Jumat, 06 Januari 2017

JURNAL TESIS



PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Sebagai usaha sadar, untuk meningkatkan kualitas pendidikan seorang guru tentunya memerlukan strategi dan metode penyampaian materi yang tepat dalam mendesain  suatu kegiatan pembelajaran yang dapat merangsang motivasi siswa dalam belajar sehingga  didapatkan  output  yang  diharapkan  berupa  hasil  belajar  yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan  Dasar dan  Menengah  menjelaskan  bahwa:
Standar Proses  meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Mengingat  keragaman latar belakang dan karakteristik siswa, serta tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, proses pembelajaran untuk setiap mata pelajaran harus fleksibel, bervariasi, dan memenuhi standar. Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan  dasar dan  menengah  harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa (BSNP, 2007: 6).

Di era globalisasi saat ini, untuk merealisasi Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan  Dasar dan  Menengah tersebut, banyak sekali teknologi multimedia yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah, perpustakaan yang lengkap dengan buku-buku yang terbaru sebagai pusat sumber belajar, demikian juga pemanfaatan dan penerapan media pembelajaran lainnya yang sedang digalakkan, yaitu berbagai macam multimedia yang cocok dengan situasi dan kondisi saat ini.

Seperti diketahui, Multimedia  merupakan  perpaduan  antara  berbagai  media  (format  file) yang berupa teks, gambar, grafik, musik, animasi, video, interaksi dan lain-lain, yang telah dikemas menjadi file digital (komputerisasi), serta digunakan untuk menyampaikan pesan kepada pengguna. Sedangkan interaktif berkaitan dengan proses komunikasi dua arah atau lebih dari komponen-komponen komunikasi. Komponen komunikasi dalam multimedia interaktif adalah hubungan antara manusia sebagai user/pengguna dengan komputer sebagai alat yang memberikan informasi.

Teknologi  multimedia  telah  menjanjikan  potensi  besar  dalam  merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi dan sebagainya. Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga menghasilkan hasil yang maksimal. Demikian juga bagi siswa, dengan multimedia diharapkan mereka akan lebih mudah untuk menentukan dengan apa dan bagaimana  menyerap informasi secara cepat dan efisien. Oleh karena itu, kehadiran multimedia dalam proses belajar menjadi sangat bermanfaat dan dibutuhkan.

Media pembelajaran mempunyai dua komponen, yaitu hardware dan software serta mempunyai bentuk-bentuk baik teks, audio, visual, gambar, dan animasi sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Untuk mengembangkan media pembelajaran perlu diperhatikan prinsip VISUALS, yang dapat digambarkan sebagai singkatan dari kata-kata: Visible: mudah dilihat, Interesting: menarik, Simple: sederhana, Useful: isinya berguna/bermanfaat, Accurate: Benar (dapat dipertanggungjawabkan), Legitimate: masuk akal/sah, Structured: terstruktur/tersusun dengan baik (Nurseto, 2011).

Kenyataan yang terjadi saat ini, berdasarkan temuan di lapangan  menunjukkan bahwa,  pembelajaran Akidah Akhlak sangat dipengaruhi adanya sarana penunjang media, sumber buku yang ada di sekolah, kemampuan guru dalam mengembangkan metode dan media. Sarana dan prasarana yang berteknologi masih kurang maksimal dalam  penerapannya, sehingga untuk menyampaikan materi pembelajaraan kurang maksimal.

Selanjutnya, permasalahan kemampuan guru dalam mengembangkan metode dan media serta kesulitan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang partisipatif terjadi pada pembelajaran Akidah Akhlak dalam materi Akhlak Terpuji kepada Diri Sendiri. Hasil observasi  dalam proses  pembelajaran Akidah Akhlak  ketika pelaksanaan pembelajaran berlangsung  masih dijumpai kendala, yaitu siswa kesulitan memahami konsep Tawakal, Ikhtiar, Sabar, Syukur, dan Qona’ah yang dipelajarinya. Peran siswa tampak belum secara optimal diperlakukan sebagai subjek didik yang memiliki potensi untuk berkembang secara mandiri. Posisi siswa masih dalam situasi dan kondisi belajar yang menempatkan siswa dalam keadaan pasif. Penguasaan konsep  siswa dalam pembelajaran Akidah Akhlak masih sangat kurang sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa rendah. Hal tersebut dikarenakan guru mengajar kurang menarik, belum  memaksimalkan  model  pembelajaran  yang  inovatif  dan  juga belum menggunakan media dalam pembelajaran secara maksimal. Hal ini mengakibatkan siswa kurang menguasai konsep dari kegiatan pembelajaran yang disampaikan.

Lebih lanjut, berdasarkan pengamatan sementara penggunaan multimedia interaktif untuk pembelajaran di MTs Al-Manaar Muhammadiyah masih jarang. sehingga hasil siswa dari tahun ke tahun tidak memuaskan. Di samping itu prestasi siswa dari tahun ke tahun tidak memuaskan, padahal para siswa lebih antusias apabila belajar dengan menggunakan komputer.

Untuk mengantisipasi permasalahan yang terjadi di atas, penggunaan multimedia merupakan salah satu jalan keluarnya. Pendapat tentang manfaat media pembelajaran dikemukakan oleh Dale (Latuheru 1988: 23), bahwa apabila media pembelajaran digunakan dengan baik dalam proses belajar mengajar, maka ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh: (1) perhatian siswa terhadap materi pelajaran akan lebih tinggi, (2) siswa  mendapat pengalaman yang lebih kongkrit, (3) mendorong siswa untuk berani bekerja secara mandiri, (4) hasil yang diperoleh oleh siswa sulit untuk dilupakan”. Secara garis besar media pembelajaran memiliki manfaat dalam memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat menarik perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih merangsang kegiatan belajar siswa. Penerapan media pembelajaran ini harus didukung oleh ketersediaan sumber belajar yang mudah diakses dan memiliki  konten  yang  interaktif.  Salah  satu  media  pembelajaran  yang dapat dikembangkan adalah Multimedia Presentasi.
KAJIAN PUSTAKA                                
A.      Landasan Filosofis
            Seorang guru dalam menggunakan media pembelajaran perlu memperhatikan landasan filosofis. Artinya, penggunaan media semestinya didasarkan pada nilai kebenaran yang telah ditemukan dan disepakati banyak orang baik kebenaran akademik maupun kebenaran sosial. Misalnya, isi pesan (materi pelajaran) yang disampaikan kepada siswa seharusnya sudah merupakan kebenaran yang teruji secara obyektif, radikal dan empiris. Jangan sampai materi pelajaran masih salah, tidak baik, dan tidak indah yang disampaikan kepada peserta didik. Misalnya, guru mengajarkan tentang sejarah kebudayaan islam (SKI) dengan materi silsilah Nabi Muhammad SAW. Seorang guru perlu mengecek unsur kebenaran historis silsilah tersebut sebelum disampaikan kepada peserta didik. Proses inilah yang disebut penggunaan landasan filosofis dalam memilih isi dan media pembelajaran.

              Media yang digunakan guru juga perlu dicek kembali kebenaran dan ketepatannya. Guru yang memilih media belum sesuai dengan materi yang akan disampaikan berarti media tersebut tidak benar. Tidak bagus, dan tidak indah artinya penggunaan media yang tidak tepat belum mempertimbangkan landasan filosofis.

              Landasan filosofis Pendidikan teknologi bertumpu pada asumsi bahwa model pendidikan itu hendaknya merupakan suatu bentuk atau contoh utama dari masyarakat yang lebih luas sebagai hasil karya dari pendidikan. Dalam proses belajar-mengajar, multinedia presentasi menitik beratkan pada kemampuan siswa secara individual dimana materi disusun berdasarkan tingkat kesiapan sehingga siswa menunjukkan perilaku tertentu yang diharapkan.



B.       Teori yang Melandasi Penggunaan Multimedia
Munculnya  pengembangan  multimedia  tidak  bisa  lepas  dari teori belajar yang melandasinya. Teori-teori belajar memberikan dasar berpijak dalam membangun suatu pola pikir sistematis dalam pembelajaran, sehingga produk-produk pengembangan yang dihasilkan dapat diaplikasikan  dalam pembelajaran  secara optimal.  Ada banyak teori yang melandasi pikiran tentang proses pembelajaran termasuk penggunaan   multimedia   sebagai   sumber   pembelajaran.   Hainich, Molenda  and  Russell  (1996:15-18)  mengungkapkan   bahwa  paling tidak ada tiga perspektif pada teori pembelajaran,  yaitu: behaviourist perspective, cognitive perspective, dan constructivist perspektive. Masing-masing   teori  tersebut  memiliki  sudut  pandang  yang  khas dalam menjelaskan  pengertian dan hakikat belajar dan pembelajaran, akan   tetapi   semuanya   saling   melengkapi   dan   memiliki   dampak pedagogis yang relatif sama.

Adapun teori belajar yang melandasi penulisan tesis ini adalah teori konstruktivistik. Teori   konstruktivistik   berpendapat   bahwa   belajar   bukanlah sekedar menghafal  akan tetapi, proses pengkonstruksi  pengetahuan melalui  pengalaman   (Wina  Sanjaya,   2008:246).   Senada  dengan pendapat   tersebut,   Asri   Budiningsih   (2005:58)   mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyususn konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.

Pradigma konstruktivistik  memandang  peserta didik sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi  pengetahuan  yang baru.  Oleh  sebab  itu meskipun kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.

Sesuai dengan karakteristik proses pembelajaran konstruktivistik, mempunyai implikasi terhadap pengembangan multimedia  interaktif  dalam  hal:  (1)  proses  pembelajaran  harus menjadi  sebuah  proses  yang  aktif  yang  difokuskan  pada  peserta didik,  untuk  itu  memerlukan   suatu  media  pembelajaran     yang memadai; (2) penekanan pembelajaran lebih pada pembentukan pengetahuan   melalui  pengalaman  belajar  peserta  didik;  dan  (3) proses  pembelajaran  harus  dapat  membangkitkan  belajar  peserta didik baik secara individual maupun belajar secara kooperatif untuk menemukan suatu pengetahuan.


C.      Kedudukan Multimedia dalam Proses Pembelajaran

Belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Belajar merupakan suatu proses yang berlangsung seumur hidup, dalam belajar terjadi perubahan baik tingkah  laku,  sikap  dan  cara  berpikir.  Pendapat  Hamalik  (2002)  menyatakan bahwa “belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku berkat pengetahuan dan latihan. Disini guru harus mengantarkan siswanya untuk memperoleh dan menghasilkan perubahan tingkah laku tersebut.  Good dan Brophy dalam Uno (2008: 15) menyatakan bahwa “belajar merupakan suatu proses atau interaksi yang dilakukan seseorang dalam memperoleh sesuatu yang baru dalam bentuk perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman itu sendiri.

Menurut Solihatin (2012: 5) :Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan   perilaku   akibat   interaksi   individu   dengan   lingkungan.   Proses perubahan perilaku ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi ada yang sengaja direncanakan dan ada yang dengan sendirinya terjadi karena proses kematangan. Proses  yang sengaja direncanakan  agar  terjadi  perubahan  perilaku  ini  disebut dengan proses belajar. Proses ini merupakan aktivitas yang terjadi dalam interaksi aktif dengan lingkungan  yang menghasilkan perubahan-perubahan  yang relatif berbekas dan konstan.

Slameto (2003: 2) berpendapat bahwa” belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya”. Pendapat senada dikemukakan Uno (2008) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar adalah suatu proses yang terjadi pada manusia dengan berpikir, merasa dan bergerak untuk memahami setiap kenyataan yang diinginkannya untuk menghasilkan sebuah perilaku, pengetahuan, teknologi atau apapun yang berupa karya dan karsa manusia tersebut. Belajar berarti sebuah pembaharuan menuju pengembangan diri individu agar kehidupanya bisa lebih baik dari sebelumnya. Belajar juga dapat diartikan sebagai adaptasi terhadap lingkungan dan interaksi seorang manusia dengan lingkungan tersebut. Definisi belajar oleh Gagne hampir sama dengan definisi belajar yang dikatakan Crow dalam (Sagala, 2005: 13) belajar adalah upaya memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap. Belajar merupakan siatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu. Belajar menghasilkan perubahan perilaku yang secara relatif tetap dalam berfikir, merasa dan melakukan.

Perubahan tersebut terjadi sebagai hasil latihan, pengalaman, dan pengembangan. Jadi belajar menghasilkan perubahan perilaku dalam diri peserta didik. Perubahan tigkah laku inilah sebagai pencerminan dari hasil belajar. Belajar dikatakan berhasil manakala seseorang mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajari,belajar seperti ini disebut “rote learning”. Kemudian jika yang telah dipelajari itu mampu disampaikan dan diekspresikan bahasa sendiri maka disebut “over learning”.

Sedangkan pengertian belajar menurut John Dewey dalam (Sujana, 2000: 19) adalah interaksi antara stimulus dengan respon, merupakan hubungan dua arah antara belajar dan lingkungannya. Hal ini berarti bahwa dalam belajar siswa akan menerima stimulus dari lingkungan berupa masalah dan lingkungan pun akan member  bantuan-bantuan  yang  kemudian  ditafsirkan  oleh  system  syaraf  otak secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis serta dicari pemecahanya. Inti dari belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku secara sadar yang menyangkut aspek-aspek pengetahuan,pengertian, sikap, keterampilan, kebiasaan dan sebagainya yang dapat dilakukan dengan memberi stimulus-stimulus maupun pengalaman-pengalaman selama proses belajar berlangsung.


Secara fundamental Dollar dan Miller dalam (Rusyan, 2000: 164) menegaskan bahwa keefektifan perilaku belajar itu dipengaruhi oleh empat hal yaitu adanya:
1.    Motivasi, dimana siswa harus menghendaki sesuatu (the learner must want something)
2.    Perhatian   dan   mengetahui   sasaran,   dimana   siswa   harus memperhatikan sesuatu (the learner must notice something)
3.    Usaha, dimana siswa harus melakukan sesuatu (the learner must do something)
4.    Evaluasi dan pemantapan hasil, dimana siswa harus memperoleh sesuatu (the learner must get something)

Proses belajar adalah suatu hal yang   kompleks, tetapi dapat juga dianalisa dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip atau asas-asas belajar (Aqib 2002: 44-45). Hal ini perlu kita ketahui agar kita memiliki pedoman dan tehnik belajar yang baik. Prinsip-prinsip itu adalah :
1.    Belajar  harus  bertujuan  dan  terarah.  Tujuan  akan  menuntutnya  dalam belajar untuk mencapai harapan-harapan.
2.    Belajar memerlukan bimbingan, baik dari bimbingan guru maupun buku pelajaran itu sendiri.
3.    Belajar  memerlukan  pemahaman  atas  hal-hal  yang  dipelajari  sehingga diperoleh pengertian-pengertian.
4.    Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasainya.
5.    Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi saling pengaruh secara dinamis antara siswa dengan lingkunganya.
6.    Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan.
7.    Belajar dikatan berhasil apabila telah sanggup menerapkan kedalam bidang praktek sehari-hari.


Belajar diperlukan aktivitas, karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat (learning by doing), berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas, oleh karena itu, aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi pembelajaran. Aktivitas belajar memiliki beberapa prinsip yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yakni menurut pandangan jiwa lama dan pandangan ilmu jiwa modern.

Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas didominasi oleh siswa. Pada pandangan ilmu kiwa modern menerjemahkan jiwa manusia itu sebagai sesuatu yang dinamis, memiliki potensi, dan energy sendiri. Oleh karena itu dalam belajar siswa harus aktif agar potensinya berkembang. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh  Sardiman  (2003:  99)”.  Bahwa  belajar  adalah  berbuat  dan  sekaligus merupakan proses yang membuat anak didik harus aktif”. Dalam kegiatan belajar terdapat dua aktivitas yaitu aktivitas fisik dan aktivitas mental. Kedua aktivitasini harus selalu berkait, artinya harus terjadi keserasian antara kedua aktivitas tersebut agar hasil belajar  yang dihasilkan optimal. Hal ini seperti  yang dikemukakan Sardiman (2003: 100).

Pembelajaran sebagai suatu sistem yang melibatkan komponen-komponen pembelajaran  yang  meliputi  tujuan,  subyek  belajar,  materi  pelajaran,  strategi pembelajaran,  media  pembelajaran,  dan  penunjang  merupakan  suatu  kesatuan yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sehubungan dengan pembelajaran maka akan terjadi proses belajar, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan sekitar dan akan diaktualisasikan dengan perilaku sehari-hari. Pembelajaran merupakan salah satu wujud kegiatan pendidikan di sekolah. Kegiatan pendidikan di sekolah berfungsi membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa agar tumbuh kea rah positif. Maka cara belajar di sekolah harus terarah pada pencapain ketuntasan. Melalui system pembelajaran di sekolah, siswa melakukan kegiatan belajar dengan tujuan akan terjadi perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Menurut Suprijono (2012: 13) : Pembelajaran berdasarkan makna leksikal berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Pada pengajaran, guru mengajar dan siswa  belajar,  sementara  pada  pembelajaran  guru  mengajar  diartikan  sebagai upaya guru mengorganisir lingkungan terjadinya pembelajaran. Guru mengajar dalam perspektif pembelajaran adalah menyediakan fasilitas belajar bagi siswa untuk mempelajarinya. Jadi, subjek pembelajaran adalah siswa, dengan kata lain pembelajaran berpusat pada siswa. Pembelajaran adalah dialog interaktif. Pembelajaran merupakan proses organik dan konstruktif, bukan mekanis seperti halnya pengajaran.

Sementara itu, Briggs dalam Anni (2009:19) menyatakan bahwa:

Pembelajaran merupakan seperangkat peristiwa yang mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga siswa itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Selanjutnya, Djamarah (2010:41) “…menyatakan bahwa pembelajaran adalah suatu sistem yang mengandung sejumlah komponen, yaitu : Tujuan, bahan pelajaran, Kegiatan belajar mengajar, Metode, Alat, Sumber pelajaran, dan Evaluasi”.

Tujuan dalam pembelajaran berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Isi  tujuan  pengajaran  pada  hakekatnya  adalah  hasil  belajar  yang  diharapkan. Bahan pelajaran merupakan isi kegiatan pembelajaran yang mewarnai tujuan dan mendukung tercapainya tingkah laku yang diharapkan untuk dimiliki oleh siswa. Metode dan alat berfungsi sebagai metode transformasi pelajaran terhadap tujuan yang akan dicapai metode dan alat yang digunakan hurus betul-betul efektif dan efisien agar diperoleh hasil belajar yang optimal.

Dalam  kegiatan  pembelajaran,  siswa adalah  sebagai  subyek  sekaligus  sebagai obyek dari kegiatan pembelajaran. Inti proses pembelajaran tidak lain adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan tercapai jika siswa belajar secara aktif dalam proses pembelajaran.

Media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang berarti perantara atau pengantar. Menurut Gagne dalam Susilana dan Riyana (2008:6): “… media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar”. Hal senada juga diutarakan oleh Miarso, dalam Susilana dan Riyana (2008:6): “…media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa untuk belajar”.

Berdasarkan pendapat kedua tokoh di atas media memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran, sehingga dapat disimpulkan bahwa media adalah objek yang dapat digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan berupa materi pembelajaran dari guru agar pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh siswa sehingga siswa tergerak untuk belajar. Namun batasan media yang berbeda dikemukakan oleh NEA (National Education Association), dalam Susilana dan Riyana (2008:5): “…media adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio-visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya”. Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa video, animasi, buku dan koleksi cetak lain seperti foto, maupun perangkat keras seperti komputer dan projector, merupakan beberapa contoh dari media pembelajaran.

Media tidak dapat dipersempit sebagai alat atau bahan saja, akan tetapi media juga berarti hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan. Sebagaimana disebutkan Gerlach dan Ely dalam Sanjaya  (2006:163) yang menyatakan: ‘” medium, conceived is any person, material or event that established condition which enable the learner to acquire knowledge, skill and attitude”.

Menurut Gerlach dan Ely, media itu secara umum meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sehingga dalam pengertian ini, media bukan hanya alat perantara seperti TV, radio, slide, bahan cetak, video, maupun animasi saja, tetapi meliputi manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan seperti halnya karya wisata, seminar, dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa atau untuk menambah keterampilan. Namun jika alat atau kegiatan tersebut tidak mengandung unsur pembelajaran maka tidak dapat dikatakan sebuah media pembelajaran.

Pada proses pembelajaran, seorang guru harus dapat menguasai dan memilih media pembelajaran yang tepat untuk digunakan pada proses pembelajaran. Hal tersebut bertujuan agar materi pembelajaran yang diberikan akan diterima dengan baik oleh siswa, sehingga proses pembelajaran akan berlangsung efektif.

Sebagaimana dipaparkan oleh Sudjana dan Rivai (2011:3): “ ..penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran”. Kemudian ditambahkan oleh Susilana dan Riyana (2008:4) bahwa:

Dalam bentuk komunikasi pembelajaran manapun sangat dibutuhkan peran media untuk lebih meningkatkan tingkat keefektifan pencapaian tujuan/kompetensi. Artinya, proses pembelajaran tersebut akan terjadi apabila ada komunikasi antara penerima pesan dengan sumber/penyalur pesan lewat media tersebut”.


Media pembelajaran berfungsi untuk memudahkan guru dalam menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Namun walaupun demikian, media tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu guru, namun juga sebagai pembawa materi atau pesan dari guru dalam memberikan materi pembelajaran kepada siswa. Oleh karena itu, media perlu dirancang dan dipersiapkan dengan memperhatikan ciri-ciri dan karakteristik dari sasaran dan kesesuaian dengan tujuan instruksional yang telah ditetapkan.

Multimedia Presentasi berbantuan aplikasi I-Spring Presenter sebagai Media Pembelajaran

Pengaruh perkembangan teknologi yang melaju pesat semakin terasa di berbagai aspek kehidupan, tidak dapat disangkal lagi, dewasa ini  penggunaan perangkat komputer sudah kian menyatu dengan kehidupan manusia, tidak terkecuali pada dunia pendidikan. Dalam kegiatan pembelajaran, peranan media sudah dirasakan banyak membantu tugas guru dalam menyampaikan isi pembelajaran. Salah satu media pembelajaran yang sering dijumpai kini adalah teknologi multimedia yang tersedia melalui perangkat komputer. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Syaodih dalam Darmawan (2007:49): “teknologi dalam bidang pendidikan meliputi dua bentuk, yakni dalam bentuk perangkat lunak dan perangkat keras”.

Perubahan yang terjadi di masyarakat dan kebutuhan yang besar akan informasi menuntut dunia pendidikan untuk lebih maju dalam mengembangkan kualitas pengajaran. Tidak dapat diragukan lagi peranan teknologi sebagai media pendidikan dinilai mampu untuk membantu guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri, salah satunya dengan cara menerapkan pembelajaran berbasis multimedia. Sebagaimana dikemukakan oleh Darmawan (2007:51): “…sistem pembelajaran berbasis multimedia dapat menyajikan materi pembelajaran yang lebih menarik, tidak monoton, dan mempermudah penyampaian”.

Adapun makna dari pembelajaran berbasis multimedia itu sendiri dikemukakan oleh Susilana dan Riyana (2008:21): “…multimedia merupakan suatu sistem penyampaian dengan menggunakan berbagai jenis bahan belajar yang membentuk suatu unit atau paket”. Dikutip dari Darmawan (2007:51): “…secara umum multimedia diartikan sebagai kombinasi teks, gambar, seni grafik, animasi, suara dan video”. Hal senada diungkapkan oleh Hoftstetter, dalam Suyanto (2003:21) yang menegaskan “…multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi dan berkomunikasi”. Sedangkan batasan media dalam multimedia yang berbeda dikemukakan oleh Turban et.al dalam Suyanto (2003:21): ‘:..multimedia adalah kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output dari data, media ini dapat berupa audio (suara, musik), animasi, video, teks grafik, dan gambar”. Berdasarkan beberapa pemaparan tersebut, informasi yang didapat dari pembelajaran berbasis multimedia bukan hanya dapat dilihat melalui bentuk cetaknya saja, melainkan juga dapat didengar dan memiliki nilai seni grafis yang tinggi dari penyajiannya.

Banyak literatur yang menjelaskan peran dari pembelajaran berbasis multimedia. Dikutip dari penelitian Computer Technology and Research (CTR), dalam Suyanto (2003:18) bahwa: ‘seseorang hanya   mampu   mengingat   20%   dari   yang   dilihat   dan   30% dari yang didengar. Tetapi orang dapat mengingat 50% dari yang dilihat dan didengar, serta 80% dari yang dilihat, didengar dan dilakukan sekaligus’. Penelitian  tersebut  menjelaskan  pengaruh  multimedia   sangat  besar, dimana isi pesan yang disampaikan  dari pemberi pesan  terhadap  penerima   pesan    tersebut   akan terasa   lebih   tegas  dan  jelas. Demikian halnya dengan penelitian   yang dilakukan oleh Jacobs dan Schade dalam Munir (2010:232), dimana hasilnya pun menunjukkan: “…daya ingat seseorang yang hanya membaca saja memberikan presentase terendah, yaitu 1%. Daya ingat ini dapat ditingkatkan hingga 25%-30% dengan bantuan media lain seperti televisi. Daya ingat makin meningkat dengan penggunaan 3 dimensi seperti multimedia, hingga 60%”.

Adapun  beberapa kelebihan dari multimedia dipaparkan oleh Susilana dan Riyana (2008:21), yaitu:
a.     Siswa memiliki pengalaman yang beragam dari segala media.
b.    Dapat menghilangkan kebosanan siswa karena media yang digunakan lebih bervariasi.
c.     Sangat baik untuk kegiatan belajar mandiri.

Namun dibalik keunggulan tersebut, bukan berarti media ini tidak miliki kekurangan. Adapun beberapa kekurangan dari multimedia sebagaimana dikutip dari Susilana dan Riyana (2008:22), yaitu: “…biayanya cukup mahal, dan memerlukan perencanaan yang matang dan tenaga yang profesional”.

Telah banyak pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia, salah satunya yaitu iSpring Presenter. ISpring Presenter   merupakan salah satu tool yang mengubah file presentasi menjadi bentuk  flash    dan  bentuk    SCORM/AICC,  yaitu  bentuk  yang biasa  digunakan  dalam pembelajaran dengan e-learning LMS (Learning management System). Perangkat lunak Ispring tersedia dalam versi free (gratis) dan berbayar. Versi free Ispring  dapat di download di http://www.ispringfree.com/download.html.
Ispring Presenter   secara mudah dapat diintegrasikan dalam  Microsoft  Powerpoint sehingga penggunaannya tidak membutuhkan keahlian yang rumit. Beberapa fitur Ispring Presenter  adalah :
1.    Ispring Presenter bekerja sebagai add-ins PowerPoint, untuk menjadikan file PowerPoint lebih menarik dan interaktif berbasis Flash dan dapat dibuka di hampir setiap komputer atau platform.
2.    Dikembangkan untuk mendukung e-learning. Ispring Presenter dapat menyisipkan berbagai  bentuk  media, sehingga  media pembelajaran yang dihasilkan akan lebih menarik, diantaranya adalah dapat merekam dan sinkronisasi video presenter, menambahkan Flash dan video You Tube, mengimpor atau merekam audio, menambahkan informasi pembuat presentasi dan logo perusahaan, serta membuat navigasi dan desain yang unik.
3.    Mudah didistribusikan dalam format flash,  yang dapat digunakan dimanapun dan dioptimalkan untuk web.
4.    Membuat kuis dengan berbagai jenis pertanyaan/soal yaitu : True/False, Multiple Choice, Multiple response, Type In, Matching, Sequence, numeric, Fill in the Blank, Multiple Choice Text.
Output yang dapat dihasilkan ISpring Presenter berekstensi SWF, EXE, dan HTML, sehingga pengguna dapat membuka file dengan menggunakan software pendukung seperti flash player, selain itu file ISpring Presenter ini juga dapat di-upload ke dalam halaman web.

D.           Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan pendidikan MTs Al-Manaar Muhammadiyah Pameungpeuk Garut,  bertujuan untuk menemukan pengaruh penggunaan multimedia presentasi terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar  siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak pokok bahasan Akhlak Terpuji Kepada Diri Sendiri. Penelitian menempatkan multimedia presentasi sebagai suplemen dalam penyampaian bahan ajar yang bertujuan untuk menemukan pengaruh penggunaan multimedia presentasi dengan peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Akidah Akhlak, maka peneliti melakukan  penelitian kuantitatif.

“Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan”, Sugiyono (2013;8).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen atau eksperimen semu. Penelitian quasi eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari “sesuatu” yang dikenakan pada subjek selidik. Fraenkel dan  Wallen (2010:271) dan  Creswell (2008:313)  Quasi-experimental designs do not include the use of random assignment. Researchers who employ these design rely instead on other techniques to control (or at least reduce) threats to internal validity. We shall describe some of these techniques as we discuss several quasi-experimental designs.

Untuk melaksanakan eksperimen secara murni maka variable yang mungkin berpengaruh dan mempengaruhi variabel bebas harus dapat dikontrol dengan ketat. Pengontrol yang ketat hanya mungkin dilakukan dalam eksperimen di laboratorium. Mengingat penelitian ini bukan dalam kondisi laboratorium tapi dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, sehingga tidak dimungkinkan untuk mengontrol semua variable bebas dan terikat secara ketat, maka bentuk penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi Eksperimen)

E.       Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2013:148). Instrumen penelitian merupakan semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis. Jadi semua alat yang bisa mendukung suatu penelitian bisa disebut instrumen penelitian.
Dalam penelitian ini, instrument yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini antara lain:

1.    Angket Motivasi
Penyebaran angket bertujuan mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dari responden tanpa khawatir responden memberi jawaban yang tidak sesuai. Adapun angket yang digunakan adalah angket terstruktur, yaitu angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa agar responden diminta  untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberikan tanda checklist (√).

Angket yang peneliti buat untuk keperluan penelitian yaitu untuk mengetahui motivasi siswa setelah mendapat perlakuan menggunakan Multimedia Presentasi

Dalam konteks penelitian ini, instrumen penelitiannya merupakan suatu hal yang baru. Oleh karena itu, peneliti merancang instrumen tersebut sedemikian rupa dengan memperhatikan prosedur  pembuatan instrumen Angket dan item pernyataan yang dikembangkan oleh Likert.

Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial (Riduwan, 2008:12). Dengan menggunakan skala likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi aspek, aspek ini dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator dan indikator ini yang dijadikan titik tolak untuk membuat item instrumen penelitian yang berupa pertanyaan (Sundayana, 2014:9). Skala likert tersusun atas beberapa pernyataan positif dan pernyataan negatif. Skala likert digunakan untuk mengetahui motivasi belajar. Instrumen skala Likert ini terdiri atas 20 butir soal dengan 5 pilihan jawaban. Sebelum melakukan uji instrumen, maka peneliti perlu membuat kisi-kisi instrumen, sehingga akan mempermudah dalam melakukan penelitian.

2.    Tes Tertulis
Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengukuran, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Tes tulis digunakan untuk mengukur hasil belajar. Instrumen tes tulis ini terdiri atas pilihan ganda yang terdiri dari 20 soal dengan empat pilihan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar