PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha
sadar
dan
terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran, agar siswa
secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan,
pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan
Negara.
Sebagai
usaha sadar, untuk meningkatkan kualitas pendidikan seorang
guru
tentunya memerlukan strategi dan
metode penyampaian materi yang tepat dalam mendesain suatu
kegiatan pembelajaran yang dapat merangsang motivasi siswa dalam belajar sehingga didapatkan
output
yang diharapkan
berupa hasil belajar yang
sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan
Menengah
menjelaskan bahwa:
Standar Proses meliputi
perencanaan proses
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian
hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Mengingat keragaman latar belakang dan karakteristik siswa, serta tuntutan
untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, proses pembelajaran untuk
setiap mata pelajaran harus fleksibel, bervariasi, dan memenuhi standar.
Proses pembelajaran
pada setiap satuan pendidikan dasar dan
menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
dan memotivasi siswa
untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa
(BSNP, 2007: 6).
Di era
globalisasi saat ini, untuk merealisasi Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan
Menengah tersebut, banyak sekali teknologi
multimedia yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah, perpustakaan
yang lengkap dengan buku-buku yang terbaru sebagai pusat sumber belajar, demikian
juga pemanfaatan dan penerapan media pembelajaran lainnya yang sedang digalakkan,
yaitu berbagai macam multimedia yang cocok dengan situasi dan kondisi saat ini.
Seperti
diketahui, Multimedia merupakan perpaduan
antara berbagai
media
(format file)
yang berupa teks, gambar, grafik, musik, animasi, video, interaksi dan lain-lain, yang telah dikemas menjadi file
digital (komputerisasi), serta digunakan untuk menyampaikan pesan kepada
pengguna. Sedangkan interaktif berkaitan dengan
proses komunikasi dua arah atau
lebih dari komponen-komponen
komunikasi. Komponen komunikasi dalam multimedia interaktif adalah hubungan antara manusia
sebagai user/pengguna dengan komputer sebagai alat yang
memberikan informasi.
Teknologi
multimedia telah menjanjikan
potensi besar
dalam merubah
cara seseorang untuk belajar,
untuk memperoleh informasi, menyesuaikan
informasi dan sebagainya. Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik
untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga
menghasilkan hasil yang maksimal. Demikian juga bagi siswa, dengan multimedia diharapkan
mereka akan lebih mudah untuk menentukan
dengan apa
dan bagaimana menyerap informasi secara cepat dan efisien. Oleh karena
itu,
kehadiran multimedia
dalam proses belajar menjadi
sangat bermanfaat
dan dibutuhkan.
Media pembelajaran mempunyai dua komponen, yaitu hardware dan
software serta mempunyai bentuk-bentuk baik teks, audio, visual,
gambar, dan animasi sehingga
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta
perhatian siswa sedemikian rupa
sehingga proses belajar terjadi. Untuk
mengembangkan media
pembelajaran perlu diperhatikan prinsip VISUALS, yang
dapat digambarkan sebagai singkatan dari kata-kata: Visible: mudah
dilihat, Interesting: menarik, Simple:
sederhana, Useful: isinya
berguna/bermanfaat, Accurate: Benar (dapat dipertanggungjawabkan), Legitimate: masuk akal/sah, Structured: terstruktur/tersusun
dengan
baik (Nurseto, 2011).
Kenyataan yang terjadi saat ini, berdasarkan temuan di lapangan menunjukkan bahwa,
pembelajaran
Akidah Akhlak sangat dipengaruhi adanya sarana penunjang media, sumber buku yang ada
di sekolah,
kemampuan guru dalam mengembangkan metode dan media. Sarana dan prasarana yang
berteknologi masih kurang maksimal dalam
penerapannya, sehingga untuk menyampaikan materi pembelajaraan kurang
maksimal.
Selanjutnya, permasalahan kemampuan guru
dalam
mengembangkan
metode dan media serta kesulitan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang partisipatif terjadi pada
pembelajaran Akidah Akhlak dalam materi Akhlak Terpuji kepada
Diri Sendiri.
Hasil observasi dalam proses pembelajaran
Akidah Akhlak ketika pelaksanaan pembelajaran
berlangsung masih
dijumpai kendala, yaitu siswa kesulitan
memahami konsep Tawakal, Ikhtiar, Sabar, Syukur, dan Qona’ah yang dipelajarinya. Peran siswa tampak belum secara
optimal diperlakukan sebagai subjek
didik yang
memiliki potensi untuk berkembang secara mandiri. Posisi siswa masih dalam situasi dan kondisi
belajar yang menempatkan siswa dalam keadaan pasif. Penguasaan konsep siswa dalam pembelajaran Akidah Akhlak masih sangat kurang sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa rendah.
Hal
tersebut dikarenakan guru mengajar kurang
menarik, belum memaksimalkan model pembelajaran
yang
inovatif dan juga
belum menggunakan media
dalam pembelajaran
secara maksimal. Hal ini mengakibatkan siswa kurang menguasai konsep dari
kegiatan pembelajaran yang disampaikan.
Lebih lanjut, berdasarkan pengamatan sementara penggunaan
multimedia interaktif untuk pembelajaran di MTs Al-Manaar
Muhammadiyah
masih jarang. sehingga hasil siswa dari
tahun ke tahun tidak memuaskan. Di samping
itu prestasi siswa dari tahun ke tahun tidak memuaskan, padahal para siswa lebih
antusias apabila belajar dengan menggunakan komputer.
Untuk mengantisipasi permasalahan yang terjadi di atas, penggunaan
multimedia merupakan salah satu jalan keluarnya. Pendapat tentang manfaat media pembelajaran dikemukakan oleh Dale (Latuheru 1988: 23), bahwa apabila
media pembelajaran digunakan dengan baik dalam proses belajar mengajar, maka ada beberapa manfaat yang
dapat diperoleh: (1) perhatian siswa terhadap
materi pelajaran akan lebih tinggi, (2)
siswa mendapat pengalaman yang
lebih kongkrit, (3) mendorong siswa untuk berani bekerja secara mandiri, (4)
hasil yang diperoleh oleh siswa sulit untuk dilupakan”. Secara garis
besar
media pembelajaran memiliki manfaat dalam memudahkan siswa
mempelajari materi pelajaran. Media pembelajaran yang
digunakan harus
dapat menarik perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih
merangsang
kegiatan belajar siswa. Penerapan media pembelajaran ini harus didukung
oleh ketersediaan sumber belajar yang mudah diakses dan
memiliki konten yang interaktif. Salah satu
media
pembelajaran
yang dapat dikembangkan adalah
Multimedia Presentasi.
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Filosofis
Seorang guru dalam menggunakan media
pembelajaran perlu memperhatikan landasan filosofis. Artinya, penggunaan media
semestinya didasarkan pada nilai kebenaran yang telah ditemukan dan disepakati
banyak orang baik kebenaran akademik maupun kebenaran sosial. Misalnya, isi pesan (materi
pelajaran) yang disampaikan kepada siswa seharusnya sudah merupakan kebenaran
yang teruji secara obyektif, radikal dan empiris. Jangan sampai materi
pelajaran masih salah, tidak baik, dan tidak indah yang disampaikan kepada
peserta didik. Misalnya, guru mengajarkan tentang sejarah kebudayaan islam
(SKI) dengan materi silsilah Nabi Muhammad SAW. Seorang guru perlu mengecek
unsur kebenaran historis silsilah tersebut sebelum disampaikan kepada peserta
didik. Proses inilah yang disebut penggunaan landasan filosofis dalam memilih
isi dan media pembelajaran.
Media yang digunakan guru juga perlu
dicek kembali kebenaran dan ketepatannya. Guru yang memilih media belum sesuai
dengan materi yang akan disampaikan berarti media tersebut tidak benar. Tidak
bagus, dan tidak indah artinya penggunaan media yang tidak tepat belum
mempertimbangkan landasan filosofis.
Landasan filosofis Pendidikan
teknologi bertumpu pada asumsi bahwa model pendidikan itu hendaknya merupakan
suatu bentuk atau contoh utama dari masyarakat yang lebih luas sebagai hasil
karya dari pendidikan. Dalam proses belajar-mengajar, multinedia presentasi
menitik beratkan pada kemampuan siswa secara individual dimana materi disusun
berdasarkan tingkat kesiapan sehingga siswa menunjukkan perilaku tertentu yang
diharapkan.
B.
Teori yang Melandasi Penggunaan
Multimedia
Munculnya pengembangan
multimedia
tidak bisa lepas dari teori belajar
yang melandasinya. Teori-teori belajar memberikan dasar berpijak dalam membangun suatu pola
pikir sistematis dalam pembelajaran, sehingga
produk-produk pengembangan yang dihasilkan dapat diaplikasikan dalam
pembelajaran secara
optimal. Ada banyak teori yang melandasi pikiran tentang proses pembelajaran termasuk
penggunaan multimedia sebagai
sumber
pembelajaran. Hainich, Molenda and Russell
(1996:15-18)
mengungkapkan bahwa paling
tidak ada tiga perspektif pada teori pembelajaran, yaitu: behaviourist perspective, cognitive
perspective, dan
constructivist perspektive. Masing-masing teori tersebut memiliki sudut
pandang
yang
khas dalam
menjelaskan pengertian dan hakikat belajar
dan pembelajaran, akan tetapi
semuanya saling
melengkapi dan
memiliki dampak pedagogis yang relatif sama.
Adapun teori belajar
yang melandasi penulisan tesis ini adalah teori konstruktivistik. Teori konstruktivistik berpendapat bahwa
belajar
bukanlah
sekedar menghafal akan tetapi, proses
pengkonstruksi pengetahuan
melalui pengalaman (Wina Sanjaya, 2008:246). Senada dengan pendapat tersebut, Asri
Budiningsih (2005:58) mengemukakan
bahwa belajar merupakan
suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus
dilakukan oleh si belajar. Ia harus
aktif melakukan kegiatan,
aktif berpikir, menyususn konsep, dan
memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
Pradigma konstruktivistik memandang peserta didik sebagai
pribadi yang sudah memiliki
kemampuan awal sebelum
mempelajari sesuatu. Kemampuan
awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi
pengetahuan
yang baru. Oleh sebab
itu meskipun kemampuan awal tersebut
masih sangat sederhana
atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya
diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.
Sesuai dengan karakteristik proses pembelajaran konstruktivistik, mempunyai implikasi
terhadap pengembangan multimedia
interaktif
dalam
hal:
(1) proses pembelajaran harus menjadi sebuah proses yang aktif yang
difokuskan pada peserta didik, untuk itu memerlukan
suatu media pembelajaran yang memadai; (2) penekanan pembelajaran lebih pada pembentukan pengetahuan melalui pengalaman belajar peserta
didik;
dan
(3) proses pembelajaran harus dapat membangkitkan belajar peserta didik baik secara individual maupun belajar secara kooperatif untuk menemukan suatu pengetahuan.
C. Kedudukan
Multimedia dalam Proses Pembelajaran
Belajar adalah mengumpulkan sejumlah
pengetahuan. Belajar merupakan suatu proses yang berlangsung seumur hidup,
dalam belajar terjadi perubahan baik tingkah
laku, sikap dan
cara berpikir. Pendapat
Hamalik (2002) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu bentuk
pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara
bertingkah laku berkat pengetahuan dan latihan. Disini guru harus mengantarkan
siswanya untuk memperoleh dan menghasilkan perubahan tingkah laku tersebut. Good dan Brophy dalam Uno (2008: 15)
menyatakan bahwa “belajar merupakan suatu proses atau interaksi yang dilakukan
seseorang dalam memperoleh sesuatu yang baru dalam bentuk perubahan perilaku
sebagai hasil dari pengalaman itu sendiri.
Menurut Solihatin (2012: 5) :Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat
interaksi individu dengan
lingkungan.
Proses perubahan perilaku ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi ada yang sengaja
direncanakan dan ada yang dengan sendirinya terjadi karena proses kematangan.
Proses
yang sengaja direncanakan
agar terjadi
perubahan perilaku ini disebut dengan proses belajar. Proses ini merupakan aktivitas yang terjadi dalam interaksi
aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan yang relatif
berbekas dan
konstan.
Slameto (2003: 2) berpendapat bahwa” belajar
adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya
sendiri sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya”. Pendapat senada
dikemukakan Uno (2008) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Belajar adalah suatu proses yang terjadi pada manusia dengan
berpikir, merasa dan bergerak untuk memahami setiap kenyataan yang
diinginkannya untuk menghasilkan sebuah perilaku, pengetahuan, teknologi atau
apapun yang berupa karya dan karsa manusia tersebut. Belajar berarti sebuah
pembaharuan menuju pengembangan diri individu agar kehidupanya bisa lebih baik
dari sebelumnya. Belajar juga dapat diartikan sebagai adaptasi terhadap
lingkungan dan interaksi seorang manusia dengan lingkungan tersebut. Definisi
belajar oleh Gagne hampir sama dengan definisi belajar yang dikatakan Crow
dalam (Sagala, 2005: 13) belajar adalah upaya memperoleh kebiasaan-kebiasaan,
pengetahuan, dan sikap-sikap. Belajar merupakan siatu proses perubahan perilaku
atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu. Belajar
menghasilkan perubahan perilaku yang secara relatif tetap dalam berfikir,
merasa dan melakukan.
Perubahan tersebut terjadi sebagai hasil
latihan, pengalaman, dan pengembangan. Jadi belajar menghasilkan perubahan
perilaku dalam diri peserta didik. Perubahan tigkah laku inilah sebagai
pencerminan dari hasil belajar. Belajar dikatakan berhasil manakala seseorang
mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajari,belajar seperti ini
disebut “rote learning”. Kemudian jika yang telah dipelajari itu mampu
disampaikan dan diekspresikan bahasa sendiri maka disebut “over learning”.
Sedangkan pengertian belajar menurut John
Dewey dalam (Sujana, 2000: 19) adalah interaksi antara stimulus dengan respon,
merupakan hubungan dua arah antara belajar dan lingkungannya. Hal ini berarti
bahwa dalam belajar siswa akan menerima stimulus dari lingkungan berupa masalah
dan lingkungan pun akan member
bantuan-bantuan yang kemudian
ditafsirkan oleh system
syaraf otak secara efektif
sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis serta
dicari pemecahanya. Inti dari belajar adalah suatu proses perubahan tingkah
laku secara sadar yang menyangkut aspek-aspek pengetahuan,pengertian, sikap,
keterampilan, kebiasaan dan sebagainya yang dapat dilakukan dengan memberi
stimulus-stimulus maupun pengalaman-pengalaman selama proses belajar
berlangsung.
Secara fundamental Dollar dan Miller dalam
(Rusyan, 2000: 164) menegaskan bahwa keefektifan perilaku belajar itu dipengaruhi
oleh empat hal yaitu adanya:
1.
Motivasi,
dimana siswa harus menghendaki sesuatu (the learner must want something)
2.
Perhatian dan
mengetahui sasaran, dimana
siswa harus memperhatikan
sesuatu (the learner must notice something)
3.
Usaha,
dimana siswa harus melakukan sesuatu (the learner must do something)
4.
Evaluasi
dan pemantapan hasil, dimana siswa harus memperoleh sesuatu (the learner must
get something)
Proses belajar adalah suatu hal yang kompleks, tetapi dapat juga dianalisa dan
diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip atau asas-asas belajar (Aqib 2002:
44-45). Hal ini perlu kita ketahui agar kita memiliki pedoman dan tehnik
belajar yang baik. Prinsip-prinsip itu adalah :
1.
Belajar harus
bertujuan dan terarah.
Tujuan akan menuntutnya
dalam belajar untuk mencapai harapan-harapan.
2.
Belajar
memerlukan bimbingan, baik dari bimbingan guru maupun buku pelajaran itu
sendiri.
3.
Belajar memerlukan
pemahaman atas hal-hal
yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian.
4.
Belajar
memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat
dikuasainya.
5.
Belajar
adalah suatu proses aktif dimana terjadi saling pengaruh secara dinamis antara
siswa dengan lingkunganya.
6.
Belajar
harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan.
7.
Belajar
dikatan berhasil apabila telah sanggup menerapkan kedalam bidang praktek
sehari-hari.
Belajar diperlukan aktivitas, karena pada
prinsipnya belajar adalah berbuat (learning by doing), berbuat untuk mengubah
tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada
aktivitas, oleh karena itu, aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat
penting di dalam interaksi pembelajaran. Aktivitas belajar memiliki beberapa
prinsip yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yakni menurut pandangan
jiwa lama dan pandangan ilmu jiwa modern.
Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas
didominasi oleh siswa. Pada pandangan ilmu kiwa modern menerjemahkan jiwa
manusia itu sebagai sesuatu yang dinamis, memiliki potensi, dan energy sendiri.
Oleh karena itu dalam belajar siswa harus aktif agar potensinya berkembang. Hal
ini seperti yang dikemukakan oleh
Sardiman (2003: 99)”.
Bahwa belajar adalah
berbuat dan sekaligus merupakan proses yang membuat anak
didik harus aktif”. Dalam kegiatan belajar terdapat dua aktivitas yaitu
aktivitas fisik dan aktivitas mental. Kedua aktivitasini harus selalu berkait,
artinya harus terjadi keserasian antara kedua aktivitas tersebut agar hasil
belajar yang dihasilkan optimal. Hal ini
seperti yang dikemukakan Sardiman (2003:
100).
Pembelajaran sebagai suatu sistem yang
melibatkan komponen-komponen pembelajaran
yang meliputi tujuan,
subyek belajar, materi
pelajaran, strategi
pembelajaran, media pembelajaran,
dan penunjang merupakan
suatu kesatuan yang mempunyai
hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Sehubungan dengan pembelajaran maka akan terjadi proses belajar,
yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan sekitar
dan akan diaktualisasikan dengan perilaku sehari-hari. Pembelajaran merupakan
salah satu wujud kegiatan pendidikan di sekolah. Kegiatan pendidikan di sekolah
berfungsi membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa agar tumbuh kea rah
positif. Maka cara belajar di sekolah harus terarah pada pencapain ketuntasan.
Melalui system pembelajaran di sekolah, siswa melakukan kegiatan belajar dengan
tujuan akan terjadi perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik.
Menurut Suprijono
(2012: 13) : Pembelajaran berdasarkan makna leksikal
berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Pada pengajaran, guru mengajar
dan siswa belajar,
sementara pada pembelajaran guru
mengajar
diartikan sebagai upaya guru mengorganisir lingkungan terjadinya pembelajaran. Guru mengajar
dalam perspektif pembelajaran adalah menyediakan fasilitas belajar bagi siswa untuk mempelajarinya. Jadi, subjek pembelajaran adalah siswa, dengan kata lain pembelajaran berpusat pada siswa. Pembelajaran adalah dialog
interaktif. Pembelajaran merupakan proses organik dan konstruktif,
bukan mekanis seperti halnya pengajaran.
Sementara itu, Briggs dalam
Anni (2009:19) menyatakan bahwa:
Pembelajaran merupakan seperangkat
peristiwa yang mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga
siswa itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Selanjutnya, Djamarah (2010:41) “…menyatakan bahwa
pembelajaran
adalah
suatu sistem yang mengandung sejumlah komponen, yaitu
: Tujuan, bahan pelajaran,
Kegiatan belajar mengajar,
Metode, Alat, Sumber pelajaran,
dan Evaluasi”.
Tujuan dalam pembelajaran berfungsi sebagai
indikator keberhasilan pengajaran. Isi
tujuan pengajaran pada
hakekatnya adalah hasil
belajar yang diharapkan. Bahan pelajaran merupakan isi
kegiatan pembelajaran yang mewarnai tujuan dan mendukung tercapainya tingkah
laku yang diharapkan untuk dimiliki oleh siswa. Metode dan alat berfungsi
sebagai metode transformasi pelajaran terhadap tujuan yang akan dicapai metode
dan alat yang digunakan hurus betul-betul efektif dan efisien agar diperoleh
hasil belajar yang optimal.
Dalam
kegiatan pembelajaran, siswa adalah
sebagai subyek sekaligus
sebagai obyek dari kegiatan pembelajaran. Inti proses pembelajaran tidak
lain adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran akan tercapai jika siswa belajar secara aktif dalam proses
pembelajaran.
Media berasal dari bahasa
latin yaitu medium yang berarti perantara atau pengantar. Menurut Gagne
dalam Susilana dan Riyana (2008:6): “… media adalah berbagai jenis komponen
dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar”. Hal senada
juga diutarakan oleh Miarso, dalam Susilana dan Riyana (2008:6): “…media adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan yang dapat merangsang
pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa untuk belajar”.
Berdasarkan pendapat kedua
tokoh di atas media memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran,
sehingga dapat disimpulkan bahwa media adalah objek yang dapat digunakan
sebagai perantara untuk menyampaikan pesan berupa materi pembelajaran dari guru
agar pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh siswa sehingga siswa
tergerak untuk belajar. Namun batasan media yang berbeda dikemukakan oleh NEA (National Education Association), dalam
Susilana dan Riyana (2008:5): “…media adalah sarana komunikasi dalam bentuk
cetak maupun audio-visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya”. Berdasarkan
pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa video, animasi, buku dan koleksi
cetak lain seperti foto, maupun perangkat keras seperti komputer dan projector,
merupakan beberapa contoh dari media pembelajaran.
Media
tidak dapat dipersempit sebagai alat atau bahan saja, akan tetapi media juga
berarti hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan.
Sebagaimana disebutkan Gerlach dan Ely dalam Sanjaya (2006:163) yang menyatakan: ‘” medium, conceived is any person, material
or event that established condition which enable the learner to acquire
knowledge, skill and attitude”.
Menurut
Gerlach dan Ely, media itu secara umum meliputi orang, bahan, peralatan atau
kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan,
keterampilan dan sikap. Sehingga dalam pengertian ini, media bukan hanya alat
perantara seperti TV, radio, slide, bahan cetak, video, maupun animasi saja,
tetapi meliputi manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan
seperti halnya karya wisata, seminar, dan lain sebagainya yang dikondisikan
untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa atau untuk
menambah keterampilan. Namun jika alat atau kegiatan tersebut tidak mengandung
unsur pembelajaran maka tidak dapat dikatakan sebuah media pembelajaran.
Pada
proses pembelajaran, seorang guru harus dapat menguasai dan memilih media
pembelajaran yang tepat untuk digunakan pada proses pembelajaran. Hal tersebut
bertujuan agar materi pembelajaran yang diberikan akan diterima dengan baik
oleh siswa, sehingga proses pembelajaran akan berlangsung efektif.
Sebagaimana
dipaparkan oleh Sudjana dan Rivai (2011:3): “ ..penggunaan media pengajaran
dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas
pengajaran”. Kemudian ditambahkan oleh Susilana dan Riyana (2008:4) bahwa:
Dalam bentuk komunikasi pembelajaran manapun sangat
dibutuhkan peran media untuk lebih meningkatkan tingkat keefektifan pencapaian
tujuan/kompetensi. Artinya, proses pembelajaran tersebut akan terjadi apabila
ada komunikasi antara penerima pesan dengan sumber/penyalur pesan lewat media
tersebut”.
Media pembelajaran
berfungsi untuk memudahkan guru dalam menyampaikan pesan pembelajaran kepada
siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Namun walaupun demikian, media
tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu guru, namun juga sebagai pembawa
materi atau pesan dari guru dalam memberikan materi pembelajaran kepada siswa.
Oleh karena itu, media perlu dirancang dan dipersiapkan dengan memperhatikan
ciri-ciri dan karakteristik dari sasaran dan kesesuaian dengan tujuan
instruksional yang telah ditetapkan.
Multimedia Presentasi berbantuan aplikasi I-Spring Presenter sebagai Media
Pembelajaran
Pengaruh perkembangan teknologi yang melaju
pesat semakin terasa di berbagai aspek kehidupan, tidak dapat disangkal lagi,
dewasa ini penggunaan perangkat komputer
sudah kian menyatu dengan kehidupan manusia, tidak terkecuali pada dunia
pendidikan. Dalam kegiatan pembelajaran, peranan media sudah dirasakan banyak
membantu tugas guru dalam menyampaikan isi pembelajaran. Salah satu media
pembelajaran yang sering dijumpai kini adalah teknologi multimedia yang
tersedia melalui perangkat komputer. Hal
tersebut sejalan dengan pendapat Syaodih dalam Darmawan (2007:49): “teknologi dalam
bidang pendidikan meliputi dua bentuk, yakni dalam bentuk perangkat lunak dan
perangkat keras”.
Perubahan
yang terjadi di masyarakat dan kebutuhan yang besar akan informasi menuntut
dunia pendidikan untuk lebih maju dalam mengembangkan kualitas pengajaran.
Tidak dapat diragukan lagi peranan teknologi sebagai media pendidikan dinilai
mampu untuk membantu guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri,
salah satunya dengan cara menerapkan pembelajaran berbasis multimedia.
Sebagaimana dikemukakan oleh Darmawan (2007:51): “…sistem pembelajaran berbasis
multimedia dapat menyajikan materi pembelajaran yang lebih menarik, tidak
monoton, dan mempermudah penyampaian”.
Adapun
makna dari pembelajaran berbasis multimedia itu sendiri dikemukakan oleh Susilana
dan Riyana (2008:21): “…multimedia merupakan suatu sistem penyampaian dengan
menggunakan berbagai jenis bahan belajar yang membentuk suatu unit atau paket”.
Dikutip dari Darmawan (2007:51): “…secara umum multimedia diartikan sebagai
kombinasi teks, gambar, seni grafik, animasi, suara dan video”. Hal senada
diungkapkan oleh Hoftstetter, dalam Suyanto (2003:21) yang menegaskan
“…multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks,
grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi,
berkreasi dan berkomunikasi”. Sedangkan batasan media dalam multimedia yang
berbeda dikemukakan oleh Turban et.al dalam Suyanto (2003:21): ‘:..multimedia
adalah kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output dari data,
media ini dapat berupa audio (suara, musik), animasi, video, teks grafik, dan
gambar”. Berdasarkan beberapa pemaparan tersebut, informasi yang didapat dari
pembelajaran berbasis multimedia bukan hanya dapat dilihat melalui bentuk
cetaknya saja, melainkan juga dapat didengar dan memiliki nilai seni grafis
yang tinggi dari penyajiannya.
Banyak
literatur yang menjelaskan peran dari pembelajaran berbasis multimedia. Dikutip
dari penelitian Computer Technology and
Research (CTR), dalam Suyanto (2003:18) bahwa: ‘seseorang hanya mampu
mengingat 20% dari
yang dilihat dan
30% dari yang didengar. Tetapi orang dapat mengingat 50% dari yang
dilihat dan didengar, serta 80% dari yang dilihat, didengar dan dilakukan
sekaligus’. Penelitian tersebut menjelaskan
pengaruh multimedia sangat
besar, dimana isi pesan yang disampaikan
dari pemberi pesan terhadap penerima
pesan tersebut akan terasa
lebih tegas dan
jelas. Demikian halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Jacobs dan Schade dalam
Munir (2010:232), dimana hasilnya pun menunjukkan: “…daya ingat seseorang yang
hanya membaca saja memberikan presentase terendah, yaitu 1%. Daya ingat ini
dapat ditingkatkan hingga 25%-30% dengan bantuan media lain seperti televisi.
Daya ingat makin meningkat dengan penggunaan 3 dimensi seperti multimedia,
hingga 60%”.
Adapun beberapa kelebihan dari multimedia dipaparkan
oleh Susilana dan Riyana (2008:21), yaitu:
a.
Siswa
memiliki pengalaman yang beragam dari segala media.
b.
Dapat
menghilangkan kebosanan siswa karena media yang digunakan lebih bervariasi.
c.
Sangat
baik untuk kegiatan belajar mandiri.
Namun dibalik keunggulan tersebut, bukan berarti media
ini tidak miliki kekurangan. Adapun beberapa kekurangan dari multimedia
sebagaimana dikutip dari Susilana dan Riyana (2008:22), yaitu: “…biayanya cukup
mahal, dan memerlukan perencanaan yang matang dan tenaga yang profesional”.
Telah banyak pengembangan media pembelajaran berbasis
multimedia, salah satunya yaitu iSpring
Presenter. ISpring Presenter merupakan salah satu tool yang mengubah file presentasi menjadi
bentuk flash
dan bentuk SCORM/AICC, yaitu
bentuk yang biasa digunakan dalam
pembelajaran dengan e-learning LMS
(Learning management System). Perangkat lunak
Ispring tersedia dalam versi free (gratis) dan berbayar. Versi free Ispring
dapat di download di
http://www.ispringfree.com/download.html.
Ispring Presenter secara mudah dapat diintegrasikan dalam Microsoft Powerpoint
sehingga penggunaannya tidak membutuhkan keahlian yang
rumit. Beberapa fitur Ispring
Presenter adalah :
1.
Ispring Presenter bekerja sebagai add-ins PowerPoint,
untuk menjadikan file PowerPoint lebih
menarik dan
interaktif
berbasis Flash dan dapat dibuka di hampir setiap komputer
atau
platform.
2.
Dikembangkan untuk mendukung e-learning. Ispring Presenter dapat menyisipkan berbagai bentuk media, sehingga media pembelajaran yang dihasilkan akan lebih
menarik, diantaranya adalah dapat merekam dan sinkronisasi video presenter,
menambahkan Flash dan video
You
Tube, mengimpor
atau merekam audio, menambahkan
informasi pembuat presentasi dan
logo
perusahaan,
serta membuat
navigasi dan
desain yang unik.
3.
Mudah didistribusikan dalam format flash,
yang dapat digunakan dimanapun dan
dioptimalkan untuk web.
4.
Membuat kuis dengan berbagai jenis pertanyaan/soal yaitu : True/False, Multiple
Choice, Multiple response, Type In, Matching, Sequence, numeric, Fill in the
Blank, Multiple Choice Text.
Output yang
dapat dihasilkan ISpring Presenter berekstensi
SWF, EXE, dan HTML, sehingga pengguna dapat membuka file dengan menggunakan
software pendukung seperti flash player, selain itu file ISpring Presenter ini juga dapat di-upload ke dalam halaman web.
D.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan
pendidikan MTs Al-Manaar Muhammadiyah Pameungpeuk Garut,
bertujuan untuk menemukan pengaruh
penggunaan
multimedia presentasi terhadap peningkatan
motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak pokok bahasan Akhlak
Terpuji Kepada Diri Sendiri. Penelitian menempatkan multimedia presentasi sebagai
suplemen dalam penyampaian bahan ajar yang bertujuan untuk menemukan pengaruh penggunaan multimedia
presentasi dengan peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran
Akidah Akhlak, maka peneliti melakukan penelitian kuantitatif.
“Penelitian kuantitatif dapat diartikan
sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme,
digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu, teknik pengambilan
sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan
instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan
tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan”, Sugiyono (2013;8).
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah quasi eksperimen atau eksperimen semu. Penelitian
quasi eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada
tidaknya akibat dari “sesuatu” yang dikenakan pada subjek selidik. Fraenkel dan Wallen
(2010:271) dan Creswell (2008:313) “Quasi-experimental
designs do not include the use of random assignment. Researchers who employ
these design rely instead on other techniques to control (or at least reduce)
threats to internal validity. We shall describe some of these techniques as we
discuss several quasi-experimental designs.
Untuk melaksanakan eksperimen secara
murni maka variable yang mungkin berpengaruh dan mempengaruhi variabel bebas
harus dapat dikontrol dengan ketat. Pengontrol yang ketat hanya mungkin
dilakukan dalam eksperimen di laboratorium. Mengingat penelitian ini bukan
dalam kondisi laboratorium tapi dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, sehingga
tidak dimungkinkan untuk mengontrol semua variable bebas dan terikat secara
ketat, maka bentuk penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi Eksperimen)
E.
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat
yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati
(Sugiyono, 2013:148). Instrumen penelitian merupakan semua alat yang digunakan
untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau mengumpulkan,
mengolah, menganalisis dan menyajikan data-data secara sistematis serta
objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis.
Jadi semua alat yang bisa mendukung suatu penelitian bisa disebut instrumen
penelitian.
Dalam penelitian ini, instrument yang
digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini antara lain:
1.
Angket Motivasi
Penyebaran angket bertujuan mencari informasi yang lengkap mengenai
suatu masalah dari responden tanpa khawatir responden memberi jawaban yang
tidak sesuai. Adapun angket yang digunakan adalah angket terstruktur, yaitu
angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa agar responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan
karakteristik dirinya dengan cara memberikan tanda checklist (√).
Angket yang peneliti buat untuk keperluan penelitian yaitu untuk
mengetahui motivasi siswa setelah mendapat perlakuan menggunakan Multimedia
Presentasi
Dalam konteks penelitian ini, instrumen penelitiannya merupakan
suatu hal yang baru. Oleh karena itu, peneliti merancang instrumen tersebut
sedemikian rupa dengan memperhatikan prosedur
pembuatan instrumen Angket dan item pernyataan yang dikembangkan oleh
Likert.
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat persepsi
seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial (Riduwan,
2008:12). Dengan menggunakan skala likert, variabel yang akan diukur dijabarkan
menjadi aspek, aspek ini dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator dan
indikator ini yang dijadikan titik tolak untuk membuat item instrumen
penelitian yang berupa pertanyaan (Sundayana, 2014:9). Skala likert tersusun
atas beberapa pernyataan positif dan pernyataan negatif. Skala likert digunakan
untuk mengetahui motivasi belajar. Instrumen skala Likert ini terdiri atas 20
butir soal dengan 5 pilihan jawaban. Sebelum melakukan uji instrumen, maka
peneliti perlu membuat kisi-kisi instrumen, sehingga akan mempermudah dalam
melakukan penelitian.
2.
Tes Tertulis
Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang
digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengukuran, inteligensi, kemampuan atau
bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Tes tulis digunakan untuk
mengukur hasil belajar. Instrumen tes tulis ini terdiri atas pilihan ganda yang
terdiri dari 20 soal dengan empat pilihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar