Senin, 23 Oktober 2023

MATERI PELAJARAN AKIDAH AKHLAK KELAS VII BAB 5 MENELADANI KISAH NABI SULAIMAN AS

 

Meneladani Kebijaksanaan dari Kisah dan Keteladanan Nabi Sulaiman 


Riwayat Nabi Sulaiman AS

Sulaiman adalah seorang nabi yang diberkahi dengan kecemerlangan, kecerdasan dan kekuatan khusus. Nabi Sulaiman dikenal di kalangan orang Yahudi sebagai Sulaiman atau Solomon, yang berarti Raja Damai. Nama Salomo diberikan oleh ayahnya,  Nabi Daud. Ia lahir di Palestina sekitar abad ke-10 (989-931) SM.

Ayahnya adalah Nabi Daud bin Yahuda bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil. Nabi Sulaiman adalah anak kedua yang lahir dari salah satu istri Nabi Daud yang bernama Bathsheba binti Eliem.Nabi Sulaiman adalah seorang raja Yahudi yang sangat bijaksana dan kaumnya disebut sebagai anak-anak Israel. Al-Quran dan al-Kitab menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman dipilih sebagai putra mahkota, yang sengaja disiapkan oleh Nabi Daud sejak usia 11 tahun untuk menjadi raja.

Kemudian Nabi Sulaiman menjadi raja pada usia yang  sangat muda, Nabi Sulaiman menjadi raja sejak usia 13 tahun. Bukan tanpa alasan Nabi Daud As mengangkat Nabi Sulaiman sebagai penggantinya di usia yang masih sangat muda karena Nabi Daud As melihat kelebihan dan keistimewaan dalam diri Nabi Sulaiman  yang tidak dimiliki oleh anak-anaknya yang lain.

Nabi Sulaiman adalah  anak yang cerdas, pandai, bijaksana dan penuh perhitungan. Nabi Sulaiman mewarisi segala kelebihan dan keagungan Nabi Daud dan karena Allah memberi Nabi Sulaiman AS kebijaksanaan dan pemahaman dalam mengambil keputusan.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Sulaiman (Salomo) mengerti bahasa binatang seperti burung dan semut. Dikatakan bahwa semut memperingatkan kawanannya untuk kembali ke sarangnya karena Sulaiman (Solomon) dan pasukannya akan menginjaknya. Sulaiman (Salomo), yang mendengar dan memahami perkataan semut, tersenyum dan tertawa lalu mengucap syukur kepada Allah. Sulaiman (Salomo) juga bisa mengobrol dengan burung hud-hud dan berbicara dengan jin.

Sulaiman (Solomon) juga dikatakan telah mengumpulkan pasukannya yang terdiri dari manusia, jin dan burung, memerintahkan hud-hud untuk menyampaikan pesan dan menguping pembicaraan orang, menangkap setan dan memerintahkan mereka untuk membangun dan menyelam, mencairkan tembaga, memerintahkan bangsa jin untuk membuat hal yang dikehendaki Sulaiman (Salomo) untuk membangunnya, apa yang dia inginkan, seperti gedung tinggi, patung dan ubin ukuran kolam.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa tidak ada yang tahu tentang kematian Sulaiman (Salomo) sampai rayap merusak penopangnya dan menyebabkan tubuh Sulaiman (Salomo) jatuh. Para ulama melaporkan bahwa Salomo (Salomo) meninggal saat berada di rumah ibadah, sedangkan jin yang bekerja untuknya keluar masuk rumah ibadah tersebut.

Ketika tubuh Salomo jatuh, mereka segera keluar dan memberi tahu orang-orang bahwa Salomo sudah mati. Pernyataan lain mengatakan bahwa jin segera lari dari tugasnya. Beberapa ulama mengatakan Sulaiman (Salomo) meninggal ketika dia berusia di atas 50 tahun, beberapa ulama mengatakan dia berusia 52 tahun. Alkitab mengatakan bahwa Salomo (Salomo) memerintah selama empat puluh tahun.


Meneladani Kebijaksanaan dari Kisah Nabi Sulaiman AS

Sifat teladan dari seorang Nabi Sulaiman AS mengajarkan kita begitu banyak pelajaran tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Meniru amalan Nabi Sulaiman bisa menjadikan kita muslim yang sholeh.

Nabi Sulaiman AS adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah SWT kepada Bani Israil. Dia diberi mandat besar untuk memimpin kerajaan Israel. Sebelumnya di bawah bimbingan ayahnya Nabi Daud AS. Saat itu ia dikenal sebagai salah satu dari empat raja besar dunia yang pernah menguasai sebagian dunia.

1. Pemimpin Terpercaya, Adil dan Bijaksana

Nabi Sulaiman benar-benar seorang raja legendaris sebagai seorang pemimpin. Nama dan keagungannya dikenal di seluruh dunia

Dia sangat pandai  mengatur dan mengelola kerajaannya. Bahkan Nabi Sulaiman terkenal dengan kebijaksanaan dan keadilannya dalam mencari solusi atas masalah tersebut.

Dia juga memiliki kemampuan untuk mengatur seluruh pasukannya yang  besar. Terdiri dari manusia, jin dan hewan.

Pasukan  besar ini memiliki kekuatan yang sangat besar. Karena sikap amanah, adil dan bijaksana, Nabi Sulaiman AS memimpin pemerintahannya  selama 40 tahun.

Beberapa bahkan mengklaim bahwa Nabi Sulaiman AS memimpin bangsa Israel ke puncak kemuliaan melalui cara damai. Teladan Nabi Sulaiman sungguh luar biasa.

2. Selalu Rendah Hati dan Malu kepada Tuhan

Meski diberi kekuasaan yang sangat besar dan tak terbatas, hal ini tidak menjadikan Nabi Sulaiman AS sepenuhnya sombong. Sebaliknya, ia merasa dipermalukan di hadapan makhluk Allah  lainnya.

Nabi Sulaiman adalah satu-satunya nabi dan raja yang mendapat keistimewaan dari Allah SWT untuk memahami bahasa hewan, dapat berbicara dengan burung hud-hud dan juga memahami bahasa semut. Nabi Sulaiman yang memiliki kekuasaan penuh atas kerajaan Bani Israil yang luas dan meluas dan  Allah  menundukkan kepadanya makhluk lain yaitu jin, angin dan burung-burung yang semuanya berada di bawah perintahnya. apa yang dia inginkan dan menuruti semua perintahnya.

Allah juga memberikan hadiah berupa  cairan tembaga yang mengalir dari bumi untuk digunakan dalam pekerjaan pembangunan. Berbagai keistimewaan yang dimiliki nabi Sulaiman adalah: Pertama, memahami bahasa hewan. Kedua, menjadi Nabi umat manusia terkaya dalam sejarah peradaban. Ketiga, memiliki pasukan terkuat dalam sejarah manusia, yaitu tim manusia dan  jin yang bekerja di bawah perintahnya. Keempat, Dia juga mengarahkan angin sesuai  dengan perintah-Nya.

Namun dengan kekuatannya yang besar dan tak terbatas membuat Nabi Sulaiman merasa rendah hati dihadapan sesama makhluk, diantaranya ada rasa malu dihadapan Allah SWT, Nabi Sulaiman melihat rahmat Allah begitu besar, namun ia merasa ibadahnya masih kurang.

Dia malu melihat langit karena malu kepada Allah, Nabi Sulaiman suka berdialog dengan orang kecil dan dia suka berkomunikasi dengan umatnya, meski hanya dengan beberapa  semut. Nabi Sulaiman juga suka bekerja dalam bentuk syukur. Dan kekhidmatan shalat Nabi Sulaiman begitu agung hingga beliau wafat dalam keadaan shalat dalam posisi berdiri.

3. Menikmati Pekerjaan sebagai Rasa Syukur

Nabi Sulaiman adalah salah satu nabi yang menikmati pekerjaan sebagai bentuk rasa syukur dan cinta kepada Allah. Hal ini kemudian menjadi salah satu contoh Nabi Sulaiman.

Kemampuannya untuk bersyukur dijelaskan dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Dikatakan bahwa dia pernah mempertanyakan Tuhan.

Dia meminta petunjuk Tuhan untuk menunjukkan kepadanya seseorang yang akan membuatnya cerdas dan bersyukur. Kemudian Allah menyuruh Nabi Sulaiman untuk menemui dua orang yang sedang bekerja keras.

Salah satu dari mereka bekerja keras dengan tujuan menusuk perutnya karena lapar. Kemudian yang lain bekerja keras dengan maksud bersyukur kepada Allah.

Dia bukan salah satu dari mereka yang dikatakan menganggur. Setelah melihat kedua orang itu, Nabi Sulaiman AS pun berdoa kepada Allah untuk memberinya pekerjaan, yang membuatnya  selalu bersyukur.

Kemudian Tuhan mengajarkan pengetahuan tentang besi dengan emas dengan emas. Dengan demikian, Beliaulah menjadi orang pertama yang melapisi besi dengan emas. Kita harus mengikuti teladan Nabi Sulaiman  dalam kehidupan kita sehari-hari.

4. Selalu Menjaga Shalat

Sampai-sampai beliau meninggal dalam posisi sedang berdiri shalat. Sudahkah shalat kalian khusyu’? Allah berfirman dalam QS. As Saba’ (34): 14:

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ ۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

Artinya: “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan (jadi pelayan yang bekerja keras untuk Nabi Sulaiman). (QS. As Saba: 14)

Beberapa tafsir menyatakan bahwa Nabi Sulaiman meninggal saat shalat sambil berdiri. Sambil berdiri, Allah SWT mencabut nyawanya dan dia berdiri dengan tangan bersandar pada tongkatnya, dia berdiri dalam posisi mati selama satu tahun dan pasukannya yang juga terdiri dari jin dan setan, tidak mengetahui bahwa Nabi Sulaiman telah wafat, meskipun dia sudah mati selama satu tahun. Maka rayap memakan tongkat yang digunakan untuk sujud hingga rapuh, lalu nabi Sulaiman jatuh dan jin tersebut menyadari bahwa itu adalah nabi Sulaiman sudah wafat.

5. Memiliki Tingkat Kecerdasan Tinggi

Suatu hari ada sebuah peristiwa yang menunjukkan kecerdasan dan semangat pikirannya, yang terjadi di pengadilan yang ia hadiri. Selama persidangan, dua orang datang untuk mengadu dan meminta Nabi Daud untuk mengadili kasus sengketa mereka, yaitu bahwa salah satu dari dua orang itu mengatakan bahwa kawanan kambing temannya memasuki daerah perkebunan miliknya pada malam hari, menyebabkan kerusakan pada kebun yang telah ia  rawat begitu lama sehingga mendekati masa untuk memanen.

Teman yang mengadu bersaksi bahwa pengaduan temannya benar dan ternaknya merusak kebun dan pekarangan temannya.

Dalam hal ini, Ayahnya nabi Sulaiman yaitu nabi Daud memutuskan bahwa sebagai ganti rugi kepada pemilik kebun karena akibat kambing peliharaan temannya, pemilik kambing harus menyerahkan hewan peliharaannya kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi atas kesalahannya.

Namun lain hal dengan ayahnya, menurut nabi Sulaiman yang mendengar keputusan ayahnya, tetapi merasa bahwa itu tidak benar, dia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayah, menurut pendapat saya, keputusannya harus seperti ini, kepada pemilik pekarangan, yang panennya dihancurkan; ia harus memberikan temannya untuk merawat kambing peliharaanya untuk diternak, mengambil hasilnya dan menggunakan untuk kebutuhan Anda. Sedang pekarangan yang rusak itu diberikan kepada temannya tersebut untuk diperbaiki dan dirawat sampai kembali ke keadaan semula, masing-masing mendapatkan kembali apa yang menjadi miliknya, sehingga tidak ada pihak yang memperoleh atau kehilangan dengan cara ini lebih baik dari yang seharusnya.

Usulan keputusan Sulaiman  diterima dengan baik oleh penggugat dan semua saksi, diterima dengan kekaguman atas kecerdasan dan kebijaksanaan Sulaiman oleh mereka yang hadir di persidangan. Meskipun usianya masih muda, dia menunjukkan kedewasaan dan keberanian untuk mengungkapkan pendapatnya, bahkan jika itu tidak setuju dengan  ayahnya.

Peristiwa ini merupakan awal dari riwayat tentang Nabi Sulaiman As, yang penuh dengan mukjizat kenabian dan rahmat Allah yang diperlihatkan kepadanya dan  ayahnya Nabi Daud.

6. Nabi yang berbelas kasih kepada sesama

Allah Swt memberi Nabi Sulaiman satu keajaiban berupa memahami bahasa binatang. Suatu hari, sekelompok besar Nabi Sulaiman pergi ke Lembah Asgal dan kelompok itu termasuk Nabi Sulaiman dan kaumnya, malaikat, jin dan binatang. Di tengah perjalanan, ia memerintahkan rombongannya untuk berhenti.

“Tunggu sebentar, kami memberi waktu kepada makhluk Tuhan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri,” kata Nabi Sulaiman.

“Wahai Nabiyullah, kenapa tiba-tiba kami berhenti di tengah jalan?” tanya salah satu rombongan.

“Di depan adalah lembah semut dengan jutaan semut di dalamnya. Aku akan menyuruh mereka untuk menutupi mereka agar kelompok kita tidak menginjak-injak mereka,” jawab Nabi Sulaiman.

Nabi Sulaiman sepertinya mendengar dari jauh percakapan raja semut yang menyuruh  semut bersembunyi. Ini adalah keajaiban yang sangat besar, Anda akan kembali mendengar tentang binatang dari jauh, dia adalah Nabiyullah Sulaiman, raja dari semua raja yang  hidup di dunia ini dan tidak pernah ada  raja  di dunia ini yang sebesar dia.

Ketika Sulaiman mendengarkan perkataan semut, dia tersenyum. Apa yang dibayangkan semut kecil itu? Meskipun Salomo memperoleh kekuasaan dan memiliki pasukan yang besar, ia menunjukkan belas kasihan kepada semut.

Dia mendengarnya berbisik dan melihat seekor semut  di depannya. Karena itu, tidak mungkin baginya untuk menginjaknya. Sulaiman bersyukur kepada Allah SWT. yang memberinya nikmat itu, yaitu nikmat rahmat dan nikmat cinta.

Kisah ini merupakan cuplikan dari ayat AI-Qur’an surah An-Naml ayat 18 yang artinya, “Hingga apabila mereka sampai di Lembah Semut berkatalah seekor semut, masuklah ke dalam sarang-sarang mu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman As. dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”


Kesimpulan

Sekian pembahasan singkat mengenai keteladanan dari kisah nabi Sulaiman A.S. Tidak sekedar membahas riwayat dari nabi Sulaiman A.S saja, tetapi juga membahas mengenai teladan apa saja yang bisa kita ambil dari kisah dan sifat seorang Nabi Sulaiman AS.

Dari kisah nabi Sulaiman AS yang telah disebutkan diatas bahwa banyak sekali suri tauladan yang dapat kita pelajari serta hikmah yang dapat kita petik untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Membaca serta meneladani kisah dan sifat Nabi Sulaiman A.S memberikan pelajaran bagi kita untuk selalu bersyukur dan tidak sombong dengan segala apa yang kita miliki karena semua itu hanya titipan dan akan kembali pada-Nya Yang Maha Kuasa.

Demikian ulasan mengenai keteladanan dari kisah nabi Sulaiman A.S.. Buat Grameds yang mau mempelajari semua hal tentang kisah keteladanan nabi Sulaiman AS dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan agama lainnya, kamu bisa mengunjungi Gramedia.com untuk mendapatkan buku-buku terkait. Sebagai #SahabatTanpaBatas, Gramedia selalu memberikan produk terbaik, agar kamu memiliki informasi terbaik dan terbaru untuk kamu.

MATERI PELAJARAN AKIDAH KELAS VII BAB 4 ADAB SHALAT DAN DZIKIR

 


KOMPETENSI INTI


  1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutya
  2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotongroyong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
  3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.
  4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, mengghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.


KOMPETENSI DASAR
1.4.     Menghayati  adab Shalat dan dzikir
2.4.    Terbiasa menerapkan adab Shalat dan dzikir
3.4.     Memahami adab Shalat dan dzikir
4.4.     Mensimulasikan adab Shalat dan dzikir

INDIKATOR
1.4.1. Menyadari pentingnya menjalankan adab-adab salat dan zikir sesuai dengan ketentuan agama
2.4.1.Menunjukkan perilaku terbiasa menerapkan adab-adab salat dan zikir sesuai dengan ketentuan agama
3.4.1.Menjelaskan pengertian adab salat
3.4.2 Mengidentifikasi dalil tentang adab salat
3.4.3 Menganalisis adab-adab salat
3.4.4  Mendiskripsikan ada- adab berdzikir
3.4.5. Mengevaluasi perilaku orang yang mengamalkan adab salat/dzikir
4.4.1  Mempraktikkan adab salat/zikir


PEMBAHASAN


A.   ADAB SHALAT
Shalat adalah ibadah wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh dan berakal sehat. Shalat pada hakikatnya adalah bentuk komunikasi antara seorang hamba dengan Allah SWT. Akan tetapi,banyak orang kurang bisa menikmati ibadah shalat. Hal ini bisa disebabkan beberapa hal, di antaranya adalah karena ia menganggap shalat hanyalah rutinitas belaka, sehingga shalatnya tidak berdampak apa-apa dalam kehidupannya. Padahal Allah berfirman bahwa dengan  shalat yang khusyu’ maka seseorang akan bisa terhindar dari berbuat kekejian dan kemunkaran. Sehingga di antara masalah  bangsa ini adalah banyak orang yang shalat, tapi sebagian mereka ada yang melakukan korupsi. Naudzu Billahi. Lalu kita perlu bertanya; Ada apa dengan shalatnya??? Bagaimanakah shalatnya???
Marilah kita agungkan ibadah sholat ini dengan cara memperhatikan adab-adabnya, yaitu:
  1. Menjaga waktu dan batas-batasnya. 
Ketika waktu shalat  masuk, bersegera menunaikannya dengan penuh semangat saat kewajiban itu tiba. Nabi bersabda pada Bilal: Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat! (Maksudnya: beradzanlah lalu kita melaksanakan shalat dan menikmati shalat).
Allah berfirman yang artinya: maka celaka bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang yang shalat mereka lupa diri. Para ulama mengatakan lupa dalam ayat ini terutama adalah masalah meneledorkan waktu shalat.
  1. Demikian pula tempat sholat dan sujud, kita rapikan dan bersihkan dari najis- najis yang ada, singkirkan gambar, tulisan atau apa saja yang mengganggu kekhusyu’an shalat.
  2. Memakai  pakaian kita yang terbaik, saat panggilan sholat telah tiba. Yang rapi, santun, baik,  harum semerbak (bagi laki-laki)  dan menutup aurat secara sempurna.
Allah amat senang kalau perintahnya kita amalkan dengan suka cita. Allah memerintahkan dalam alQur’an:خُذُوا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ, ... 
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu  yang indah di setiap (memasuki) masjid, …”. {QS. Al-A’roof: 31}. Memakai pakaian terbaik saat shalat merupakan tanda dan wujud syukur seseorang akan nikmat Allah SWT yang dikaruniakan padanya.
  1. Menyesal serta bersedih, jika tidak dapat menunaikan dan menikmati shalat dengan baik dan sempurna. Di antara inti shalat adalah berdzikir di dalam shalat. Allah berfirman pada nabi Dawud: “Dan dengan berdzikir padaKu, hendaklah mereka merasa ni’mat”.
Allah berfirman: “dan sungguh, dzikir pada Allah-lah yang terbesar”. Maksudnya adalah kita diharapkan menikmati dzikir atau bacaan-bacaan shalat kita, sehingga berpengaruh pada hati nurani dan amal perbuatan sehari-hari.
  1. Dan supaya kita khusyu’, Nabi memerintah: “shalatlah seperti shalatnya orang yang berpamitan (dari dunia ini)”. Maksudnya shalatlah seakan-akan ini adalah shalat kalian yang terakhir di dunia.
B.      ADAB BERDZIKIR
Kurang afdhal apabila orang yang melaksanakan shalat, usai salam ia langsung berdiri pulang tanpa berdzikir. Sehingga bakda shalatpun seseorang dianjurkan berdzikir. Dzikir menurut bahasa berarti ingat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah mengingat Allah dengan cara memperbanyak mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah  sesuai dengan yang diajarkan oleh rasulullah, para sahabat,dan orang-orang yang shalih sebelum kita.
Allah SWT berfirman dalam surat al-a’raf ayat 205:
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا
تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai”

ayat di atas, maka kita akan paham bahwa dzikir adalah suatu yang diperintahkan oleh Allah sesering mungkin. Kita sebagai seorang muslim tentunya tidak asing lagi dengan dzikir. Hanya saja,terkadang kita tidak memperhatikan adab/cara berdzikir. Sehingga tidak jarang dzikir yang kita lakukan tidak berbekas sama sekali terhadap kehidupan kita. Padahal minimal,dzikir bisa menentramkan hati  pelakunya,sebagaimana firman Allah yang berarti: “bukankah dengan berdzikir/ mengingat Allah hati akan menjadi tentram?”. Oleh karenanya,perlu kita perhatikan adab-adab saat berdzikir kepada Allah.
Adapun adab berdzikir diantaranya adalah:
  •  Ikhlas dalam berdzikir mengharap ridho Allah, membersihkan amal dari campuran dengan sesuatu. Menghadirkan makna dzikir dalam hati, sesuai dengan tingkatannya dalam musyahadah.
  • Berdzikir dengan dzikir dan wirid yang telah dicontohkan Rasululloh, karena dzikir adalah ibadah. Membaca al-Qur’an dengan niat berdzikir juga dianjurkan.
  • Mencoba memahami maknanya dan khusyu’ dalam melakukannya.
  • Duduk disuatu tempat atau ruangan yang suci seperti duduk dalam shalat juga dianjurkan.
  • Mewangikan pakaian dan tempat dengan minyak wangi,  pakaian yang bersih dan halal.
  • Memilih tempat yang agak sunyi. boleh memejamkan dua mata, karena dengan mata terpejam itu, tertutup jalan-jalan panca indra lahir, sehingga mengakibatkan terbukanya panca indra hati.
RANGKUMAN

1.     Shalat pada hakikatnya adalah bentuk komunikasi antara seorang hamba dengan Allah SWT.
2.     Kita wajib memperhatikan adab-adab dalam melaksanakan shalat agar tujuan shalat yaitu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar bisa tercapai.
3.     Dzikir adalah memperbanyak mengingat Allah SWT dengan cara yang sudah dicontohkan oleh rasulullah, para sahabat,dan orang-orang yang shalih sebelum kita.
4.     kita perlu memperhatikan adab-adab dalam berdzikir agar tujuan dzikir yaitu menentramkan hati bisa tercapai.

MATERI PELAJARAN AKIDAH AKHLAK KELAS VII BAB 3 IKHLAS, TAAT, KHAUF, DAN TAUBAT

 IKHLAS, TAAT, KHAUF, DAN TAUBAT

A.      IKHLAS
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah semata dalam beramal sebagai wujud menjalankan ketaatan kepada Allah dalam kehidupan dalam semua aspek. Ikhlas merupakan akhlak yang agung. Karenanya, ia memilii kedudukan yang sangat penting dalam setiap amalan, baik amalan hati, lisan, maupun badan. Mengapa demikian? Betapa tidak, ternyatanilai setiap amalan sesorang di sisi Allah adalah tergantung pada keikhlasan dia dalam berniat. Artinya, menjaga niat yang ikhlas semata-mata karena Allah dalam menjalankan segala amalan merupakan syarat utama diterimanya amalan tersebut. Oleh karena itu, kita harus mendahului dengan niat yang ikhlas dalam menjalankan amalan sebagaimana perintahNya:

”Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (Q.S. al-An’am [6]:162)
Demikian pula rasulullah Saw. telah bersabda berhubungan dengan pentingnya menjaga niat yang ikhlas. Beliau bersabda:
عَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar bin Al Khaththab Ra. berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiaptiap orang (tergantung) apa yang diniatkan. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan”(HR. Bukhari)
Demikianlah, betapa niat yang ikhlas memegang peran yang penting dan utama dalam setiap amalan. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan untuk menjaga keiikhlasan dalam berniat sehingga kita termasuk golongan muklishin

B. TAAT
Taat menurut bahasa berarti tunduk, patuh, dan setia. Menurut istilah taat bisa diartikan tunduk dan patuh terhadap segala perintah dan aturan yang berlaku. Taat kepada Allah berarti patuh kepada perintah dan aturan-aturan yang dibuat oleh Allah dalam segala hal. Baik aturan itu berhubungan dengan ibadah kepada-Nya maupun aturan yang berhubungan dengan berinteraksi dengan sesame manusia dan makhluk yang lainnya
Lantas, bagaimana kita bisa tahu apa peraturan-peraturan Allah untuk kita sehingga kita bisa mentaati-Nya? Melalui al-Qur'an tentunya! Di sana Allah melalui firman-firmanNya telah mengutarakan segala peraturan dan keinginanNya terhadap umat manusia. Kemudian pertanyaan berikutnya adalah bagaiman jika isi peraturan-peraturan itu masih bersifat umum atau global sehingga dirasa perlu penjelasan lebih lanjut? Melalui hadis-hadis Nabi-Nya tentunya! Ya, sebagaimana yang telah kalian ketahui bahwa dasar/sumber akidah Islam adalah al-Qur'an dan al-Hadis, maka demikian juga, keduanya merupakan dasar dan sumber utama dalam menjalankan ketaatan kepada Allah di dunia. Artinya, tidak cukup kita mentaati Allah tanpa mentaati RasulNya Saw. bahkan Allah sendiri yang memerintahkan agar manusia taat kepadaNya dan kepada Rasul-Nya baru kemudian kepada yang lainnya selama tidak bertentangan dengan perintah-Nya dan Rasul-Nya. Dalam al-Qur'an Allah telah berfirman:

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benarbenar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. an-Nisa’ [4]:59)
Dari ayat di atas, maka bisa kita simpulkan kepada siapa saja kita harus taat, yaitu:
1.      Kepada Allah Swt
Sebagai seorang Muslim, taat kepada Allah adalah yang paling pertama dan utama. Sebagaimana ayat di atas, kalimat perintah untuk taat yang pertama adalah kepada Allah Swt. Ketaatan kepada Allah ini sifatnya mutlak, tanpa ada keraguan, dan tidak ada tawar menawar dalam segala aspek kehidupan.
2.      Kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW
Ketaatan yang kedua adalah ketaatan kepada Nabi Muhammad Saw. Ketaatan inipun mutlak,sebagaimana ketaatan kepada Allah Swt. ini berarti,taat kepada rasul berarti taat kepada Allah. Demikian juga sebaliknya, tidak taat kepada rasul, berarti tidak taat kepada Allah. Karena ayat di atas jelas bahwa perintah kepada rasul adalah wajib. Hal ini terbukti dari redaksi ayat yang mengulang kata ”taatilah” pada perintah taat yang kedua. Rasulullah telah bersabda:
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اَنَّهُ قَالَ مَنْ اَطَاعَنِي فَقَدْ اَطَاعَ الله وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى الله
”Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, barangsiapa bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah". (HR.Muslim)”
Bahkan dalam hadis yang lain, ketaatan kepada Rasul adalah syarat sesorang bias masuk surga.
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ كُلُّ اُمَّتِي يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ اِلَّا مَنْ اَبَى قَالُوا يَا رَسُوْلَ الله وَمَنْ يَأَ بَى قَالَ مَنْ اَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ اَبَى
”Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, “ Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan.”(HR. Bukhari)
3.      Kepada ulil amri / pemerintah
Ketaatan yang ketiga adalah perintah taat kepada pemimpin. Hanya saja ketaatan kepada pemimpin ini tidaklah mutlak, tetapi mempunyai syarat, yaitu selama pemimpin tersebut berpegang kepada kitab Allah dan rasul-Nya. Menurut M. Quraish Shihab, pada kata “Ulil Amri” dalam ayat di atas tidak didahului kata “ taatilah”. Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Ulil Amri tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, apabila perintah Ulil Amri itu bertentangan dengan perintah Allah dan rasul-Nya, maka kita tidak dibenarkan untuk mentaatinya.

C.      KHAUF
Di antara akhlak mulia yang menghiasai seorang mukmin adalah khauf. Secara bahasa, khauf berasal dari bahasa Arab yang berarti takut; resah; khawatir; cemas. Jika dide􀂿nisikan secara lebih panjang, khauf berarti perasaan gelisah atau cemas terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Menurut istilah dalam Islam, sebagaimana diuraikan dalam kamus tasawuf, khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya, takut atau khawatir kalau-kalau Allah tidak senang padanya dan akan menghukumnya karena apa yang telah ia lakukan. Orang tidak dikatakan takut hanya karena menangis dan mengusap air matanya, tetapi karena takut melakukan sesuatu yang mengakibatkan ia disiksa karenanya.
Sifat khauf ini muncul disebabkan seseorang telah benar akidahnya (berakidah Islam) yang meyakini keberadaan Allah dan mengenalNya melalui sifat-sifatNya di antaranya adalah Allah yang Maha Wujud, Maha Melihat, Maha Tahu, Maha Mendengar, dan lain sebagainya. Dengan begitu, karena mengenal Allah dengan baik, dia akan senantiasa merasa diawasi dan akan senantiasa dimintai pertanggungjawaban atas segala yang dia lakukan. Lebih mudahnya berarti semakin sesorang mengenal Allah maka semakin besar pula sifat khauf terhadapNya. Rasulullah Saw. bersabda dalam hadis beliau yng diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah Ra.:
....فَوَ اللهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهُمْ بِا اللهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً
 ‘’Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling tahu dengan Allah dan paling takut kepada-Nya.’’(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari paparan di atas, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa khauf harus ada pada diri kita, setiap Mukmin. Untuk mengontrol diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak disukai oleh Allah.
Sebanarnya, ada satu akhlak mulia lagi yang mengikuti khauf yang harus kita miliki, yaitu raja’. Secara bahasa, raja’ berarti harapan/cita-cita; sedangkan menurut istilah ialah bergantungnya hati dalam meraih sesuatu di kemudian hari. Raja` merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan, tidak boleh ada kecuali mengharap hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Memalingkannya kepada selain Allah adalah kesyirikan, bisa berupa syirik besar atau pun syirik kecil tergantung apa yang ada dalam hati orang yang tengah mengharap.
Raja’ (harapan/mengharap) tidaklah menjadikan pelakunya terpuji kecuali bila disertai amalan. Raja` tidak akan sah kecuali jika dibarengi dengan amalan. Oleh karena itu, tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal. Amal yang dimaksud adalah bukan maksiat tentunya. Merupakan bentuk penghinaan kepada-Nya jika kita bermaksiat tapi mengharap ridha dariNya.
Khauf dan raja’ ibarat dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya, keduanya saling mendukung. Bila keduanya menyatu dalam diri seorang Mukmin, maka akan seimbanglah seluruh aktivitas kehidupannya. Bagaimana tidak, sebab dengan khauf akan membawa dirinya untuk selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan; sementara raja` akan menghantarkan dirinya untuk selalu mengharap apa yang ada di sisi Rabb-nya. Pendek kata dengan khauf (takut) dan raja` (pengharapan) seorang Mukmin akan selalu ingat bahwa dirinya akan kembali ke hadapan Sang Penciptanya (karena adanya rasa takut), disamping ia akan bersemangat memperbanyak amalan-amalan (karena adanya pengharapan). Mungkin jika kita boleh katakan dengan bahasa kita sekarang ini, khauf dan raja’ adalah “harapharap cemas”. Keterkaitan dua akhlak mulia ini sebagaimana difirmankan oleh Allah:

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orangorang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Qs. al-Mukminun [23]: 57-61)
Berkaitan dengan ayat di atas, ‘Aisyah Ra. pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. apakah mereka itu (yang dimaksud dalam ayat di atas) adalah orang-orang yang meminum khamr, berzina, dan mencuri? Rasulullah menjawab, “Bukan! Wahai putrid Ash-Shiddiq. Justru mereka adalah orang-orang yang melakukan shaum, salat, dan bersedekah, dan mereka khawatir tidak akan diterima amalannya. Mereka itulah orangorang yang bergegas dalam kebaikan.” [HR. At-Tirmidzi dari ‘Aisyah].



D.      TAUBAT
1.         Pengertian taubat
Taubat secara bahasa berarti ”kembali”. Secara istilah, taubat berarti kembali ke jalan yang benar dengan didasari keinginan yang kuat dalam hati untuk tidak kembali melakukan dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.
Sebagai manusia biasa, bukan malaikat ataupun Nabi yang memilki sifat ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa), secara langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja, kerap kali akan bersinggungan dengan yang namanya kesalahan atau dosa. Baik kesalahannya sebagai makhluk individu yang berhubungan langsung dengan Allah, maupun sebagai makhluk sosial yang berhubungan dengan anak Adam yang lain. Untungnya, sebagai seorang Muslim diberi jalan selebar-lebarnya oleh Allah untuk memperbaiki kesalahan itu melaui sebuah pintu yang disebut dengan taubat. Dalam sebuah hadis disebutkan:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
Dari Anas dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua bani Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang segera bertaubat.”(HR. Ibnu Majjah dari Anas)
Karenanya, Allah memerintahkan untuk bertaubat kepada semua umat manusia yang telah melakukan dosa. Allah berfirman:

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahankesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungaisungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Allah adalah Zat yang Maha menerima taubat, sebagaimana disebutkan di dalam QS. an-Na􀜈r ayat 3. Tidak ada satu dosapun yang tidak diampuni oleh Allah kecuali syirik atau mempersekutukan-Nya:

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.(Q.S. an-Nisa [4]:48)
Nah, jelaskan bahwa Allah itu maha Pengampun? Maka, sudah seharusnyalah kita menyegerakan diri untuk bertaubat kepadaNya dari segala dosa. Taubat dengan sebenarbenarnya taubat atau semurni-murninya taubat, yang biasa disebut dengan ”taubatan nasuha”. Rasulullah Saw. pernah bersabda yang artinya:“ Hai manusia bertobatlah kepada Allah dan mintalah ampunan kepadaNya. Sesungguhnya aku sendiri bertabat dalam sehari 100 kali.” (HR.Muslim). Betapa manusia termulia yang mendapat jaminan surga, bahkan surga tidak akan dibuka sebelum beliau masuk, bertaubat 100 kali dalam sehari semalam. Lantas bagaimana dengan kita? Manusia biasa yang tidak pernah luput melakukan dosa dalam keseharian kita? Berapa kalikah kita bertaubat sehari semalam? Atau minimal berapa kalikah kita beristighfar dalam sehari semalam?.
2.         Jenis dan Syarat Taubat
Di atas telah dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk individu dan juga makhluk sosial. Artinya, dia tidak terlepas dari berbuat salah yang berhubungan dengan Tuhan dan berbuat salah yang berhubungan dengan sesama manusia. Karenanya, jenis dan syarat taubat dibagi menjadi dua yaitu:
a.       Taubat menyangkut dosa terhadap Allah
Imam Nawawi mengatakan bahwa ada 3 (tiga) syarat dalam melaksanakan taubat yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim atas dosa yang dilakukan apabila maksiat itu di antara manusia dengan Allah dan tidak berhubungan dengan hak sesama manusia (haqqul 'adami), maka ada 3 (tiga) syarat:
1)        Meninggalkan perilaku dosa itu sendiri.
2)        Menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukan.
3)        Berniat tidak melakukannya lagi selamanya.
Apabila tidak terpenuhi ketiga syarat di atas, maka tidak sah taubatnya.
b.      Taubat menyangkut dosa terhadap sesama manusia
Sedangkan jika dosa itu berhubungan dengan hak anak Adam/sesama manusia maka lebih lanjut Imam Nawawi menyebutkan ada 4 (empat) syarat yaitu:
1) Meninggalkan perilaku dosa itu sendiri.
2) Menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukan.
3) Berniat tidak melakukannya lagi selamanya.
4) Membebaskan diri dari hak manusia yang dizalimi dengan cara sebagai berikut:
a.    Apabila menyangkut harta dengan cara mengembalikan harta tersebut;
b.   Apabila menyangkut non-materi seperti pernah mem􀂿tnah, menggunjingnya (ghibah), dan lain-lain, maka hendaknya meminta maaf kepada yang bersangkutan.
Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Baqarah [2]: 222:
  
”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orangorang yang mensucikan diri”. (Q.S. al-Barqarah [2]:222)

SAAT DIBERI TUGAS MENSUPERVISI TEMAN SEJAWAT






 

SUPERVISI KUNJUNGAN KELAS SEBAGAI AKTIVITAS RUTIN KEPALA MADRASAH