaman kalimat-kalimat yang baik seperti dua kalimat syahadat dan kalimat lā ilaha ill Allah (tiada Tuhan selain Allah) sangat penting untuk menguatkan keimanan seseorang. Pendidikan dan pengajaran menjadi salah satu cara yang tepat dalam menanamkan akidah dan meningkatkan kualitas akidah. Islam mendidik manusia supaya menjadikan akidah dan syariat Allah sebagai rujukan terhadap seluruh perbuatan dan tindakannya. Oleh sebab itu, pendidikan Islam menjadi kewajiban orang tua dan guru di samping menjadi amanat yang harus dipikul oleh satu generasi untuk disampaikan kepada generasi berikutnya, dan dijalankan oleh para pendidik dalam mendidik anak-anak.

5. Prinsip-Prinsip Akidah Islam

Prinsip-prinsip akidah secara keseluruhan tercakup dalam sejumlah prinsip agama Islam. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
a. Pengakuan dan keyakinan bahwa Allah Swt. adalah Esa. Beriman kepada Allah dan hanya menyembah kepada Allah, dan tidak menyekutukan Allah.
b. Pengakuan bahwa para Nabi telah diangkat dengan sebenarnya oleh Allah Swt. untuk menuntun umatnya. Keyakinan bahwa para Nabi adalah utusan Allah Swt. sangat penting, sebab kepercayaan yang kuat bahwa Nabi itu adalah utusan Allah, mengandung konsekuensi bahwa setiap orang harus meyakini apa yang dibawa oleh para Rasul utusan Allah tersebut berupa kitab suci. Keyakinan akan kebenaran kitab suci menjadikan orang memiliki pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
c. Kepercayaan akan adanya hari kebangkitan. Keyakinan seperti ini memberikan kesadaran bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari segalanya. Setiap orang pada hari akhir nanti akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban selama hidupnya di dunia.
d. Keyakinan bahwa Allah Swt. adalah Maha Adil. Jika keyakinan seperti ini tertanam di dalam hati, maka akan menumbuhkan keyakinan bahwa apa yang dilakukan akan mendapatkan balasan dari Allah Swt. Orang yang berbuat kebaikan akan mendapatkan balasan yang baik, seberapapun kecilnya kebaikan itu. Sebaliknya perbuatan jelek sekecil apapun akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt.