A.
TAAT
Taat menurut bahasa berarti tunduk;patuh;dan
setia. Menurut istilah taat bisa diartikan tunduk dan patuh terhadap segala
perintah dan aturan yang berlaku. Taat kepada Allah berarti patuh kepada
perintah dan aturan-aturan yang dibuat oleh Allah dalam segala hal. Baik aturan
itu berhubungan dengan ibadah kepadaNya maupun aturan yang berhubungan dengan
berinteraksi dengan sesama manusia dan makhluk yang lainnya.
Dalam
Al-Qur’an Allah telah berfirman :
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqß§9$# Í<'ré&ur ÍöDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrãsù n<Î) «!$# ÉAqß§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ÌÅzFy$# 4 y7Ï9ºs ×öyz ß`|¡ômr&ur ¸xÍrù's? ÇÎÒÈ
”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. an-Nisa’:59)
Dari ayat di atas, maka bisa kita simpulkan kepada siapa saja kita harus
taat, yaitu:
1.
Kepada
Allah s.w.t.
Sebagai seorang muslim,taat kepada Allah adalah yang paling pertama dan
utama. Sebagaimana ayat di atas,kalimat perintah untuk taat yang pertama adalah
kepada Allah s.w.t. Ketaatan kepada Allah ini sifatnya mutlak,tanpa ada
keraguan,dan tidak ada tawar menawar dalam segala aspek kehidupan.
2.
Kepada
RosulNya, Muhammad s.a.w.
Ketaatan yang kedua
adalah ketaatan kepada nabi Muhammad s.a.w. Ketaatan inipun mutlak, sebagaimana
ketaatan kepada Allah s.w.t. ini berarti, taat kepada rosul berarti taat kepada
Allah. Demikian juga sebaliknya,tidak taat kepada rosul, berarti tidak taat
kepada Allah. Karena ayat di atas jelas bahwa perintah kepada rosul adalah
wajib. Hal ini terbukti dari redaksi ayat yang mengulang kata ”taatilah” pada
perintah taat yang kedua. Rosulullah telah bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي
فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ
”dari Abu Hurairah
dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
"Barangsiapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, barangsiapa
bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah.(H.R.Muslim)”
bahkan dalam hadis
yang lain, ketaatan kepada rosul adalah syarat sesorang bisa masuk surga.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي
يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ
يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
”dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Setiap umatku masuk surga selain yang enggan,
" Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas siapa yang
enggan?" Nabi menjawab: "Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa
yang membangkang aku berarti ia enggan."(H.R. Bukhori)
3.
Kepada
Ulil Amri / pemerintah
Ketaatan yang
ketiga adalah perintah taat kepada pemimpin. Hanya saja ketaatan kepada
pemimpin ini tidaklah mutlak, tetapi mempunyai syarat yaitu selama pemimpin
tersebut berpegang kepada kitab Allah dan rasul-Nya. Menurut Prof.
Dr.Quraisy Syihab, pada kata “Ulil Amri” dalam ayat di atas tidak didahului
kata “ taatilah”. Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Ulil Amri tidak berdiri
sendiri, tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah dan
rasul-Nya. Oleh karena itu, apabila perintah Ulil Amri itu bertentangan dengan
perintah Allah dan rasul-Nya, maka kita tidak dibenarkan untuk mentaatinya.
B.
IKHLAS
Secara bahasa,
ikhlas bermakna bersih dari kotoran. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti
niat mengharap ridha Allah semata dalam beramal sebagai wujud menjalankan
ketaatan kepada Allah dalam kehidupan dalam semua aspek. Ikhlas merupakan
akhlak yang agung. Karenanya, ia memilii kedudukan yang sangat penting dalam
setiap amalan,baik amalan hati,lisan,maupun badan. Mengapa demikian?. Betapa
tidak,ternyata nilai setiap amalan sesorang di sisi Allah adalah tergantung
pada keikhlasan dia dalam berniat. Artinya,menjaga niat yang ikhlas semata-mata
karena Allah dalam menjalankan segala amalan merupakan syarat utama diterimanya
amalan tersebut. Oleh karena itu, kita harus mendahului dengan niat yang ikhlas
dalam menjalankan amalan sebagaimana perintahNya :
ö@è% ¨bÎ) ÎAx|¹ Å5Ý¡èSur y$uøtxCur ÎA$yJtBur ¬! Éb>u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÏËÈ
”Katakanlah:
"Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam, (Q.S. 6 Al An'aam 162)
Demikian pula rasulullah s.a.w. telah bersabda berhubungan dengan
pentingnya menjaga niat yang ikhlas. Beliau bersabda:
عن عُمَرٍ بْنِ الْخَطَّابِ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ
امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى
امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar bin Al Khaththab
r.a. berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang
(tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang
ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka
hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"(H.R.
Bukhari)
Demikianlah,betapa niat yang ikhlas memegang peran yang penting dan
utama dalam setiap amalan. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan untuk
menjaga keiikhlasan dalam berniat sehingga kita termasuk golongan muklishin.
C.
KHAUF
Diantara
akhlak mulia yang menghiasai seorang mukmin adalah khauf. Secara bahasa,
khauf berasal dari bahasa arab yang berarti takut; resah; khawatir;
cemas. Jika didefinisikan secara lebih panjang, khauf
berarti perasaan gelisah atau cemas terhadap suatu hal yang belum diketahui
dengan pasti. Menurut istilah dalam Islam, sebagaimana diuraikan dalam kamus tasawuf, khauf adalah
suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna
pengabdiannya, takut atau khawatir kalau-kalau Allah tidak senang padanya dan
akan menghukumnya karena apa yang telah ia lakukan. seorang ulama’ berkata
bahwa orang tidak dikatakan takut hanya karena menangis dan megusap air
matanya, tetapi karena takut melakukan sesuatu yang mengakibatkan ia disiksa
karenanya.
Sifat khauf ini muncul disebabkan seseorang telah benar akidahnya
(berakidah Islam) yang meyakini keberadaan Allah dan mengenalNya melalui
sifat-sifatNya diantaranya adalah Allah yang maha Wujud,maha Melihat,maha
Tahu, maha Mendengar,dan lain sebagainya. Dengan begitu, karena mengenal Allah
dengan baik, dia akan senantiasa merasa diawasi dan akan senantiasa dimintai
pertanggung‑jawaban atas segala yang dia lakukan. Lebih mudahnya berarti
semakin sesorang mengenal Allah maka semakin besar pula sifat khauf terhadapNya. Rasulullah s.a.w. bersabda dalam
hadis beliau yng diriwayatkan oleh imam bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a.:
...فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ
لَهُ خَشْيَةً
‘’Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang
paling tahu dengan Allah dan paling takut kepada-Nya.’’(HR.Bukhari dan Muslim)
Dari paparan di atas, maka bisa kita tarik kesimpulan
bahwa khauf harus ada pada diri kita,setiap mukmin. Untuk mengontrol diri dari
perbuatan-perbuatan yang tidak disukai oleh Allah.
Sebanarnya,ada satu akhlak mulia lagi yang mengikuti khauf yang harus
kita miliki,yaitu roja’. Secara bahasa, roja’ berarti harapan/cita-cita; sedangkan menurut
istilah ialah bergantungnya hati dalam meraih sesuatu di kemudian hari. Roja`
merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan, tidak boleh ada
kecuali mengharap hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Memalingkannya kepada
selain Allah adalah kesyirikan, bisa berupa syirik besar atau pun syirik kecil
tergantung apa yang ada dalam hati orang yang tengah mengharap.
Roja’ (harapan/mengharap) tidaklah menjadikan pelakunya terpuji kecuali bila disertai amalan. Berkata Ibnul Qoyyim dalam “Madarijus-Salikin”: “..bahwa roja` tidak akan sah kecuali jika dibarengi dengan amalan. Oleh karena itu, tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal”.Amal yang dimaksud adalah bukan maksiat tentunya. Akan sangat konyol dan merupakan bentuk penghinaan kepadaNya jika kita bermaksiat tapi mengharap ridha dariNya.
Roja’ (harapan/mengharap) tidaklah menjadikan pelakunya terpuji kecuali bila disertai amalan. Berkata Ibnul Qoyyim dalam “Madarijus-Salikin”: “..bahwa roja` tidak akan sah kecuali jika dibarengi dengan amalan. Oleh karena itu, tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal”.Amal yang dimaksud adalah bukan maksiat tentunya. Akan sangat konyol dan merupakan bentuk penghinaan kepadaNya jika kita bermaksiat tapi mengharap ridha dariNya.
Khauf dan roja’ ibarat dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu
dengan yang lainnya,keduanya saling mendukung. Bila keduanya menyatu
dalam diri seorang mukmin, maka akan seimbanglah seluruh aktivitas
kehidupannya. Bagaimana tidak, sebab dengan khauf akan membawa dirinya untuk
selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan; sementara
roja` akan menghantarkan dirinya untuk selalu mengharap apa yang ada di sisi
Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. Pendek kata dengan khauf (takut) dan roja`
(pengharapan) seorang mukmin akan selalu ingat bahwa dirinya akan kembali
ke hadapan Sang Penciptanya (karena adanya rasa takut), disamping ia akan
bersemangat memperbanyak amalan-amalan (karena adanya pengharapan). Mungkin
jika kita boleh katakan dengan bahasa kita sekarang ini, khauf dan roja’
adalah “harap-harap cemas”. Keterkaitan
dua akhlak mulia ini sebagaiman difirmankan oleh Allah :
¨bÎ) tûïÏ%©!$# Nèd ô`ÏiB Ïpuô±yz NÍkÍh5u tbqà)Ïÿô±B ÇÎÐÈ tûïÏ%©!$#ur Oèd ÏM»t$t«Î/ öNÍkÍh5u tbqãZÏB÷sã ÇÎÑÈ tûïÏ%©!$#ur Oèd öNÍkÍh5tÎ/ w cqä.Îô³ç ÇÎÒÈ tûïÏ%©!$#ur tbqè?÷sã !$tB (#qs?#uä öNåkæ5qè=è%¨r î's#Å_ur öNåk¨Xr& 4n<Î) öNÍkÍh5u tbqãèÅ_ºu ÇÏÉÈ y7Í´¯»s9'ré& tbqããÌ»|¡ç Îû ÏNºuösø:$# öNèdur $olm; tbqà)Î7»y ÇÏÊÈ
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati
karena takut akan (azab) Tuhan mereka,dan orang-orang yang beriman dengan
ayat-ayat Tuhan mereka,dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan
mereka (sesuatu apapun),dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka
berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka
akan kembali kepada Tuhan mereka,mereka itu bersegera untuk mendapat
kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Q.S.
al-Mukminun : 57-61)
Berkaitan dengan ayat di atas, ‘Aisyah
-radhiyallahu ‘anha- pernah bertanya kepada Rosulullah -shallallahu ‘alaihi wa
sallam- apakah mereka itu (yang dimaksud dalam ayat diatas) adalah orang-orang
yang meminum khamr, berzina, dan mencuri?.Rosulullah menjawab,
“Bukan! Wahai putri Ash-Shiddiq. Justru mereka adalah orang-orang yang
melakukan shoum, sholat, dan bershodaqah, dan mereka khawatir tidak akan
diterima amalannya. Mereka itulah orang-orang yang bergegas dalam
kebaikan.” [HR. At-Tirmidzi dari 'Aisyah].
D.
TAUBAT
1.
Pengertian
Taubat
Taubat secara bahasa berarti ”kembali”, secara istilah, taubat
berarti kembali ke jalan yang benar dengan didasari keinginan yang kuat dalam
hati untuk tidak kembali melakukan dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.
Sebagai manusia biasa,bukan malaikat ataupun nabi yang memilki sifat ma’shum
(terjaga dari perbuatan dosa),secara langsung atau tidak langsung, sengaja atau
tidak sengaja, kerap kali akan bersinggungan dengan yang namanya kesalahan atau
dosa. . Baik kesalahannya sebagai makhluk individu yang berhubungan langsung
dengan Allah,maupun sebagai makhluk sosial yang berhubungan dengan anak Adam
yang lain. Untungnya, sebagai seorang muslim diberi jalan selebar-lebarnya oleh
Allah untuk memperbaiki kesalahan itu melaui sebuah pintu yang disebut dengan
taubat. Dalam sebuah hadis disebutkan :
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي
آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
dari Anas dia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua bani Adam pernah
melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang segera
bertaubat."(H.R. Ibnu Majjah dari Anas)
Allah adalah Dzat yang maha Menerima Taubat, sebagaimana Ia telah
memproklamirkannya dalam Q.S. an-Nashr:3. Tidak ada satu dosapun yang tidak
diampuni oleh Allah kecuali syirik atau mempersekutukaNnya, sebagaimana
firmanNya :
¨bÎ) ©!$# w ãÏÿøót br& x8uô³ç ¾ÏmÎ/ ãÏÿøótur $tB tbrß y7Ï9ºs `yJÏ9 âä!$t±o 4 `tBur õ8Îô³ç «!$$Î/ Ïs)sù #utIøù$# $¸JøOÎ) $¸JÏàtã ÇÍÑÈ
”Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan
Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.(Q.S. an-Nisa :48)
2.
Jenis
dan syarat taubat
Di atas telah dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk individu dan juga
makhluk sosial. Artinya,dia tidak terlepas dari berbuat salah yang berhubungan
dengan Tuhan dan berbuat salah yang berhubungan dengan sesama manusia.
Karenanya, jenis dan syarat taubat dibagi menjadi dua yaitu :
a.
Taubat
menyangkut dosa terhadap Allah
Imam Nawawi mengatakan bahwa ada 3 (tiga) syarat
dalam melaksanakan taubat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim atas dosa
yang dilakukan apabila maksiat itu di antara manusia dengan Allah dan tidak
berhubungan dengan hak sesama manusia (haqqul adami), maka ada 3 (tiga) syarat:
1)
Meninggalkan perilaku dosa itu sendiri
2)
Menyesali perbuatan maksiat yang telah
dilakukan.
3)
Berniat tidak melakukannya lagi selamanya.
Apabila tidak terpenuhi
ketiga syarat di atas, maka tidak sah taubatnya.
b.
Taubat
menyangkut dosa terhadap sesama manusia
Sedangkan jika dosa itu berhubungan dengan hak anak Adam/sesama manusia
maka lebih lanjut imam Nawawi menyebutkan ada 4 (empat) syarat yaitu :
1)
Meninggalkan
perilaku dosa itu sendiri
Menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukan.
Menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukan.
2)
Berniat
tidak melakukannya lagi selamanya.
3)
Membebaskan
diri dari hak manusia yang dizalimi dg cara sbb:
(a) Apabila menyangkut harta dengan cara mengembalikan harta tersebut;
(b) Apabila menyangkut non-materi seperti pernah memfitnah, menggunjingnya (ghibah), dan lain-lain, maka hendaknya meminta maaf kepada yang bersangkutan.
(a) Apabila menyangkut harta dengan cara mengembalikan harta tersebut;
(b) Apabila menyangkut non-materi seperti pernah memfitnah, menggunjingnya (ghibah), dan lain-lain, maka hendaknya meminta maaf kepada yang bersangkutan.
Taubat dari segala
kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru
akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena
sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan
diri. Sebagaimana firmanNya dalam surat Al-Baqarah: 222
¨bÎ) ©!$# =Ïtä tûüÎ/º§qG9$# =Ïtäur úïÌÎdgsÜtFßJø9$# ÇËËËÈ
”Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar