A.
Adab Terhadap Orang Tua
Diriwayatkan
oleh Imam Muslim, suatu ketika Abu Hurairah menghadap Nabi karena ibunya
menolak untuk masuk Islam. Maka ia meminta Nabi mendoakan supaya
ibunya masuk Islam. Sehingga
pulanglah ia ke rumah, dan ibunya ternyata baru saja mendapat hidayah, lalu
berkata wahai Abu Hurayrah: aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad
adalah utusanNya.
Kedua orang tua merupakan sebab adanya manusia.
Keduanya telah merasakan kelelahan karena mengurus anak dan menyenangkan
mereka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala mewajibkan hamba-hamba-Nya berbakti kepada
kedua orang tua. Bahkan memposisikan bakti pada orang tua setelah tauhid kepada Allah SWT. Rasulullah juga bersabda:
مَنْ
سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَيُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ
وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang senang
dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka berbaktilah kepada kedua
orang tuanya dan sambunglah tali silaturrahim.” (HR. Al-Haitsami)
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga
bersabda,
رَغِمَ أَنْفُ
ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ
عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
“Hinalah ia, hinalah ia dan hinalah
ia.” Lalu ada yang bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu
orang yang mendapatkan orang tuanya sudah tua; salah satunya atau kedua-duanya
tetapi ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim).
Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim
berbakti kepada kedua orang tuanya dan bergaul dengan sikap yang baik. Di
antara adab bergaul dengan orang tua adalah sbb.:
1. Mencintai dan sayang kepada kedua orang tua
Seorang muslim
menyadari bahwa kedua orang tuanya memiliki jasa yang besar terhadapnya, karena
keduanya telah mengerahkan pikiran dan tenaga untuk menyenangkan anaknya. Oleh
karena itu, meskipun seorang muslim telah mengerahkan segala kemampuannya dalam
berbakti kepada kedua orang tuanya, namun tetap saja ia belum dapat
membalasnya.
2. Menaati keduanya
Seorang muslim
hendaknya menaati perintah kedua orang tuanya, kecuali apabila kedua orang tua
menyuruh berbuat maksiat kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Allah Subhaanahu
wa Ta'aala berfirman: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan
dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah
kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan
ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah
kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Terj.
Q.S. Luqman: 15)
3. Menanggung dan menafkahi orang tua.
Seorang muslim
juga hendaknya menanggung dan menafkahi orang tua agar ia memperoleh keridhaan
Allah. Jika ia seorang yang berharta banyak, lalu orang tuanya butuh kepada
sebagian harta itu, maka ia wajib memberikannya. Hal ini berdasarkan hadits
berikut:
عَنْ
جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي
مَالًا وَوَلَدًا وَإِنَّ أَبِي يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِي فَقَالَ أَنْتَ
وَمَالُكَ لِأَبِيكَ
Dari Jabir bin Abdillah, bahwa
seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai harta dan
anak, sedangkan bapakku ingin menghabiskan hartaku.” Maka Beliau bersabda,
“Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu.” (HR. Ibnu Majah).
4. Menjaga perasaan keduanya dan berusaha membuat
ridha orang tuanya dengan perbuatan dan ucapan.
Seorang muslim
juga harus menjauhi ucapan atau tindakan yang menyakitkan hati orang tuanya
meskipun sepele, seperti berkata “Ah.” Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia.” (Terj. Al Israa’: 23)
Hendaknya ia
mengetahui, bahwa ridha Allah ada pada keridhaan orang tua, dan bahwa murka-Nya
ada pada kemurkaan orang tua. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ
وَ سُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
“Ridha
Allah ada pada keridhaan orang tua dan murka Allah ada pada kemurkaan orang
tua.” (HR. Tirmidzi
dan Hakim dari Abdullah bin ‘Amr).
5. Tidak memanggil orang tua dengan namanya
6. Tidak duduk ketika keduanya berdiri dan tidak
mendahuluinya dalam berjalan
Tidaklah
termasuk adab yang baik kepada kedua orang tua jika seorang anak duduk
sedangkan ibu-bapaknya berdiri atau meluruskan kedua kakinya, sedangkan
keduanya duduk di hadapannya, bahkan hendaknya ia memiliki adab yang baik di
hadapannya dan merendahkan diri kepada keduanya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala
berfirman:
“Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Terj. Q.S. Al Israa’: 24)
7. Tidak mengutamakan istri dan anak daripada kedua
orang tua
Hal ini
berdasarkan hadits yang menyebutkan tentang tiga orang Bani Israil yang
berjalan-jalan di gurun, lalu mereka terpaksa bermalam di gua. Ketika mereka
masuk ke dalamnya, tiba-tiba ada sebuah batu besar yang jatuh dari atas gunung
sehingga menutupi pintu gua itu, lalu mereka berusaha menyingkirkan batu
tersebut, tetapi mereka tidak bisa, maka akhirnya mereka berdoa kepada Allah
dengan menyebutkan amal saleh yang pernah mereka lakukan. Salah seorang di
antara mereka berkata, “Ya Allah, saya memiliki kedua orang tua yang sudah
lanjut usia dan saya biasanya tidak memberi minuman kepada keluarga dan harta
yang saya miliki (seperti budak) sebelum keduanya. Suatu hari saya pernah pergi
jauh untuk mencari sesuatu sehingga saya tidak pulang kecuali setelah keduanya
tidur, maka saya perahkan susu untuk keduanya, namun saya mendapatkan keduanya
telah tidur dan saya tidak suka memberi minum sebelum keduanya baik itu
keluarga maupun harta (yang aku miliki). Aku menunggu, sedangkan gelas masih
berada di tanganku karena menunggu keduanya bangun sehingga terbit fajar.
Keduanya pun bangun lalu meminum susu itu. Ya Allah, jika yang aku lakukan itu
karena mengharapkan wajah-Mu, maka hilangkanlah derita yang menimpa kami karena
batu ini,” yang lain juga menyebutkan amal saleh mereka yang ikhlas yang pernah
mereka lakukan, sehingga batu besar itu pun bergeser dan mereka dapat keluar.
8. Mendoakan keduanya baik mereka masih hidup atau
sudah wafat
Demikianlah
seharusnya sikap yang seharusnya dilakukan seorang muslim terhadap kedua orang
tuanya, yakni banyak mendoakan kedua orang tuanya, dan itulah akhlak para nabi;
mereka berbakti kepada kedua orang tuanya dan mendoakan kebaikan kepada mereka.
Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah berdoa untuk orang tuanya sebagaimana disebutkan
dalam Al Qur’an surat Nuh: 28: “Ya
Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman
dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau
tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (Terj. Nuh: 28)
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ
عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ
عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seseorang meninggal, maka
terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang
dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ
دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ
وَلَدِكَ لَكَ
“Sesunguhnya seseorang benar-benar
diangkat derajatnya di surga, lalu ia berkata, “Karena apa ini?” Lalu dikatakan
kepadanya, “Karena permintaan ampun anakmu untukmu.” (HR. Ibnu Majah).
Oleh karena
itu, hendaknya seorang muslim mendoakan ampunan untuk kedua orang tuanya,
membayarkan hutang dan nadzarnya dan sebagainya.
9. Berbuat baik kepada kawan-kawan orang tua setelah
orang tua telah wafat
Dari Abdullah
bin Dinar dari Abdullah bin Umar, bahwa seseorang dari kalangan Arab baduwi
pernah ditemuinya di jalan menuju Mekah, lalu Abdullah mengucapkan salam
kepadanya dan menaikkannya ke atas keledai yang ditungganginya dan memberikan
sorban yang dipakainya kepadanya. Abdullah bin Dinar berkata: Kami pun berkata,
“Semoga Allah memperbaikimu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang Arab
baduwi, mereka biasanya puas dengan perkara yang sedikit, lalu Abdullah
berkata, “Sesunggunya bapak orang ini adalah teman Umar bin Khaththab, dan
sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّ
أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
“Sesungguhnya berbakti yang paling
baik adalah ketika seorang anak menyambung hubungan dengan kawan-kawan
bapaknya.” (HR.
Muslim)
10.
Tidak Mencaci maki kedua orang tua.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Termasuk dosa besar
adalah seseorang mencaci maki orang tuanya.” Para sahabat bertanya, ‘Ya
Rasulullah, apa ada orang yang mencaci maki orang tuanya?’ Beliau menjawab,
“Ada. ia mencaci maki ayah orang lain kemudian orang tersebut membalas
mencaci maki orang tuanya. Ia mencaci maki ibu orang lain lalu orang itu
membalas mencaci maki ibunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
11.
Tidak mengeraskan suaranya melebihi
suara kedua orang tua demi sopan santun terhadap mereka. alQur’an membimbing
untuk berkata-kata dengan orang tua dengan kalimat yang ringan (qaulan
maysuuraa).
12.
Menjawab panggilan mereka dengan jawaban
yang lunak seperti “Labbaik, siap, atau baiklah”.
13.
Bersikaplah rendah hati dan lemah
lembut kepada kedua orang tua seperti melayani mereka menyuapi makan dengan
tangannya bila keduanya tidak mampu, dengan mengutamakan keduanya diatas diri
dan anak-anaknya.
14.
Tidak mengungkit-ungkit kebaikanmu
kepada keduanya maupun pelaksanaan perintah yang dilakukan olehnya. Seperti ia
berkata “Aku beri engkau sekian dan sekian dan aku lakukan begini kepada
kamu berdua”. Karena perbuatan itu bisa mematahkan hati, ada yang
mengatakan menyebut-nyebut kebaikan itu bisa memutuskan hubungan.
15.
Janganlah ia memandang kedua orang
tua dengan pandangan sinis dan bermuka cemberut kepada keduanya.
B.
Adab pada Guru
Sosok guru tidak akan pernah lepas dari kehidupan
kita. Mulai dari kita kecil sampai kita dewasa kita akan bertemu terus dengan
sosok guru. Seorang yang diguguh dan ditiru ini menyalurkan ilmu
pengetahuannya kepada murid-muridnya agar mereka menjadi seseorang yang
dapat berkarya sesuai dengan bakat, prestasi, dan kualitas yang dimilikinya.
Dengan perannya
yang sangat besar dalam kehidupan kita, maka guru wajib itu dihormati oleh
kita. Dalam Islam pun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam bersikap
selaku murid terhadap gurunya. Di antaranya adalah:
1)
Menghormati dan
menghargainya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Bukan dari
golongan kami mereka yangtidak menghormati yang tua, tidak menyayangi yang
kecil dan tidak mengetahui hak orang yang alim”.
2)
Tidak
mencari-cari kelemahan dan kesalahannya.
3)
Tidak menggibahnya
(membicarakannya dengan yang dia tidak senangi), bahkan membelanya ketika
dighibah oleh orang lain.
4)
Mendoakannya
dari kejauhan semoga diberi pahala atas ilmu yang sudah ia ajarkan.
Mendoakan keampunan dan kesejahteraan buat guru.
5)
Mengambil
manfaat dari kebaikan sang guru, dan tidak mencontohnya andai kata ia melakukan
kekhilafan.
6)
Menisbatkan
ilmu yang ia ajarkan kepadanya; karena hal itu mengangkat kedudukannya di mata
manusia
7)
Menjaga adab
berbicara dan diskusi dengannya.
8)
Taat kepada guru kita dalam semua
perkara kecuali perkara yang maksiat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Bertutur katalah dengan lemah lembut
dan penuh rendah diri kepada guru kita.
9)
Meminta izin kepada guru kita untuk bertanya atau pergi dari
majlis.
Memberi salam kepada guru apabila berjumpa dan sentiasa hormat kepadanya.
Memberi salam kepada guru apabila berjumpa dan sentiasa hormat kepadanya.
10) Memberi
perhatian besar dalam pengajaran guru, duduk dengan sopan dan senantiasa dalam
keadaan tenang. Rendah hati di
hadapan guru. Dengan rendah hati maka ilmu akan mudah masuk dalam diri murid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar